
"Kak, gua turun di sini aja!" ujar Emira saat mereka hampir sampai di depan sekolah.
Tanpa banyak bicara, Bima menurunkan Emira tepat di halte bus sebelum sekolahan. Sikap dingin kakak kelas kembali ke mode semula, dia pun kesal tanpa mengucapkan rasa terima kasih langsung turun begitu saja sembari membanting pintu.
Sementara Bima hanya tertawa saat Emira sudah turun dari mobilnya dengan perasaan yang kesal, tanpa memperdulikan genangan air Bima pun mencipratkan air kotor itu tepat mengenai rok Emira.
"Bima!" teriak Emira yang begitu kesal menghadapi sikap sombong kakak kelas yang terkenal sebagai nomor satu di sekolahannya.
Selama di sekolah Bima pun terus tertawa ketika mengingat betapa lucunya wajah Emira saat dia jahili, sampai teman-temannya pun merasa bingung melihat teman mereka yang satu itu begitu aneh akan sikapnya.
"Bim, kenapa si Lo?" tanya Yuda saat mereka baru saja duduk di kantin sekolah.
"Tahu Lo, kesambet apaan tadi pagi di jalan?" timpal Gio.
"Gak! Ada deh," ucap Bima yang masih tertawa. "Nanti malam ke tempat biasa ya, gue traktir kalian!"
"Serius Lo, Bim?" tanya Gio yang langsung semangat.
"Mode sombongnya lagi kumat!" Yudha pun hanya menggelengkan kepala ketika melihat raja sombong mulai beraksi.
Di sela-sela Bima dan teman-temannya menikmati makan siang mereka di kantin sekolah, Emira datang membawa gelas berisi jus jeruk. Dengan sengaja dia menumpahkan jus tersebut tepat di baju Bima.
"Aduh, uppps sorry! Gua sengaja," ucap Emira dengan sandiwaranya, dia pun memasang wajah seakan-akan merasa bersalah.
Sontak semua tersebut langsung melihat ke arah sumber yang menjadi pusat perhatian, teman-teman Bima langsung terdiam ketika adik kelas yang bernama Emira begitu berani melabrak Bima.
Bisikan demi bisikan pun terdengar di telinga Bima, hingga dia mengepalkan tangannya menahan emosi yang sudah bergejolak dalam jiwanya. Tanpa berpikir panjang dia menarik tangan Emira untuk ikut bersamanya membuat suara teriakan kegaduhan di dalam kantin pun semakin riuh.
Kedua teman Bima pun saling senggol menyenggol menyuruh antara ikut ataupun tidak, tapi yang jelas Yudha melarang agar tidak ikut campur dan membiarkan menjadi urusan Bima.
"Lepasin Bima!" teriak Emira ketika dirinya dibawa masuk ke dalam toilet laki-laki. "Lo udah gila ya?"
Anak laki-laki yang berada di dalam toilet pun langsung memilih untuk keluar saat Bima memberikan kode, membiarkan Bima dan juga Emira berdua berada di dalam kamar mandi tersebut.
"Lo yang gila! Maksud lo apa ini, hah?" ekspresi wajah Bima terlihat sangat marah.
__ADS_1
"Ya kan, gue bilang nggak sengaja! masa begitu doang aja marah? lu cewek apa cowok? Gua aja kena kecipratan air kotor aja nggak marah tuh!" Emira melipat kedua tangannya seraya membalas tatapan sinis pada Bima.
Bima mengepalkan tangan, memasang wajah ekspresi galaknya lalu membuka bajunya di hadapan Emira. Membuat sang empu menjadi ketakutan.
"Eh, mau ngapain Lo? Jangan macam-macam kalau Lo gak mau burung Lo, gua bikin burung penyet!" ancam Emira yang memasang kuda-kuda untuk siap memberikan hukuman pada Bima.
Bima dengan ekspresi wajah kesalnya terus maju melangkah mendekat ke arah Emira yang siap memberikannya pelajaran, dia pun membuka seluruh kancing bajunya dan memperlihatkan perut sixpacknya.
"Bima!" teriak Emira sembari melayangkan tendangan ke arah wajah Bima tetapi sayangnya kaki Emira ditangkap oleh tangan itu.
Bima pun langsung melempar baju yang terkenal jus berikut dengan kaos dalamnya ke arah wajah Emira, sedangkan tangannya terus menahan kaki wanita berambut pirang. matanya pun tidak sengaja menangkap kain segitiga berwarna hitam merah jambu.
Bima langsung melepaskan kaki Emira begitu saja dan menyuruh wanita itu untuk mencuci pakaiannya hingga bersih tak tersisa barang noda sedikitpun, selalu menyuruh Emira untuk segera keluar dari kamar mandi khusus laki-laki.
Namun, sebelum Emira keluar Bima pun berbisik kepada sang mpu. "Childish! Besok jangan lupa pakai warna merah lebih menggoda!"
Emira dibuat tercengang atas apa yang diucapkan oleh Bima dia pun membalikkan badannya serayah ingin menendang wajah kakak kelasnya tersebut, tetapi pintu kamar mandi sudah lebih dulu tertutup oleh Bima.
"Kurang ajar!" Emira meremas seragam kotor tersebut, nampak segurat kebingungan yang terlintas dalam pikirannya ketika memegang baju seragam sekolah milik Bima.
Jika dia membawa pulang pasti Rangga akan marah, tetapi dia juga mempunyai tanggung jawab atas perbuatannya. Emira pun memutuskan untuk mencucinya di rumah sang ayah.
"El!" panggil Diego yang mengejar Emira saat wanita itu ingin masuk ke dalam kelasnya.
Emira melihat Diego yang mengejar dirinya terus berlari tanpa melihat ke arah belakang, karena dia tahu pasti akan menimbulkan efek kesalahpahaman dari pihak masing-masing antara dirinya dan juga Diego.
Namun, usaha Grael sia-sia. Diego masih bisa mengejarnya dan menghalangi jalan dia untuk masuk ke dalam kelasnya. "Ada apa kak?"
"Ini, makasih ya, kemarin sudah mau minjemin pulpen." Diego menyerahkan pulpen di depan Grael.
"Iya, sama-sama!" sahut Grael yang bersikap dingin. "Aku ke kelas dulu ya?"
Diego pun akhirnya mempersilahkan wanita yang dia sukai secara diam-diam untuk masuk ke dalam kelas, sorot matanya masih memperhatikan Grael dari tempat dia berdiri sampai akhirnya Olivia pun melihat ke arahnya memperhatikan dengan tatapan sinis.
"Sialan, masih belum kapok tuh anak gua kasih peringatan!" ucap Olivia yang mengepalkan tangannya ketika hatinya begitu cemburu saat Diego terus saja mendekat ke arah Grael.
__ADS_1
"Liat kali ini gua nggak akan main lembut sama Lo!" ucap Olivia langsung menghubungi teman-temannya.
Setelah satu pelajaran mata kuliah jurusan arsitek yang diambil oleh Grael telah selesai, dia pun bergegas untuk mencari Dona untuk masuk ke dalam kelas yang sama dengan jurusan yang sama dengan ketiga temannya bernama Jack, Edward dan juga Dona.
"Grael ya?" tanya salah satu mahasiswa yang menghampiri Grael.
"Iya, ada apa?" Grael terlihat bingung beberapa detik sebelum akhirnya wanita itu menyampaikan bila kedua teman yang sedang dicari olehnya berada di ruang kelas drama.
"Oke thanks!" sahut Grael dengan senyumannya. Langkahnya pun bergegas menuju tempat yang diberitahukan oleh wanita tersebut dan masuk ke dalam ruangan kelas Drama.
Dalam ruangan kelas drama itu, Grael dimintai datang oleh Dona dan juga Jack. Akan tetapi, saat dia berada di dalam ruangan kelas Drama, sama sekali tidak ada kedua temannya tersebut.
"Dona?" panggil Grael saat menelusuri ruangan tersebut.
Namun, Grael justru bertemu dengan Olivia bersama dengan ketiga temannya menghampiri ke arah dia. Mereka langsung mengelilingi Grael sembari tertawa.
"Jadi ini anaknya? Penampilan yang kampungan!" ucap salah satu teman Olivia.
"Ada apa ini, Kak Oliv?" tanya Grael yang bingung ketika semua menatapnya secara tidak suka.
"Ck! Grael, Grael ... Jangan lo kira Samuel deektin Lo, Lo menjadi merasa bangga gitu? Denger ya, Samuel itu hanya merasa iba sama lo! Jadi jangan kepedean deh jadi orang!" Olivia berdiri tepat di depan Grael, matanya menatap sinis ke arah wanita tersebut sembari memainkan ujung rambut Grael
"Maksudnya apa? Aku nggak ngerti sama sekali!" Grael menepis tangan Olivia.
Olivia tidak bisa terima atas perlakuan wanita yang sudah berhasil mengusik Diego langsung menjambak rambut itu. "Hai pelacur! Lu nggak ada kapoknya ya? Gua udah peringatin sama lo jangan pernah deket-deket sama Samuel! Gua udah ikhlasin Edward buat lo, jadi jangan pernah sejengkal pun lo dekat sama cowok gua!"
Grael mendongak ke atas ekspresi wajahnya menahan rasa sakit yang dijambak oleh Olivia. "Gua sama sekali nggak deketin cowok lo, tahu Samuel juga nggak!"
Olivia langsung lempar Grael ke arah temannya, karena begitu kesal mendapat jawaban dari wanita tersebut. Berkali-kali Olivia sudah memberitahu tetapi Grael sama sekali tidak mendengarkan peringatannya, bahkan wanita itu juga tidak tahu siapa yang bernama Samuel.
"Aakhh!" Grael meringis kesakitan saat rambutnya ditarik dan disuruh menunduk atau berlutut di bawah kaki Olivia oleh ketika teman yang bersangkutan.
"Hari ini gue bakalan kasih pelajaran sama lo, karena sudah terus mengabaikan peringatan dari gua!" Olivia langsung menyuruh ketiga temannya untuk memukul Grael tanpa henti.
Grael mencoba melindungi perutnya agar tidak terkena tendangan oleh ketiga wanita tersebut, dia mencoba bertahan agar seseorang bisa menyelamatkannya.
__ADS_1
"Ya Tuhan, selamatkan calon anakku!"
To be continued...