
Rangga mengusap air mata Grael dengan lembut, hatinya begitu sakit melihat wanita yang dia cintai begitu lemah duduk di kursi roda, raut wajah cantiknya terlihat pucat dengan bibir yang gemetar.
"Maafin, aku! Maaf, kalau aku sudah menyakiti perasaan kamu! Tapi jujur, aku menyesal apa yang sudah aku lakukan, Ay! Jadi please ... kasih aku kesempatan buat tidak mengulangi kesalahan yang sama!" pinta Rangga yang ikut meneteskan air matanya.
"Apa kamu mencintainya?" tanya Grael dengan suara yang begitu lemah dan lirih.
Rangga yang mendengar suara gadis yang sudah dia rindukan belakangan akhir ini, begitu lemah. Hatinya menjadi sakit mendengar penuturan dari kekasihnya.
"Demi Tuhan, aku nggak cinta sama dia!" Rangga menatap mata Grael dengan serius dengan kedua mata yang sama-sama memerah dan mengeluarkan air mata.
"Terus kenapa kamu cium, dia!" bentak Grael dengan suara yang begitu lirih.
"Maafin aku, maaf ... Ay!" Rangga mencium tangan yang terlihat kurus itu dengan beribu-ribu memohon maaf kepada sang kekasih.
"Hubungan kita sudah berakhir Rangga, tidak ada yang harus dipertahankan! Aku sudah ikhlas bila kamu bersama dia." Grael melepaskan tangannya dan mulai menjalankan kursi rodanya.
"Ay ... aku tuh sama Veby cuma ciuman, bukan tidur bareng! Jadi please ... jangan hanya karena gara-gara hal sepele, kamu membatalkan pernikahan kita!" Rangga terus berusaha membujuk Grael, dia menahan kursi roda gadis itu agar berhenti. Akan tetapi Gracia berlari ke arah sang adik dan memeluknya.
"Bukannya Kakak mau ikut campur, tapi Grael masih sakit Rangga, biarkan dia untuk menenangkan hati dan pikiranya dulu. Jadi Kakak mohon sama kamu, tolong jangan temui Grael untuk sementara waktu!" Gracia mengusap bahu Rangga lalu perlahan meninggalkan pemuda itu yang masih mematung melihat kepergian Grael.
***
Hari pernikahan Gracia dan Marvin telah usai, kini Gracia resmi menjadi istri seorang pemilik hotel ternama di kota tersebut. Grael yang menemani sang Kaka dari awal sampai akhir acara tersebut, begitu terharu walaupun dia masih duduk di kursi roda. Akan tetapi, kecantikannya tetap terpancar dari raut wajahnya.
"Aku iri sama Kakak," ucap Grael ketika hanya ada mereka berdua.
"Kenapa iri? Kan sebentar lagi kamu juga akan menikah, lebih mewah lagi dari Kakak." Gracia mencolek hidung sang adik.
"Ya iri, karena Kakak bisa menikah dengan orang yang Kakak cintai," ujar Grael dengan yang tersenyum sedih.
__ADS_1
"Loh, kamu kan juga menikah dengan orang yang kamu cintai?" ledek Gracia.
"Itu hanya sekedar kagum Kak, bukan cinta! Lagian dia juga terpaksa menggantikan posisi Rangga semata-mata bentuk tanggung jawab atas perjodohan, bukan karena cinta." Grael mengambil sepotong buah yang berada di hadapannya.
"Kalau kamu nggak cinta, kenapa kamu menerima lamaran dia?" tanya Gracia.
"Karena bentuk tanggung jawab perjodohan yang sudah ayah buat," lontar Grael yang tersenyum.
"Grael ... dengerin Kakak, pernikahan itu tidak boleh dibuat main-main, apalagi kalau kamu bilang sebagai bentuk rasa tanggungjawab. Kakak pinta, apa yang sudah kamu ambil keputusan itu, kamu harus tulus menjalani biduk rumah tangga kamu," ucap Gracia yang menjelaskan.
"Walaupun kamu belum mencintainya, tapi lambat laun rasa cinta itu tumbuh karena terbiasa, jadi ... kamu harus benar-benar menjadi seorang istri yang siap lahir batin menjalankan tugas sebagai istri untuk Erlangga, karena kakak juga tahu, kalau Erlangga juga cinta sama kamu!" timpal Gracia yang menasihati sang adik.
"Dari mana Kakak tahu, kalau artis itu suka sama aku?" tanya Grael yang penasaran.
"Ada deh ... mau tahu banget atau mau tahu aja?" ledek Gracia.
"Iih ... Kakak!" Grael menggelitik pinggang Gracia.
"Iya, Grael janji!" Grael tersenyum ke arah sang Kakak.
Di sisi lain.
Semua persiapan pernikahan yang sudah di rencanakan untuk pernikahan Rangga dengan Grael, kini berubah menjadi persiapan pernikahan Erlangga dengan Grael. Semua papan nama Rangga dicopot dan diganti dengan nama Erlangga.
Begitu juga dengan surat undangan walaupun mereka hanya mengundang pihak kerabat terdekat saja, dan acara privasi karena Grael masih sekolah. Akan tetapi, tetap saja acara tersebut begitu mewah dan meriah.
"Anjieng!" Rangga merobek semua kertas undangan yang dia dapat dari seseorang yang mengantar surat undangan yang dipesan dari keluarga Louis.
Rangga begitu emosi, dia merobek dan mengijak-injak semua surat undangan tersebut sembari meneteskan air matanya. Semua kata-kata umpatan terus keluar dari mulutnya yang sudah bergetar akibat menahan amarah dan sedih.
__ADS_1
Seakan ada beribu-ribu anak panah yang menusuk relung hati Rangga, ketika dia membaca surat undangan tersebut. Dia meremas dengan kuat-kuat surat undangan tersebut lalu pergi melangkah ke ruang kerja ayahnya.
"Papi! Maksudnya, apa semua ini?" Rangga melempar beberapa surat undangan di atas meja kerja Josua.
Josua hanya melirik ke arah Rangga yang tengah emosi, dia membiarkan semua luapan amarah keluar begitu saja dari Rangga. Begitu selesai melihat sang anak marah-marah, Josua pun berterus terang kepada Rangga, bahwa dia tidak dapat membatalkan perjodohannya yang sudah terikat dengan mendiang sahabatnya.
"Tapi Grael itu milik Rangga, Pih! Tunangannya Rangga, calon istri Rangga! Bukan Kak Erlangga!" tegas Rangga yang kecewa sembari menangis.
"Rangga, Papi tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi memaksa Grael untuk tetap menikah dengan kamu!" Josua mencoba untuk menjelaskan kepada anaknya.
"Apa Grael setuju?" tanya Rangga dengan putus asa.
"Ya, bahkan dia sudah menerima lamaran Erlangga dari dua hari yang lalu," ujar Josua.
"Nggak, nggak mungkin Grael terima lamaran Kak Erlangga! Grael nggak cinta, Pih, sama Kak Erlangga, dia cuma cinta sama Rangga!" Rangga terus mengeluarkan rasa kesalnya.
"Rangga ... kamu harus bisa menerima bah—"
"Nggak! Rangga nggak percaya, sebelum Rangga denger langsung dari Grael." Rangga langsung berlari ke luar dari ruangan sang Ayah. Namun, Josua sudah memerintahkan beberapa bodyguard untuk mencegah Rangga bertemu dengan Grael.
Josua melihat perkelahian sang anak yang melawan ke tiga bodyguard dari balik jendela, dia melihat Rangga begitu mahir dalam jurus bela dirinya. Josua pun menyuruh untuk mengepung Rangga agar anak ke duanya tidak bisa berkutik.
"Lepasin! Bangsaad!" umpat Rangga ketika tangannya di kunci oleh ke tiga bodyguard.
"Pih, lepasin Rangga! Rangga mau ketemu sama Grael!" pinta Rangga yang masih memberontak.
"Bawa, dia masuk!" perintah Josua yang sudah berada di halaman rumah.
"Pih ... ini nggak adil buat Rangga, Pih! Grael milik Rangga, Pih ... Rangga mohon sama Papi," ngemis Rangga yang sudah benar-benar hancur.
__ADS_1
Josua pun hanya meneteskan air matanya, melihat anak kebanggaannya begitu menderita karena cinta untuk ke dua kalinya, dia terpaksa melakukan hal ini kepada Rangga karena sudah sepakat oleh Erlangga walaupun hatinya sakit sebagai orang tua melihat anaknya menderita, tapi semua yang dia lakukan juga demi kebaikan semuanya.
To be continued...