Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
162. Best Friend Forever


__ADS_3

"Alhamdulillah, akhirnya ... bisa rebahan juga!" Ernata menjatuhkan tubuhnya di atas kasur yang empuk saat mereka sudah tiba di negara asing.


"Ya Tuhan, nyaman banget!" ucap Gea, dia bergulang-guling di atas tempat tidur.


Melihat kedua teman sekamarnya mencoba tempat tidur kamar hotel membuat Grael tertawa sembari menggelengkan kepalanya, dia pun menaruh koper dan juga ikut merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Huuuf, senyamannya kasur hotel, masih nyamanan kasur di rumah!" celetuk Grael dengan terkekeh.


Ernata langsung bangun dari tidurnya dia melempar bantal ke arah muka Grael. "Iya deh yang punya mansion dan tempat tidur paling nyaman dengan bantal yang empuk, ya ... suami sendiri!"


"Apa sih, Nat!" Grael membalas melempar bantal ke arah Ernata.


"Eh iya, El. Lo, ada hubungan apa sih sama Erlangga?" Gea tiba-tiba bangun dari tidurnya dan melihat ke arah Ernata dan juga Grael.


Sontak saja keduanya, baik itu Grael dan juga Ernata mereka langsung tertawa mendengar ucapan Gea, mereka sudah tidak heran dengan sikap Gea yang sedikit telmi alias telat mikir. Kendati demikian, mereka tetap sayang dan mau bersahabat dengan Gea, menurut mereka Gea adalah sahabat yang menjadi pewarna di kisah persahabatan mereka yang baru, usai Veby memutuskan untuk pergi dari kehidupan mereka.


"Ya Allah, temen Lo tuh, El!" sindir Ernata yang menepuk jidatnya.


"Ya ampun besti ... dia suami aku!" jawab Grael dengan sabar sembari mencubit pipi Gea hingga sahabatnya itu meringis kesakitan.


"Sumpah loh? Sejak kapan?" Gea melepaskan cubitan dari Grael, dia menatap serius ke arah sahabatnya itu.


"Ya Tuhan!" Grael menepuk jidatnya begitu dengan Ernata sembari kembali merebahkan tubuhnya.


"Ih, kok bisa sih? Coba dong cerita!" ucap Gea yang merengek, dia menggoyangkan tangan Grael agar sahabatnya itu mau menceritakannya. "Terus lo udah, udah ... udah ... ML, dong?"


Grael tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan dari Gea, dia melempar bantal ke arah Ernata lalu pergi ke arah kamar mandi. Membiarkan Gea menunggu jawaban cerita darinya dengan rasa penasaran yang semakin tinggi.


"Besti, jelas dia sudah ML lah ... namanya juga udah married!" Kini Ernata yang melempar bantal ke arah wajah Gea.

__ADS_1


"Kan gue cuma nanya, Besti! Emang lu nggak penasaran apa, denger cerita dia waktu malam pertamanya? Kan gue pengen denger! Lu bayangin aja, bisa malam pertama sama artis idola! Aaaakk!" Gea menunjukkan ekspresi wajah yang histeris membayangkan apa yang ada di pikirannya.


"Wah ... gila! Lo kalau urusan kayak gini, cepat banget nyambungnya!" Ernata tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Gea, sampai dia memegang perutnya.


Gea pun hanya cengengesan, seakan membenarkan ucapan sahabatnya itu. Dia bangun dari tempat duduk nya lalu melihat ke arah cermin menilai sendiri penampilannya dan bertanya kepada sahabatnya itu tentang penampilannya selama ini.


"Apapun penampilan lo, lo tetap sahabat kita! Jangan dengarkan apa kata orang lain, jadi diri lo sendiri! Percaya sama gua, suatu saat pasti ada cowok yang mau sama lo apa adanya, nggak hanya melihat dari penampilan lo doang!" Ernata bangun dari tempat tidurnya lalu menghampiri Gea mengusap bahu sahabatnya itu seraya melihat ke arah cermin.


"Tapi gue pengen kayak Grael, tampil modis!" lirih Gea, dia menundukkan wajahnya melihat penampilannya yang sedikit kuno.


Pada saat itu juga Grael keluar dari kamar mandi dan mendengar cerita Gea, langkanya menghampiri wanita bergigi behel itu lalu membuka kacamata dan membuka kuncirannya, kemudian melirik ke arah Ernata seraya menganggukkan kepalanya bersamaan dengan sahabatnya itu.


"Tenang besti ... ada kita berdua kok yang bakal bikin lo tampil cantik! Eh maksudnya, tampil tambah cantik." Ernata mencubit hidung Gea.


"Serius, kalian mau bantu aku?" tanya Gea yang dianggukan oleh kedua sahabatnya. "Oh so sweet! Thank you bestie, kalian memang sahabatku forever!"


...----------------...


"Fan, lu ngapain sih, di kamar mandi lama banget? Buruan, kebelet nih, gua! Gantian!" Maki Rangga yang menggedor-gedor pintu kamar mandi hotel yang berada di dalam kamar mereka. "Fan, lu masih hidup kan? Fan!"


Tidak ada sahutan dari Irfan, Rangga menjadi cemas dan pikirannya sudah melayang jauh, dia berpikir bahwa Irfan kenapa-napa berada di dalam sana, sampai dia pun memanggil Anjas dengan ekspresi panik.


"Anjas, Anjas!" teriak Rangga yang berusaha untuk membuka pintu dengan mendobraknya.


"Ada apaan sih rame banget?" Anjas berlari menghampiri Rangga yang sedang panik.


"Bantuin gue dobrak ini pintu! Irfan, Njas! Irfan!" ucap Rangga yang semakin panik karena belum berhasil membuka pintu.


"Astagfirullah! Kenapa Irfan?" Tanpa berpikir panjang dan tanpa bertanya-tanya lagi Anjas membantu Rangga mendobrak pintu itu.

__ADS_1


"Fan, sabar, Fan!" teriak keduanya.


Sementara Irfan yang berada di dalam kamar mandi itu, dengan perasaan yang kesal dan hati yang dongkol mempercepat olahraga tangannya di bawah sana. Semakin dia mendengar dobrakan pintu itu semakin cepat pula mengurut aset miliknya.


"Aaaakhh, Gea! Aaah ... shhit!" rancauan Irfan ketika sampai pada kepuasannya, dia pun langsung bergegas membersihkan dirinya dengan air yang turun dari pancuran shower. Selesai mandi dengan ala koboi, Irfan mematikan kerannya dan memakai handuk. Begitu pintu kamar mandi dia buka, kedua sahabatnya langsung terjatuh ke lantai.


"Aadduh ... anjrit! Sakit pantaaat gua!" keluh Rangga yang berusaha bangun dari terjatuhnya. Begitupun sama halnya dengan Anjas.


"Lo berdua ngapain sampai sujud di kaki gua?" tanya Irfan saat melirik ke bawah.


Rangga dan Anjas pun mendongak ke atas, melihat Irfan dalam keadaan segar bugar sehabis mandi. Mereka bangun lalu menepuk pantat mereka lantas melihat dengan memutar tubuh Irfan memastikan sahabatnya itu tidak kenapa-napa.


"Apaan sih?" hardik Irfan.


"Lu nggak apa-apa?" tanya Anjas yang khawatir.


"Dah bodo amat, ah! Gua udah kebelet! Awas, awas, awas!" Rangga langsung membanting pintu kamar mandi dan membuat kedua sahabatnya itu melempar tatapan sinis.


Dalam hitungan detik terdengar suara Rangga yang berteriak dari dalam kamar mandi, "Anjriet, lo, Fan! Gua kira lu koit, tau-taunya Lo abis Colly! Bang ke, emang Lo!"


Rangga langsung membuka pintu kamar mandi, dan melempar batang sabun pada Anjas. "Gila, ulah temen Lo tuh! Bingung gua, sabun batang sampai kaya donat begitu! Bolong di tengah!"


Anjas langsung melihat sabun itu yang dia ukur dengan matanya, "Anjay ... punya lu kecil ukurannya!"


"Sue Lo semua! Enak aja, Lo mau liat seberapa gedenya punya gua?" Irfan ingin membuka handuk yang melingkar di pinggang, lantas kembali berkata, "Itu bukan sama gua, model sabunnya aja yang kayak gitu! Norak, baru liat sabun yang bentuknya bolong kaya donat kan Lo berdua?"


"Mana ada pabrik sabun produksi sabun batang kaya donat, bolongnya di tengah, yang ada juga lo yang bolongin!" ucap Rangga yang kemudian dia teringat sesuatu untuk memastikan. "Jangan bilang lu colly dunia fantasi lo Grael?"


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2