
Hari berganti dengan hari kini Rangga dan juga Emira, tinggal di sebuah apartemen mewah. Mereka sudah memutuskan untuk tinggal mandiri dan sama-sama belajar tanggung jawab akan menjalani rumah tangga mereka.
"Bagaimana, kamu suka?" tanya Rangga saat mereka sudah berada di dalam sebuah apartemen milik mereka.
"Suka! Terima kasih!" Emira langsung memeluk suaminya dengan penuh erat.
"Maaf belum bisa memberikanmu rumah mewah! Tapi aku akan usahakan membuatmu senyaman mungkin," ucap Rangga yang membalas pelukan dari sang istri seraya mengecup keningnya.
"It's oke! Asal kita bisa kerja sama, sama-sama dari nol!" Emira tersenyum ke arah Rangga agar suaminya itu bisa semangat kembali.
"Terima kasih, istriku! Jadi apa sekarang aku boleh makan siang?" tanya Rangga yang memegang dagu istrinya.
Emira mulai mengerutkan kening saya tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Rangga, padahal jelas mereka baru saja selesai makan siang bersama di luar sebelum mereka sampai di apartemen. Akan tetapi, ucapan dari suaminya begitu ambigu hingga dia menyadari bila ada senyuman nakal yang terpancar di raut wajah sang suami.
"Iissh, kan tadi malam sudah!" Emira menarik hidung Rangga seraya mengingatkan suaminya tersebut.
Rangga tetap penggalengkan kepalanya seraya mencium bibir Emira, kemudian mengangkat tubuh istri mungilnya itu ke dalam gendongannya lalu merebahkannya di atas tempat tidur. Di saat lidahnya tengah asik mengabsen dalam rongga mulut sang istri, tangannya pun mulai berkeliaran sesuka hati di atas tubuh Emira.
"Kak," Emira mencoba untuk menolaknya secara halus tapi tetap saja pria yang baru menjadi suaminya beberapa hari begitu tinggi akan hasrat yang dimilikinya.
"Aku mau lagi, Emira!" bisik Rangga dengan suara yang sudah parau.
Emira yang sudah tidak bisa berkata-kata lagi, memilih untuk pasrah untuk melayani hasrat suaminya yang begitu tinggi. Dia membalas setiap gerakan yang dilakukan oleh Rangga dan itu berhasil membuat sang mampu tersenyum.
Rangga pun membuka baju dan segera menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka. Gerakan yang dilakukan oleh pasangan suami istri tersebut yang berada di dalam selimut begitu membara membuat tubuh mereka berkeringat pilu.
Sudah hampir satu jam, Rangga masih saja terus mengajak istrinya untuk bergelut di hari Minggu yang terus menerus turun hujan, membuat dia semakin mengeratkan pelukannya di dalam selimut bersama sang istri.
"Kak! Aku udah lemas banget!" keluh Emira ketika tubuhnya sudah mencapai maksimal.
__ADS_1
"Aaarrrgghhh!" Rangga baru mengeluarkan suara errangannya ketika dia baru sampai di ujung puncaknya. "Aaahh!"
Tubuh Rangga tumbang begitu saja di simping tubuh Emira, dia benar-benar sulit untuk mengontrol dirinya ketika mereka resmi menikah. Rangga selalu menuntaskan hasratnya yang begitu tinggi dan Emira selalu memberikannya, itulah yang semakin Rangga cinta terhadap Emira.
"Thanks, Honey!" Rangga menarik tubuh Emira ke dalam pelukannya.
Ya, meskipun Emira begitu lelah dan seakan remuk menghadapi hasrat sang suami yang begitu tinggi, tetapi dia harus memberikan yang terbaik untuk suaminya dan rela melakukan karena hanya ingin Rangga terpuaskan oleh dirinya.
Sehingga, tidak sampai Rangga menghianatinya bersama Bella. Dia tidak mau biduk rumah tangganya hancur hanya karena seorang pelakor, ini hidupnya jadi dia akan terus mempertahankan Rangga kecuali dia melihat dengan mata kepala sendiri sang suami bergelut panas di depan matanya, maka dia tidak akan mentolerir seperti Grael terhadap Rangga dulu.
***
"Sayang! Aku tunggu di bawah ya!" ucap Erlangga saat bicara di depan pintu kamar mandi sembari mengetuk pintu.
"Iya," jawab Grael masih berada di dalam kamar mandi.
Erlangga pun segera menuruni anak tangga dan memanasi mesin mobilnya, tiba-tiba sorot matanya melihat ke arah Evelyn sedang berbicara dengan seorang pemuda yang jaraknya tidak jauh dari tempat Erlangga berdiri.
Sangat terlihat jelas bila pemuda itu sangat ramah terhadap Evelyn bahkan pemuda yang mempunyai lesung pipit pun mencium tangan wanita paruh baya itu yang dia duga adalah anak Evelyn, tetapi kalau benar itu anaknya Evelyn kenapa Evelyn tidak mengenalkan anaknya kepada Erlangga?
Pada saat Evelyn ingin masuk melalui pintu belakang Erlangga sudah lebih dulu memanggilnya. "Bik, siapa?"
"Iya, Tuan? Oh, itu ... anak saya, Samuel. Dia mengantarkan makanan untuk saya tuan!" ucap Evelyn.
"Oh, kenapa langsung pergi tidak disuruh masuk?" tanya Erlangga yang melihat kotak bekal di tangan Evelyn.
"Maaf tuan, katanya dia langsung pergi ke tempat kerjanya," jawab Evelyn dengan jujur.
"Oh gitu, dia kerja hari Minggu masuk?" Tanya Erlangga.
__ADS_1
Evelyn mencoba menjelaskan kepada Erlangga jika sang anak mengambil kerja part time di sebuah cafe, anaknya pun memilih untuk tinggal sendiri di sebuah apartemen yang tempatnya tidak jauh dari kampus.
"Wah, pemuda yang hebat! Kapan-kapan ajak dia main ke sini!" ucap Erlangga yang penuh kagum terhadap pemuda itu.
Tiba-tiba saja Grael pun datang, langsung menghampiri sang suami yang tengah asik berbincang kepada Evelyn, dia keluar dengan penampilan yang begitu cantik dengan balutan dress selutut berwarna merah jambu begitu kontras dengan warna kulit putihnya.
"Bik, saya titip rumah ya! Paling agak maleman pulangnya, jadi kalau misalkan bibi mau pulang nggak papa pulang aja nggak usah nungguin kita!" Ujar Grael pada Evelyn.
"Baik, Nyah!" Sahut Evelyn yang mengerti.
Erlangga dan sang istri pun masuk ke dalam mobil lalu perlahan menjalankan mobilnya pergi dari sana, mereka akan menghabiskan waktu weekend mereka bersama karena sangat jarang bagi keduanya untuk bisa meluangkan waktu mereka.
Selama perjalanan menuju tempat tujuan Erlangga menyetelkan musik lagu-lagu romantis untuk memecahkan keheningan, alunan lagu membuat sang istri ikut bernyanyi. Senyum tepatri dalam sudut bibir Erlangga ketika dia melihat ada segurat kebahagiaan di raut wajah Grael.
"Senang banget sih," ledek Erlangga ketika dia mencubit pipi Grael dengan gemas.
"Iya dong, karena hari ini bisa berduaan sama, kamu!" Grael pun bergelayut manja di lengan kokoh suaminya saat Erlangga duduk di kursi pengemudi.
Tangan kokoh itu mengusap lembut rambut Grael, tidak lupa juga dia mengecup kepala istrinya. Begitu sangat berharga bahagiakan intan permata, meski sekarang mereka hidup di negara asing tapi mereka dua milik berdua.
Perjalanan mereka pun sampai di sebuah mall besar menjadi salah satu pusat perbelanjaan di kota tersebut, Erlangga pun menggandeng tangan sang istri saat mereka masuk ke dalam mall tersebut.
Di sana Erlangga mengajak sang istri untuk pergi berbelanja memasuki salah satu tokoh dengan nama merek terkenal, Erlangga memilihkan beberapa baju untuk sang istri dan menyuruh Grael untuk mencobanya.
Sementara Erlangga menunggu di kursi tunggu, saat itu juga Erlangga yang awalnya menjadi artis go internasional bertemu dengan salah satu fans yang ternyata bisa mengenali dirinya.
Tentu saja hal itu menjadi ramai di toko tersebut, berkumpul untuk meminta sesi foto dan tanda tangan. Ternyata tidak hanya pengunjung yang ada di toko tersebut melainkan beberapa pengunjung mall ikut meminta sesi foto bersama.
"Sayang, bagaimana menurutmu?" tanya Grael saat dia baru saja keluar dari ruang ganti baju. Matanya langsung syok melihat kerumunan yang mengitari suaminya.
__ADS_1
To be continued...