
Para calon peserta yang ingin melamar sebagai sekretaris Rio berdiri berjajar di hadapan sang pemilik perusahaan, mereka berdiri dengan penampilan ciri khas sebagai seorang pelamar dengan memakai pakaian putih hitam.
Ada empat orang yang terpilih untuk masuk ke seleksi final yang akan ditentukan oleh Rio sendiri, dua diantaranya laki-laki dan duanya lagi adalah perempuan. Rio membaca setiap data keempat orang yang ada di hadapannya satu persatu dia baca sembari melihat ke arah pemilik nama yang dia ucap.
"Hendra Nugroho?" ucap Rio sembari melirik peserta yang mengangkat tangan, lalu melanjutkan membaca beberapa data dan mengetes yang ditanyakan oleh Rio kepada Hendra.
"Oke, next! Mutia Anggraini?" Rio melirik ke arah orang tersebut.
"Sa–saya, Pak!" Wanita itu mengangkat tangannya dengan gugup ketika namanya dipanggil oleh Rio.
"Ck! Jadi namanya, ini? Kampungan!" ucap Rio dalam hati, seraya memegang keningnya dengan kelopak mata yang menyipit ke arah orang tersebut.
"Apa yang menjadi alasan kamu untuk bekerja di sini? Dan apa alasan saya untuk bisa nerima kamu bekerja sebagai sekretaris saya?" tanya Rio kepada Tia yang saat ini hanya tinggal mereka berdua setelah interview ketiga temannya telah usai.
"Hmm, alasan saya satu Pak, karena saya butuh uang! Dan alasan Bapak menerima saya, ya ... karena Bapak membutuhkan saya untuk menjadi sekretaris Bapak!" ucap Tia dengan polos.
"Sudahku duga!" gumam Rio yang terkekeh, dia pun lalu berkata, "Di tolak! Silahkan keluar!"
"Eh, tu–tunggu dulu, Pak! Loh, saya kan bener Pak! Salah saya di mana?" ucap Tia tanpa bersalah.
"Keluar!" perintah Rio.
"Tapi, Pak!" tolak Tia.
"Saya bilang keluar!" bentak Rio dengan kasar, membuat Tia takut langsung keluar dari ruangan tersebut.
Tia meneteskan air matanya usai keluar dari ruangan itu, perasanya kesal dan marah sampai dia menggebrak pintu ruangan Rio lantas pergi dari sana dengan perasaan yang dongkol.
Pintu lift terbuka Tia masuk dengan memencet tombol tapi sebelum pintu lift tertutup ada seseorang yang menahannya. Tia langsung menyeka air matanya lalu menegakkan kepalanya melihat siapa yang mau ikut masuk ke dalam lift, saat dia melihat bila Rio yang berdiri di hadapannya, mata Tia langsung membuang pandangannya dengan sinis seraya tidak suka.
__ADS_1
Akan tetapi, tangan Tia ditarik begitu saja oleh pria itu dan diajak untuk mengikuti langkahnya. Tentu saja Tia jadi bingung dengan sikap Rio, sampai Tia memberontak untuk minta dilepaskan.
"Yun, cepat pesankan baju wanita satu stel! Kurang dari dua puluh menit harus sudah ada, cepat!" ucap Rio yang berbicara pada Yuni sembari terus berjalan menarik tangan Tia.
"Baik, Pak!" sahut Yuni.
Suara dentuman pintu begitu keras ketika mereka sudah masuk ke dalam, Tia terus memberontak meminta kepada Rio agar melepaskan genggamannya.
"Lepasin! Mau ngapain? Hah!" Tia terus memukul lengan kekar Rio.
Rio menghempaskan tangan Tia begitu saja, lalu berdiri di depan wanita itu seraya meneliti penampilan dari atas sampai bawah. Jelas saja Tia langsung menyilangkan tubuh bagian depan dengan kedua tangannya, seraya memasang wajah kelas.
Tangan Rio langsung menarik ikat kuncir kuda Tia lalu menggerai rambut hitam panjang itu, memperlihatkan sisi kedewasaan Tia yang cantik dan anggun.
"Jangan sentuh! Mangapain? Mau mesum? Hah!" bentak Tia yang sedari tadi bingung dengan sikap Rio yang sudah membentak, mengusir dan menolaknya, sekarang menariknya dan menunjukkan ekspresi wajah seolah-olah dia ingin berbuat mesum.
"Kamu mau bekerja di sini kan? Kalau begitu menurutlah!" ujar Rio.
Tia tidak berani melanjutkan ucapannya dia bingung harus berkata apa untuk sebutan yang pas menggantikan kata pemuas, kedua bola matanya lirik ke kanan dan kiri seakan menunjukkan dia sedang berpikir. Akan tetapi, Rio melanjutkan ucapannya.
Ini merupakan penelitian dan
"Pemuas?" ucap Rio yang menyambung ucapan Tia begitu tepat dan benar. "Kamu pikir, saya napsu sama badan tepos kaya kamu? Ck!"
Dia langsung membuka mulut dengan mata yang membulat sempurna. Dia benar-benar tidak mempercayai jika Rio bisa berbicara seperti itu, sampai tangannya melayang ke arah pipi Rio.
Suara tamparan pun mengisi kebisingan di ruangan itu, begitu keras hingga bekas tamparan itu bertanda di pipi Rio. Pria itu memegang rahang merasakan pedas bekas tamparan yang dilayangkan oleh Tia, dia langsung mendorong tubuh wanita itu hingga ke dinding lalu menahannya dengan ke dua tangan.
"Berani kamu nampar saya? Hah! Kamu pikir kamu siapa?" Rio marah besar saat matanya melihat bola mata Tia yang menangis, dia pun langsung mengurangi cengkeramannya tanpa melepaskan tangan Tia.
__ADS_1
Suara ketukan pintu pun terdengar, Yuni masuk membawakan baju wanita sesuai pesanan Rio dan saat dia masuk ke dalam kedua bola mata Yuni terbelatak melihat posisi Rio yang menghimpit seorang wanita dengan kepala yang dimiringkan.
Yuni menunduk dan mengucapkan kata permintaan maaf seraya menaruh baju di atas meja. "Maaf, Pak! Ini pesanan Bapak!"
Rio tidak menggubrisnya, dia terus menempelkan bibirnya ke arah bibir Tia yang hanya dihalangi oleh jempol Rio, seakan-akan mereka tengah berciuman. Begitu terdengar suara pintu tertutup Rio pun melihat manik mata Tia yang terpejam dengan ekspresi wajah yang ketakutan.
"Sudah mengerti apa yang aku bilang?" tanya Rio dengan sorot mata yang tajam dan jarak di antara mereka begitu dekat. "Sekarang, pakailah baju itu! Dan tunjukkan bakat actingmu!"
Tia mengangguk seraya mengerti, dia langsung memakai baju pemberian Rio di kamar privasi. Pada saat itu pula Yuni mengabari bila Cherry sudah berada di dalam lift.
"Suruh dia masuk!" perintah Rio.
"Baik, Pak!" ucap Yuni yang mengerti.
Beberapa menit kemudian, Cherry masuk sembari menangis, dia langsung memeluk Rio untuk meminta maaf atas apa yang dia perbuat. Namun, sang empu menepisnya dengan kasar.
"Masih punya muka kamu kesini?" Rio masih fokus ke arah laptopnya dan menyingkirkan tangan Cherry.
"Aku minta maaf, Sayang! Please ...."
"Cherry!" bentak Rio.
Sementara di posisi Tia, wanita itu berusaha untuk menguatkan hatinya agar tegar. Dia terpaksa menerima tawaran dari Rio yang berpura-pura menjadi kekasihnya untuk hari ini. Jika di lolos, dia akan langsung diterima bekerja sebagai sekertarisnya.
Langkah kaki yang dihentakkan dengan anggun menciptakan suara ciri khas dari high heels pada lantai, membuat kedua orang yang sedang berdebat terpaku saat melihat sosok yang begitu cantik keluar dari balik pintu kamar privasi Rio.
"Bee, apa kamu masih lama? Aku sudah lama menunggumu seharian! Laper," rengek Tia yang bergelayut manja sembari memeluk Rio dari belakang. Tidak lupa dia juga mengecup pipi itu dengan mesra membuat wanita yang berdiri di sampingnya terperanjat karena terkejut.
"Siapa dia, Bee?" timpal Tia saat dia mendapatkan tatapan sinis dari wanita yang ada dihadapannya.
__ADS_1
"Bee?" Cherry membuka mulutnya dengan lebar saat pendengarannya menangkap ucapan manis yang menjijikkan baginya.
To be continued...