Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
165. Mimpi Grael


__ADS_3

"Kalau gitu ... gua sama Gea mau ke kamar Lucy dulu ya, Nggah. Soalnya gua mau maskeran wajah sama mereka, ya kan, Ge?" Alibi Ernata yang langsung bangun dari tempat duduknya lalu mengajak Gea.


"I–iya, betul!" sambung Gea ragu-ragu.


"Loh, wooii! Kok pada pergi?" Rangga di buat bingung sama semua teman-temannya. Dia pun tidak mau ambil pusing dan memilih asik memakan kacang.


Belum juga Gea keluar dari pintu kamar tetapi dia kembali lagi untuk membawa makanan yang ada di kantong plastik itu. "Gua minta boleh kan?"


Ernata menepuk jidatnya saat sahabatnya itu masih aja sempat-sempatnya mengambil makanan di saat keadaan darurat, dia pun menarik kembali tangan Gea agar segera pergi keluar sebelum perang saudara terjadi.


"Dah, sono bawa semua! Ambil aja!" ucap Rangga dengan berbaik hati.


"Thanks, Nggah! Gua ke kamar Lucy dulu ya!" ucap Gea yang kini kedua tangannya penuh dengan makanan cemilan kemudian dia berkata sebelum keluar dari pintu kamar. "Makasih kak Erlangga makanan dan minumannya!"


"Eh, tunggu!" ucap Rangga mencoba mencerna perkataan Gea, lantas tersadar apa yang dimaksud dengan ucapan Gea. "Ahhh ... Shiit!"


Rangga langsung membuka bajunya sebelum dia membalikkan badannya, dia membuang baju itu ke tempat sampah, lantas berbalik dan melihat Erlangga yang sudah berdiri tegap sembari melipat kedua tangannya di depan dada seraya melemparkan tatapan tajam ke arahnya.


"Ha–hai, Kak!" Rangga melambaikan tangan seraya tersenyum canggung.


Kedua bola mata Erlangga langsung memicing dengan sinis saat melihat bagian dada adiknya itu penuh dengan cat loreng berwarna merah kehitaman, dia tahu tanda apa yang menghiasi dada Rangga sampai segitu banyaknya.


Menyadari tatapan sinis dari sang kakak, Rangga langsung melihat ke arah pandangan yang dilihat oleh Erlangga. Deg, seketika jantungnya seakan-akan ingin copot, dia baru menyadari bila ternyata bagian dadanya penuh dengan cap tanda cinta dari Emira. Sontak saja Rangga langsung menutup bagian dada tersebut dengan kedua tangannya yang menyilang.


"Kak ini, bu–bukan seperti yang Lo, kira! Gu–gua sama El ... ini bekas, Emira! Sumpah! Demi Tuhan, ini bekas Emira, bukan El!" ucap Rangga yang begitu gugup, dia mencoba menjelaskan kembali. "Gua berani sumpah, gue sama El, gak ngapa-ngapain! Cuma pelukan doang!"

__ADS_1


Rangga langsung menutup mulutnya saat dia menyadari apa yang telah dia katakan, kakinya perlahan mundur ke arah belakang saat tahu kakaknya mendekat ke arah dia. Langsung saja Rangga melompat melewati bangku sofa ketika Erlangga melayangkan pukulannya.


"Kak, ampun kak! Gua salah, gua minta maaf!" Rangga menghindar dari kejaran Erlangga.


"Ck! Begitukah caramu menjaga Grael? Hah!" Erlangga melempar bantal sofa ke arah Rangga lantas bertanya, "Kenapa dia bisa nangis?"


"Itu, anu ... apa namanya! Ehmmm," ucap Rangga dengan gugup seraya menghindar dari lemparan benda yang Erlangga lempar. "Kakinya kesandung meja!"


"Apa?" Erlangga langsung menghentikan aksinya dan segera melihat ke arah sang istri yang sedang tertidur.


Rangga pun menghela napas leganya, kemudian dia mendekat ke arah Erlangga yang sedang memperhatikan ibu jemari Grael. Lantas menyuruh Rangga membeli obat luka sang istri tapi Rangga justru masih berdiam diri seraya menodongkan tangannya mengisyaratkan bahwa dia meminta upah.


"Ongkos jalan!" Rangga menaikkan kedua alisnya secara berulang kali sembari tersenyum.


Pada saat Rangga pergi, Erlangga pun membawa sang istri untuk pindah kamar. Dia telah memesankan kamar suite room selama menemani istrinya berlibur acara kelulusan, dan dia juga sudah menyerahkan pekerjaannya untuk sementara waktu kepada Yogi.


Selesai Erlangga mandi, dia mengusap halus pipi sang istri hingga membuat sang empu terbangun. Erlangga pun tersenyum lantas mengecup kening istrinya dengan penuh penghayatan, lantas bibir itu kembali mengecup kedua bola mata Grael yang sudah sebab akibat menangis.


"Lucu sekali, ternyata begitu cinta aku sama Erlangga Louis, sampai aku tertidur pun, bermimpi dia datang untukku!" ucap Grael dengan rancauannya.


"Ck! Kenapa kamu mena—"


"Ssst! Ini mimpiku, kamu itu hanya halusinasiku, jadi dilarang bicara, hanya aku yang boleh melakukan semau aku terhadapmu!" Grael menempelkan jari telunjuknya ke bibir Erlangga, dan memainkan bibir tebal itu dengan jemari lentiknya.


Erlangga hanya membiarkan jemari itu terus bermain di area bibirnya menelusuri setiap inci wajahnya, mendengarkan celotehan sang istri jika istrinya begitu mencintai dia. Tidak hanya itu, Erlangga pun mendengar bila sang istri sedih kalau belum bisa memberikan apa yang dia pinta.

__ADS_1


"El, aku tidak mempermasalahkan hal itu, kita masih bisa terus berusaha dan berdoa, Sayang! Aku—"


"Ssstt! Aku bilang ini adalah mimpiku, kamu dilarang berbicara! Hanya aku yang boleh!" Lagi-lagi Grael memarahinya dan membuat Erlangga pasrah akan hal itu.


"Diamlah, Er! Saat ini hanya aku yang berhak atas mimpiku," ucap Grael dengan lirih saat dia mendekati bibir seksi milik suaminya lalu mengecupnya.


Kecupan Grael sangat berarti buat reaksi tubuh Erlangga, dia pun membalas ciuman sang istri hingga menggebu-gebu, ternyata malam ini Grael begitu agresif terhadap tubuhnya. Dia berpikir bila sang istri benar-benar menganggapnya masih dunia mimpi hingga Grael begitu berani menguasai tubuh Erlangga.


Grael membuka bajunya di hadapan Erlangga saat berada di atas tubuh suaminya, dia memberikan senyuman nakal dengan gerakan errotis di atas tubuh sang suami dengan menggoyangkan pinggulnya di atas aset milik suaminya yang hanya terlapisi handuk.


Pada saat itu menari dengan agresif di atas tubuh Erlangga, tiba-tiba tanpa permisi Rangga masuk begitu saja ke dalam kamar suite room milik sang kakak saat mendapat pesan yang ternyata Erlangga sendiri yang mengirim pesan nomor kamar padanya.


"Kak, ini pesena—"


"Aahh, sshiit!" Erlangga langsung membalikan tubuh sang istri ketika Rangga berhasil melihat tubuh istrinya yang sudah pollos. Membuat Grael membulatkan matanya dan langsung tersadar bila ini bukanlah mimpi.


"Sorry! La–lanjutin aja, anggap gua belum nongol!" ucap Rangga yang menelan salivanya sembari menaruh pesenan obat sang kakak.


Sebelum keluar, Rangga memamerkan gigi putihnya lantas segera berlari keluar sebelum mendapat amukan dari sang kakak sampai masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintu hingga ke dua temannya terkejut.


"Anjriet! Kamvret!" ucap Irfan yang terkejut saat wajahnya mendapat muncratan air dari mulut Anjas ketika si Anjas sedang minum.


"Uhuuk, uuhuuk, uuhuuk! So–sorry, Fan!" ucap Anjas yang tidak sengaja.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2