
Sebulan telah berlalu, kini usia kandunan Grael semakin membesar walaupun masih dengan perut yang rata. Akan tetapi, Erlangga terus menjaganya dengan baik. Setiap malam janin yang ada di dalam perut sang istri diajak bicara olehnya, tidak ada satu malam pun dia melupakan satu kecupan sebelum tidur.
"Jangan nakal ya, di perut Mommy. Jadi anak yang pinter ya, Sayangnya, Daddy! Emmuuacchhh!" Erlangga mengelus perut rata sang istri saat mereka berada di dalam kamar.
"Oke, Daddy!" sahut Grael yang menirukan suara anak kecil.
Erlangga pun tersenyum melihat Grael yang terus mengelus kepalanya saat dia berinteraksi dengan sang anak di dalam perut putih mulus tersebut, kedua bola mata mereka saling terus melempar tatapan sayu sama sembari perlahan wajahnya mendekat ke arah Grael saat berniat ingin mencium bibir merona tersebut. Sampai sebuah ketukan pintu pun terdengar di telinga mereka.
Mereka tertawa bersama saat aksinya terganggu, Erlangga pun membukakan pintu kamar melihat bila Evelynn membawakan sebuah minuman susu ibu hamil untuk istri sang pewaris.
"Terima kasih ya, Bik!" Erlangga mengambil nampan dari tangan Evelyn, lalu menutup pintunya.
"Sayang, minum dulu susunya!" ucap Erlangga pada sang istri. Tangan kokoh tersebut membantu Grael untuk duduk lalu memberikan segelas susu.
Erlangga melihat dari depan Grael yang berjongkok saat istrinya meminum susu, betapa manisnya saat setiap tegukan yang diminum oleh calon ibu yang sedang mengandung calon anaknya.
Grael yang menyadari hal itu langsung menawarkan susu pada sang suami, karena dia tahu kalau Erlangga juga menginginkan susu tersebut. Terlihat jelas bila Erlangga menelan salivanya dengan jakun yang naik turun saat dia meminum susu.
"Kok rasanya beda ya?" tanya Grael yang memperlihatkan susu dengan sisa setengah gelas.
"Beda bagaimana?" Erlangga mengerutkan keningnya.
"Beda aja! Coba deh rasain!" ucap Grael saat memberikan gelas pada Erlangga agar suaminya tersebut mau mencobanya. "Gimana? Beda kan?"
"Nggak ada yang beda kok!" Erlangga mengerutkan keningnya raya mencicipi sekali lagi. "Enak!"
"Enak?" tanya Grael yang di anggukan oleh Erlangga. "Ya sudah kalau kayak gitu buat kakak aja! Sepertinya lidahku yang kurang enak!"
"Apa kamu mau aku buatkan dengan rasa yang berbeda?" tanya Erlangga.
"Enggak usah! Aku hanya ingin dipeluk sama kamu!" Grael mengeluarkan tangannya agar mendapat pelukan dari sang suami.
Tentu saja Erlangga langsung membalas pelukan sang istri, usai menenggak habis minuman susu Grael.
__ADS_1
"Gerah, Yank! Kamu gerah gak? Aku buka ya, biar kamu tidak gerah!" ujar Erlangga ketika mereka sudah berpelukan di atas tempat tidur.
"Ih, Kakak ... aku justru dingin!" ucap Grael menolak secara halus.
"Kan ada selimut, Yank! Buka, ya ... please!" bujuk Erlangga pada istrinya. hidungnya terus memainkan telinga Grael agar bisa memberikan efek rangsangan yang luar biasa.
"Kamu modus ih ... Kak!" teriak Grael saat Erlangga sudah lebih dulu menciumnya. "Ampun, Kak! Geli ...."
"Maaf, Yank ... kangen mau jenguk dedek!" ucap Erlangga yang sudah memasang senyum jahilnya.
"Apa sih, Kak Erlangga ih, kan tadi pagi udah!" Grael mendorong wajah Erlangga agar tidak terus mengecup bibirnya.
"Masih kangen, Ayank!" Erlangga langsung menahan kedua tangan istrinya lalu mengecup keningnya.
Perlahan tapi pasti Grael terbuai dengan apa yang diberikan oleh Erlangga, kecupan demi kecupan terus dia rasakan begitu manis dan lembut, setiap sentuhan terasa hangat dan nyaman.
Erlangga terus memberikan rangsangan pada perut sang istri membuat Grael pun ikut terbawa arus, tangan itu tidak pernah berhenti memberikan rasa hangat yang mengalir di setiap sentuhan. Hingga istrinya selalu mengeluarkan suara yang justru membuat dia terus melakukan hal yang lebih.
"Kak!" Grael meremas jemari Erlangga dengan kuat tanpa dia sadar.
"Ik ga uit, El!" Erlangga mengecup leher sang istri ketika apa yang menjadi tujuan utamanya tersalurkan, usai dua puluh menit telah berlangsung.
Deru napas yang tersengal menandakan bahwa olahraga di malam hari bersama sang istri sangatlah melelahkan, Erlangga menatap kedua bola mata istrinya penuh lekat dia pandangi penuh seksama lalu mengecup bibir merah merona tersebut.
"Terima kasih, Sayang!" ucap Erlangga yang menggesekkan hidung mancungnya ke arah hidung Grael. "I love you!"
Erlangga langsung menggeser posisinya di samping Grael usai mengucapkan kata sayang pada sang istri, tangannya menarik tubuh mungil yang masih polos agar masuk ke dalam pelukannya.
Tangan kokoh itu pun tidak lupa untuk memberikan ucapan lembut pada kepala sang istri, sembari berkata, "Udah keluar belum?"
"Tau akh! Pakai tanya!" jawab Grael dengan kesal. Dia pun membelakangi tubuh Erlangga secepat kilat.
Erlangga langsung tercengang mendengar dan melihat tingkah istrinya, matanya membulat sempurna seraya mengedipkan matanya berkali-kali.
__ADS_1
"Oh, belum?" Erlangga langsung menggeser posisinya untuk melihat wajah sang istri yang membelakangi dirinya. "Yank serius, belum keluar?"
"Auu aakkh!" Grael menangkis tangan Erlangga yang memegang bahunya dengan menggerakkan dengan cepat.
"Ya udah yoo sekali lagi!" ajak Erlangga yang menahan tawanya.
"Tau aakh, udah nggak mood!" Grael menarik selimut saat dirinya merajuk. "Awas, ih ... Kak Erlangga aku ngantuk!"
"Ayank jangan marah!" bujuk Erlangga yang mengecup leher sang istri. "Sekali lagi deh, Yank!"
"Iiihh, kalau mau dilanjut juga udah beda rasanya!" Grael memajukan bibirnya seraya merajuk seperti anak kecil.
"Maaf, Yank ... besok-besok tunggu kamu duluan deh!" Erlangga menarik tangan Grael agar masuk ke dalam pelukannya.
"Nggak mau besok," sahut Grael yang memainkan jemarinya dia atas dada bidang sang suami.
"Terus?" tanya Erlangga yang melirik ke arah Grael.
"Mau sekarang!" Grael mendongak ke atas sembari memasang wajah melasnya.
Erlangga hanya tertawa, karena sikap istri ya yang gampang berubah-ubah. Dia pun menyadari perubahan hormon yang di alami Grael, dengan sabarnya dia pun menuruti permintaan sang istri.
Erlangga menarik selimutnya untuk menutupi tubuh mereka berdua lantas melanjutkan ronde kedua, penuh dengan hawa yang panah dan menggebu saat sang istri yang memiliki nama lengkap Grael Arabella benar-benar agresif untuk mencapai keinginannya.
***
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif, silahkan mencoba bebe—"
Suara operator langsung dimatikan oleh Emira ketika dia menghubungi nomor sang suami yang ternyata tidak aktif, dirinya begitu kesal ketika melihat jam sudah larut malam tetapi Rangga belum juga pulang.
Emira mamaklumi pekerjaan suaminya tersebut yang menjadi tiga kali lipat sejak pernikahannya, dirinya menjadi kesal dengan ayah mertuanya karena tidak mengizinkan Rangga memiliki waktu untuk dia.
Berkali-kali Emira, hubungi Rangga tetapi tetap aja tidak ada sahutan sama sekali dari pemilik nomor telepon. Dia juga sudah menghubungi asisten Rangga tetapi tidak ada sahutan sama sekali dari seberang telepon.
__ADS_1
"Astaga! Kesel ihhh ... awas aja kalau sampai rumah!" Emira meremas jagung bakarnya yang dia buat sendiri, lalu mengigit dengan kencang.
To be continued...