Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
40. Rencana misi sudah di rencanakan.


__ADS_3

"Bagaimana rasanya?" tanya Grael yang sedang menunggu jawaban dari ke kasihnya.


"Hmm, enak!" Rangga menyuap sesendok nasi goreng ke arah sang kekasih.


Mereka pun menikmati makan sepiring berdua, di temani oleh lagu romantis dari musik yang diputar memalui ponselnya. Saat-saat seperti inilah yang membuat Rangga semakin mencintai sosok kekasihnya tersebut.


***


Persiapan penginapan sudah siap, kini Rangga bersama teman-temannya berangkat menuju pulau di kota M. Rangga yang membawa mobil sendiri yang terdapat Irfan, Anjas, Veby dan Ernata, sedangkan teman-teman lainnya ikut bersama ketua masing-masing.


Perjalanan menuju lokasi memerlukan waktu empat jam untuk sampai ke villa, Rangga yang membawa mobil bergantian dengan Irfan. Begitu sampai di lokasi, semua langsung disambut oleh pemandangan yang luar biasa dengan pesona alamnya.


"Ay, kamu liat deh ... bagus banget!" ucap Rangga yang melakukan video call dengan Grael.


"Kamu sudah sampai?" tanya Grael.


"Iya, baru aja! Kamu lagi apa?" Rangga berdiri di dekat kolam ikan.


"Lagi—"


"Hayoo! Ngapain sendirian di sini! Eh coba, fotoin dong, Ngga!" Veby langsung menepuk punggung Rangga dan memberikan ponselnya kepada Rangga.


Grael yang mendengar suara Veby begitu dekat dengan Rangga, langsung mematikan sambungan teleponnya, sedangkan Rangga hanya bisa mengeluh dengan cara sikap Veby.


"Foto sendiri! Sibuk gue!" Rangga langsung menyerahkan ponsel Veby pada pemiliknya.


"Astaga, kejam banget, sih! Cuma minta fotoin doang juga, pelit! Rangga, tunggu!" Veby mengejar Rangga dan berlari menghampiri Pria yang dia suka.


Lobby utama begitu ramai ketika dua puluh orang yang ikut menginap di villa Irfan sudah mengumpul, masing-masing sepuluh orang berbeda villa dan kapten. Rangga yang sebagai ketua tim futsal, sedangkan Anjas sebagai ketua tim basket.


"Ok! Di sini gue—Rangga, sebagai ketua tim futsal, ingin memberi pengumuman bahwa kamar wanita ada disebelah kiri sedangkan kamar laki-laki ada di sebelah kanan, kalian boleh bebas ngapain aja, asal masih batas normal, jangan lupa untuk laporan kalau kalian ingin pergi keluar dari pulau ini," ucap Rangga yang menjelaskan.


"Gue cuma mau kasih sedikit tambahan, kalau kita akan menginap kurang lebih selama tiga hari, jadi selama tiga hari kita akan buat pesta api unggun di malam ke dua, di situ nanti kita akan mengadakan ujuk kebolehan, bagi yang mempunyai keluhan dan curhatan juga boleh!" ujar Irfan yang ikut satu tim dengan Rangga.


Semua pun mulai masuk ke dalam kamar mereka masing-masing, Ernata yang satu kamar dengan Veby dan Gea sedangkan Rangga dengan Irfan dan juga Anjas, meskipun terdapat dua villa, tetapi jarak villa satu dari villa dua hanya saling bersebelahan.

__ADS_1


***


Di sisi lain, Grael yang tengah sibuk menyiapkan segala keperluan pernikahan sang kakak, mencoba tetap tenang dan percaya dengan Rangga. Hatinya memang sakit dan sedih di saat dirinya sedang asik melakukan panggilan video call, tiba-tiba Veby merangkul begitu saja pundak Rangga.


Hal itu membuat Grael langsung mematikan sambungan teleponnya, dia tidak mau melihat atau mendengar apa yang mereka berdua katakan, karena itu membuat hatinya sakit. Dia memilih untuk tidak melihat dan mendengarnya, dia hanya menaruh rasa kepercayaannya pada Rangga.


"Aku percaya kok sama kamu," batin Grael yang mencoba menguatkan hatinya sendiri.


"Dek, temenin Kakak pingit, yuk!" ajak Gracia yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Grael.


"Hayuu!" Grael langsung beranjak dari kasurnya.


Aroma terapi dari kamar Gracia sungguh membuat Grael merasa rileks, apalagi ketika dia merasakan pijatan pada tubuhnya, membuat dia semakin terhanyut dalam sensasi pada tubuhnya.


"Dek, kamu udah tahu belum kalau ternyata, peneduh Group Jaya sudah berpisah alih sama anak pertamanya," ucap Gracia, ketika mereka berdua sedang dipingit. Namun, sang adik tidak menjawab pertanyaan dari kakaknya.


"Dek? Astaga ... dia tidur," ucap Gracia.


***


"Apakah dia juga ikut?" tanya Erlangga ketika dia berada di dalam mobil.


"Tidak, Tuan!" ucap Pak Ben yang sedang menyetir mobil.


"Bagus! Yo, jalankan misi ke dua, aku tidak mau terlalu lama!" ucap Erlangga yang menyuruh asistennya bergerak cepat.


"Sip, semua beres!" Rio menunjukan benda yang berada di dalam kantung plastik hitam.


Selama perjalanan, Erlangga terus membayangkan bagaimana bila rencana dia yang terakhir gagal, apakah dia tidak ada kesempatan untuk bersama dengan wanita sudah mencuri hatinya.


"Maafkan aku, bila aku harus merebutmu secara paksa," gumma Erlangga ketika menatap luar jendela.


Begitu sampai di tempat apartemen di kota M, Erlangga langsung melihat hasil laporan yang diberikan oleh Rio, dia menanyakan tentang posisi Rangga yang akan menjadi direktur di perusahaan tersebut, ketika Rangga sudah lulus sekolah.


"Sabar, Er! Masih satu tahun lagi, dia menjadi direktur perusahaan ini." Rio menepuk bahu Rangga ketika dia melihat ekspresi wajah Erlangga.

__ADS_1


"Apakah persiapan jumpa pers sudah dipersiapkan? Bagaimana bila gagal, Yo!" Erlangga sangat kesal bisa membayangkan dia tidak dapat mencegah pernikahan Rangga dengan wanita yang dia suka.


"Tenang saja! Ya jalan satu-satunya ... tinggal Lo culik aja, pengantin wanitanya. Bereskan?" ujar Rio sembari tertawa.


"Gak lucu!" Erlangga menepis tangan Rio dengan kasar.


***


Veby terus berupaya untuk bisa dekat dengan Rangga, mulai dari membantu segala keperluan Rangga, terus meminta tolong, bahkan Veby tidak sungkan-sungkan untuk mencuri kesempatan merangkul tangan Rangga.


"Veb, bisa jauhan dikit nggak?" Rangga melepas rangkulan tangan dari Veby.


"Aku tuh takut, Ngga!" elak Veby saat mereka berada di sebuah kapal speed boat yang berukuran kecil.


"Astaga! Kan ada Ernata, gak enak juga sama anak-anak kalau dilihat!" tegas Rangga memilih jauh dari Veby.


Rencana hari ini, Rangga ingin melihat batasan pada pulau menggunakan Speed boat milik Irfan, agar semua teman-temannya tidak melewati garis pembatas pada pulau tersebut.


Di dalam Speed boat terdapat Ernata, Veby dan juga Anjas, membantu Rangga mengecek sekita daerah pulau. Akan tetapi tugas Rangga selalu digerecoki oleh Veby yang selalu menempel pada Rangga ke manapun kekasih Grael itu pergi.


"Gatel!" celetuk Ernata saat melihat Veby yang selalu mengekori Rangga.


"Ngga, mau ... aku maunya, sama kamu, kalau sama Ernata sama-sama takut," elak Veby.


"Ya, kalau takut kenapa ikut?" Rangga semakin kesal dengan Veby.


"Kan kamu sendiri yang tahu, anak-anak pasti bakalan bully aku!" rengek Veby dengan manja.


"Alesan!" gerutu Ernata, dia bangun dari duduknya dan mendekat ke arah Rangga.


"Ngga, tolongin gue dong, bukain ini." Ernata berdiri di tengah-tengah Veby dan Rangga, bahkan wanita itu tidak segan-segan untuk menggeser posisi Veby agar lebih jauh dengan Rangga.


Veby yang mulai menyadari sikap Ernata yang ingin menjauhkan dia dari Rangga, hanya menahan emosinya, dia pun duduk dekat dengan Anjas sembari melirik sinis ke arah Ernata.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2