
Aroma wangi yang begitu semerbak dari dalam ruangan, membangkitkan aura kuat dari Gadis cantik yang sedang duduk di depan cermin. Mata yang terpejam karena mendapat polesan lembut dari brush yang sendang mengukirnya, menunggu untuk hasil yang memuaskan.
Wajah dengan pipi yang merah merona, warna merah jambu yang mengkilap di atas bibir seorang Gadis, menambah kesan manis dan cantik bagi pengantin wanita yang sedang di rias oleh salah satu make over ternama.
Hari ini adalah hari yang paling bersejarah bagi Grael Arabella, dia akan mengucapkan janji suci bersama orang yang pernah dia gemari dalam hidupnya, yaitu Erlangga Louis. Seorang artis papan atas yang menjadi idolanya, kini akan menjadi suaminya dalam hitungan jam.
Seharusnya hari ini dia akan mengucapkan janji suci dengan orang yang dia cintai dan mencintainya, tapi takdir sudah tersurat sebelum sang insan menentukan pilihannya.
Grael sudah ikhlas untuk melepas cinta pertamanya untuk sang sahabat, dan dia memilih untuk ikhlas menerima takdir bahwa dia akan segera menjadi istri dari seorang Erlangga Louis, seorang yang Grael idolakan, sekaligus Grael benci tapi rindu.
"Ok!" ucap Mince yang me-make over wajah Grael, usai menghias rambut Grael dengan kain veil pengantin.
"Cantiknya!" kagum Karina dan Gracia ketika melihat ke arah Grael, sang empu pun tersipu malu.
"Bagaimana? Sudah siap?" tanya Kak Marvin yang berdiri di depan pintu dan melihat ke arah ke tiga wanita cantik yang sekarang sudah menjadi bagian keluarganya.
Tangan Marvin terulur sempurna, menyambut tangan Gadis itu untuk dia antar menemui pengantin pria yang sudah menunggunya.
Karina dan Gracia menggandeng tangan Grael untuk diserahkan kepada Marvin, lalu para bridesmaid sudah bersiap berdiri di belakang pengantin wanita untuk memegang kain tile pengantin.
Karina dan Gracia pun sudah lebih dulu ke luar dari ruangan tersebut dan ikut menunggu ke datangan pengantin wanita usai menyemangati Grael.
"Ok, siap?" tanya Marvin yang melirik ke arah Grael. Gadis itu tersenyum lebar memberikan kepercayaan diri pada Marvin agar sang Kakak tidak gugup.
__ADS_1
Baru kaki Grael ingin melangkah maju, tetapi Marvin menahannya, rasa gugup pada diri Marvin sangat terlihat jelas di mata Grael, Gadis itu pun tertawa kecil dan menyuruh sang Kakak untuk menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan.
"Rileks, tarik napas ... buang, jangan tegang oke?" ujar Grael yang seakan posisi mereka sedang terbalik, seharusnya Marvin lah yang memberi saran kepada adiknya.
"Ok, Marvin ... kamu pasti bisa! El, kamu tenang saja ... Kakak pasti akan menggengam tangan kamu agar kamu tidak terjatuh." Marvin mengeratkan tangannya menggenggam tangan Grael.
"Aku percaya sama Kak Marvin," tutur Grael yang tersenyum.
"Aaiish, begitu beruntung si brengsek itu bisa mendapatkan kamu!" umpat Marvin dengan pelan, saat melihat wajah manis sang adik yang tersenyum.
Kini mereka berjalan perlahan, diiringin bunga kelopak mawar yang ditebar oleh kedua anak kecil yang berada di depan sang pengantin wanita, alunan lagu yang begitu romantis, serta Bridesmaids yang mengikuti mempelai pengantin dari belakang sembari memegang kain tile yang menjangkau panjang.
Semua orang tampak terpukau dengan pesona cantik pengantin wanita yang berjalan ke arah Erlangga. Gaun yang terurai panjang dengan permata yang yang bertebaran, menambah kesan mewah pada baju pengantin Grael.
Grael tidak berani melihat ke arah lain selain Erlangga, dia takut hatinya sedih dan air matanya keluar saat melihat sosok Rangga berada di kerumunan orang-orang yang ingin menyaksikan pernikahanya, karena itu akan membuatnya sakit dan susah melupakannya. Dia tidak mau menyesali untuk momen yang akan menjadi seumur hidupnya.
"Lihatlah senyum si brengsek itu! Senyum kemenangan atas berhasilnya merebut kamu dari adiknya sendiri!" bisik Marvin yang melihat ke arah Erlangga. Grael pun mencubit lengan Marvin, seakan tidak rela bila calon suaminya selalu disebut brengsek oleh Marvin.
Debaran jantung Grael semakin tidak menentu, ketika Erlangga mengulurkan tangannya seraya menerima tangan Grael dari Marvin. Dia menggenggam tangan itu dengan erat seakan tidak ingin membuat pengantin wanitanya terjatuh.
Sumpah serapa pun mereka lakukan, berjanji saling mencintai baik susah maupun senang. Setelah mereka dinyatakan resmi sebagi suami istri, mereka melakukan pertukaran cincin nikah.
Tangan Erlangga membuka vile pada wajah Grael, ketika mendapat suruhan untuk mencium istrinya. Raut wajah Erlangga tidak bisa menggambarkan rasa kagum akan pesona kecantikan wanita yang sudah menjadi istrinya.
__ADS_1
Sorot mata Erlangga perlahan turun ke arah bibir yang merah menggoda, dan dalam hitungan beberapa detik dia sudah menarik dagu sang istri untuk mencium bibir mungil itu dengan penuh kelembutan. Dia semakin memperdalam ciumannya saat sang istri pun membalas ciumannya.
Kedua sejoli tersebut saling bertaut dalam gelora kebahagian yang tersirat melalui ciuman yang mereka berdua nikmati, Grael dapat merasakan setiap llumatan yang diberikan oleh Erlangga begitu berdominan bahwa dirinya secara resmi telah menjadi miliknya.
Suara tepukan tangan begitu meriah, melihat kedua sejoli saling memberikan kehangatan pada bibir mereka. Erlangga pun langsung melepaskan ciumannya saat Grael hampir kehilangan napas akibat ulahnya.
Setelah mereka telah resmi menjadi suami istri, acara berlanjut ke pulau pribadi milik keluarga Josua, di sana semua saudara merayakan pesta pernikahan Erlangga yang terbilang rahasia, hanya sanak saudara saja yang di undang. Bahkan Josua mengirim Rangga dan Kylie untuk berlibur ke luar negeri demi kesehatan mental anak keduanya.
Sesi acara pernikahan pun telah usai, kini mereka berdua berada di dalam kamar pengantin, Grael langsung panik saat Erlangga tiba-tiba membuka jas dan kancing kemejanya.
"Tunggu, tunggu, tunggu! A–aku ... aku duluan ke kamar mandi!" ucap Grael dengan gugup, dia langsung berlari ke arah kamar mandi.
Erlangga hanya tertawa, melihat tingkah gadis itu yang menjadi salah tingkah ketika dia hanya membuka kancing atas.
"Ehem! Hmm ... boleh minta tolong? Bukain resletingnya?" Grael membuka pintu kamar mandi dengan cela sedikit.
Erlangga melihat sang istri yang hanya memperlihatkan kepalanya saja dari balik pintu kamar mandi, dia berjalan mendekat lalu membantu membuka resleting yang ada di belakang punggung Grael.
Perlahan punggung putih mulus itu terlihat jelas oleh Erlangga, baru saja dia ingin menyentuh kulit putih mulus itu dengan ujung hemarinya, tiba-tiba Grael langsunng menjauh dan menutup pintunya kembali tanpa mengucapkan terima kasih.
Erlangga dibuat kesal olehnya, ingin rasanya mendobrak pintu itu dan langsung menikamnya dari belakang, tapi dia urungkan. Dia mempunyai akal jitu untuk memasang umpan pada mangsanya.
To be continued...
__ADS_1