Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
120. Bulan madu ala pewaris Grup Jaya


__ADS_3

"Kak?" panggil Grael ketika dia mulai tersadar ternyata sudah berada di dalam sebuah kamar yang dihias secantik mungkin.


Tangan Grael meraba seprai tempat tidur disebelahnya yang penuh dengan kelopak bunga mawar, matanya melihat ke arah tubuhnya yang masih polos dan hanya dililit oleh selimut. Dia pun bangun duduk, melihat sekitar ruangan yang ternyata sang suami sibuk dengan laptop nya.


"Aaissh, katanya bulan madu! Tapi masih saja pegang laptop!" gerutu Grael. Dia menurunkan kakinya dan menghampiri Erlangga.


"Kak?" Grael duduk di samping sang suami yang masih berkutik di depan laptopnya dan dengan cepat Erlangga menggeser posisi laptopnya sembari di tutup agar tidak mengarah ke arah Grael yang masih di balut selimut.


"Sayang, kamu bangun?" Erlangga berangkul sang istri lalu mengecup keningnya.


"Kakak lagi apa sih? Kok langsung ditutup laptopnya?" Grael bersandar di bahu Erlangga.


"Lagi bicara sama Rio? Kenapa?" tanya Erlangga sembari mengusap kepala istrinya.


"Masalah pekerjaan?" Grael meraih laptop tapi dicegah oleh Erlangga.


"Jangan, kamu masih pakai selimut!" Erlangga mencubit hidung sang istri dan membuat Grael mengeluh kesakitan sembari memasang bibir cemberutnya. Tentu saja itu membuat Erlangga langsung melahap bibir seksi sang istri.


Sementara Rio yang mendengar percakapan Erlangga dan Grael hanya bisa menahan cemburunya, mungkin suatu saat dia bisa melupakan istri atasannya itu dan mau membuka hati untuk wanita lain.


"Tidurlah, besok agenda kita padat!" tutur Erlangga yang mendapat anggukan dari Grael.


"Temenin," ucap Grael dengan manja.


"Yakin? Aku nggak jamin bisa menemani kamu begitu saja!" goda Erlangga yang mulai meremas benda kenyal yang ada di depannya.


"Haruskah?" rengek Grael yang memasang wajah melas agar sang suami kasih keringanan untuknya.


"Ok, baiklah! Untuk malam ini, aku akan menemanimu tidur nyenyak malam ini, Tuan Putri!" Erlangga langsung menggendong Grael dan membawanya ke atas tempat tidur setelah dia memberi instruksi terhadap Rio.

__ADS_1


Erlangga memeluk Grael dari samping sembari menepuk lembut pundak halus itu, membiarkan Grael larut dalam kenyamanan tidur di lengannya.


...----------------...


Hamparan air laut yang jernih, serta ombak yang menyapa manja dengan suara deburan yang begitu merdu membuat Grael berlari menyambut hangat deburan ombak tersebut.


Tangan yang merentang diiringi langkah kaki yang berlari kecil serta suara tawa riang, membuat Grael terlihat bagaikan bidadari tanpa bersayap di mata Erlangga.


Baju bikini yang dipakai oleh Grael walaupun tidak terlalu terbuka karena sang istri memilih agar cupangan pada tubuhnya tidak terlalu terekspos tetap tidak mengurangi kesan seksi pada tubuh istrinya. Dia tersenyum melihat Grael begitu gembira berlari ke sana ke mari seperti anak kecil ketika dia mendaratkan bokongnya di kursi pantai.


"Sayang, ayo!" ajak Grael yang menarik tangan Erlangga.


"Duduk dulu!" Erlangga menarik tangan Grael agar duduk di hadapannya dan mengambilkan sunblock.


Perlahan dengan lembut Erlangga membalurkan krim pada kulit Grael, mulai dari tangan, ke punggung sampai ke kaki. Begitu selesai, Erlangga langsung mengajak Grael untuk berseluncur.


"Tapi aku takut, Yank!" ucap Grael, karena ini pertama kali mencoba naik papan seluncur meski sudah di ajari oleh Erlangga. Dia pun merebahkan bagian dadanya menghadap papan selancar dan mengikuti arahan sang suami.


Sontak saja Grael memeluk Erlangga dengan erat, dan itu membuat sang suami tertawa senang sembari menjahili dengan melepaskan rangkulannya. Tentu saja, Grael menarik leher Erlangga dengan kencang agar tidak terlepas.


"Iih, Kak Erlangga!" bentak Grael sembari memukul dada bidang Erlangga.


"Ok, maaf! Abis aku nggak tahan lihat kamu begitu menggemaskan!" ucap Erlangga yang masih tertawa bahagia mengerjai istrinya.


Di sela-sela canda tawa mereka, tiba-tiba Pak Beni memberi kabar bila Josua meneleponnya, mendengar hal itu Erlangga menarik tangan istrinya untuk ikut bersamanya. Akan tetapi, Grael memilih untuk tetap di pinggir pantai.


"Awasi, dia!" tukas Erlangga dengan serius kepada Beni, lalu meninggalkan Grael.


Selama Erlangga berbicara pada Josua, Grael menikmati matahari pagi menjelang siang. Namun, dari arah yang tidak terduga bola hampir mengenai kepala Grael apabila Beni tidak menghadangnya dengan cepat.

__ADS_1


Pemilik bola berlari kecil menghampiri Grael yang masih terkejut, sembari berkata, "Sorry, Lo ... nggak apa-apa kan?"


"It's okey! No problem!" ucap Grael dengan ramah, dia pun mengambil bola voli tersebut.


Melihat sikap Grael yang ramah dengan senyuman manis, membuat pemilik bola itu mengulurkan tangannya. "Gue, Steven!"


Grael pun melirik Beni saat pria paru baya itu berdiri tepat di hadapan mereka berdua, menandakan bahwa Grael dilarang membalas uluran tangan pria lain termasuk berkenalan.


Steven tertawa kecil, dia mengira gadis cantik yang ada di depannya ini adalah seorang anak dari latar belakang keluarga yang terhormat sampai membawa seorang pengawal untuk menemaninya.


Kedua teman Steven menghampiri mereka berdua, dan menanyakan siapa gadis cantik di depan matanya. Steven pun menjelaskan kepada kedua sahabatnya bila gadis yang ada di depannya adalah mangsa barunya dengan menggunakan bahasa Negera tersebut yang membuat Grael tidak mengerti ucapan Steven. Namun, Beni yang mengerti maksud dari Steven langsung memasang badan.


"Jaga ucapan Anda dan lebih baik Anda segera pergi dari sini sebelum saya mengajari Anda sopan santun terhadap orang yang baru saja Anda kenal!" ucap Beni dengan menggunakan bahasa negara tersebut.


"Wooow! Siapa dia bro?" tanya salah satu sahabat Steven.


"Hanya seorang pengawal setia," celetuk Steven yang merasa kagum, kemudian dia mengucapkan kata maaf karena sudah lancang mengatakan sedemikian rupa pada Grael.


"Sekali lagi, maaf!" Steven mengambil bola dari tangan Grael dengan sengaja dia pun mengelus tangan gadis itu.


Dalam hitungan beberapa detik tangan Steven sudah di cengkeram kuat oleh Beni, dan itu membuat Steven meringis kesakitan untuk mencari rasa empati dari Grael.


"Pak Ben, udah stop! Lepasin dia! Udah, mending kita pergi!" Grael mencoba melepaskan cengkraman Beni dari Steven agar tidak terjadi keributan. Dia tahu Beni hanya ingin menjaganya, tapi karena Grael tidak mengetahui ucapan Steven yang melecehkan dirinya, menganggap bahwa Steven hanya orang baik.


Beni pun lebih memilih untuk mendengarkan ucapan majikannya dan menutupi tubuh Grael dari pandangan lapar Steven dan teman-temannya.


"Max, cari tahu siapa dia, dan menginap di hotel mana!" Steven tersenyum licik saat matanya terus melihat kepergian gadis yang baru saja dia temui.


"Loh, Kak Erlangga ke mana?" tanya Grael saat dia mendekat ke arah kursi pantai yang dia duduki oleh Erlangga.

__ADS_1


"Cari aku?" Erlangga langsung memeluk tubuh Grael dari belakang sembari memberikan minuman khas pantai tersebut.


To be continued...


__ADS_2