
Secara perlahan adik ipar Grael membawa dia menuju kamar hotelnya, bisa dia lihat dari posisinya yang digendong oleh Rangga, leher jenjang dengan jakun yang terlihat, debaran jantung yang berdegup normal serta wangi ciri khas yang pernah dulu dia rindukan membuat Grael tersadar bila sekarang pemuda yang membawanya ini sudah tidak memiliki perasaan apapun terhadap dirinya.
"Jangan liatin terus! Nanti jatuh cinta lagi sama gua repot! Emang lo nggak liat? Udah ada cap stempel milik wanita lain!" ucap Rangga yang tahu bila saat ini Grael terus menatapnya.
Bukannya marah dengan ucapan Rangga, Grael justru mempererat pelukannya di leher adik ipar itu seraya menyadarkan kepalanya, dia menghirup aroma wangi ciri khas seorang Rangga yang berbeda dengan suaminya yang jauh lebih membuat dia berdebar dan merasa candu saat mencium wangi tubuh Erlangga.
"Ngga, kalau sekarang kita suami istri, terus sampai saat ini gua belum hamil apa yang elo rasain? Apa lo bakalan marah sama gua? Apa lo bakalan ninggalin gua? Apa lo bakalan selingkuh? Apa lo ba—"
Rangga langsung membenturkan kepalanya ke kepala Grael, hingga membuat wanita itu meringis kesakitan, Rangga melakukan itu agar kakak iparnya itu berhenti berbicara. Menurutnya, apa yang diucapkan oleh Grael sama sekali bukan tipe dirinya atau pun Erlangga.
"Nggak usah nangis, udah buruan buka pintunya! Lebay banget! Berat nih!" bentak Rangga yang saat itu juga Grael langsung membukakan pintu kamar tersebut.
Grael hanya terdiam ketika Rangga menaruhnya di atas tempat tidur secara perlahan dan mengambil air hangat untuk mengompres kakinya yang terbentur oleh meja, dia melihat adik iparnya membasuh kakinya.
"Jangan menangis! Gua yakin, Kak Erlangga nggak akan seperti yang Lo bayangin! Gua tahu dia kaya gimana cintanya sama Lo! Toh kalau kita saat ini suami istri, gua pun akan tetap setia dan sayang sama Lo, nggak peduli masalah anak yang belum kunjung hadir! Kita bisa mengadopsi anak, bisa program bayi tabung, masih banyak cara lainnya, El!" Rangga menghapus air mata Grael.
"Lo nggak tahu posisi gua, Ngga!" lirih Grael yang menundukkan kepalanya.
"Gua tahu posisi lo! Gue tahu apa yang lo rasain saat ini! Karena Lo pernah menjadi sebagian hidup gua, El ... dan saat ini pun juga lu masih bagian hidup gua! Bagian hidup keluarga Louis!" Rangga memeluk Grael dengan erat membiarkan kakak iparnya itu menangis dalam pelukannya.
"Kak Erlangga itu sayang dan cinta mati sama Lo, jadi Lo jangan pernah berpikir Erlangga akan ngelakuin seperti apa yang Lo ucapakan tadi! Karena gua tahu, dia bukan tipe orang yang seperti itu!" timpal Rangga yang mengingatkan Grael seraya mengusap rambut panjang itu dan mempererat pelukannya.
Satu kecupan pun melayang di pucuk kepala Grael oleh Rangga, belaian setiap elusan yang Rangga berikan pada wanita itu membuatnya perlahan terlelap dalam tidurnya hingga Rangga bisa merasakan deru napas Grael yang sudah teratur.
Rangga membenarkan posisi Grael dengan merebahkannya secara perlahan, lantas menyelimutinya seraya mengecup kening wanita itu, tetapi saat kecupan itu belum usai tiba-tiba dari arah pintu semua teman-teman pada datang dengan suara berisik.
__ADS_1
"El, Rangga liat nih! Kita bawa apaan untuk kalian berdua—"
"Ssst!" Rangga menempelkan jari telunjuk ke arah bibirnya, menandakan agar teman-temannya itu tidak boleh berisik.
"Wah, wah, wah! Ngapain Lo? Wah ... Gua aduin kakak Lo, loh Nggah! Ingat, dia itu Kakak ipar Lo!" ucap Anjas yang menaruh makanan di atas nakas tetapi tiba-tiba dia mendapatkan lemparan bantal dari Rangga.
"Lo, kalau berisik keluar deh! Bacot lo kayak emak-emak, njir!" Rangga kembali menepuk bahu Grael, saat tangannya mendapatkan dekapan dari wanita itu. Seakan dia menidurkan anaknya yang masih bayi.
Ernata hanya menahan tawanya bersama Gea ketika melihat sikap Rangga yang begitu perhatian pada kakak iparnya, mereka pun duduk di sofa untuk membuka bungkusan makanan yang datang dari seseorang.
"Gila, salut gua sama Lo, Nggah! Bisa nidurin Grael!" celetuk Irfan yang mengambil minuman dari kantong kresek.
"Ya ampun, Irfan! Ucapan Lo, ambigu sekali! Nidurin!" Ernata tidak sengaja tertawa lepas saat mendengar penuturan yang Irfan ucapkan, beberapa detik kemudian dia pun juga mendapat sumpelan mulut dari Rangga menggunakan sepotong makanan yang mereka bawa.
"Bukan, makanan dari kak Hans habis semua di makan sama Irfan!" Anjas tertawa saat melihat Irfan cemburu terhadap Hans ketika Gea berusaha mendekati Hans.
Rangga pun ikut tertawa dengan ucapan Anjas, mungkin dia akan melakukan hal sama bila Hans menggoda Emira. Dia pun duduk di samping Anjas dan juga Ernata.
"Ngga, si El habis nangis?" tanya Ernata dan mendapatkan anggukan dari sang empu.
"Elo apain sampai El tidur?" tanya Irfan.
"Enggak gua apa-apain," sahut Rangga dengan enteng ketika dia mengambil kaleng minuman yang tidak asing, menurutnya itu minuman yang biasa Erlangga beli untuk dia. Namun, Rangga masih belum menyadarinya.
"Ngga, baju Lo kok basah gini? Lo abis ...." ucap Gea yang melihat kaos Rangga lebih dekat saat itu juga yang lain ikut memperhatikan baju Rangga.
__ADS_1
"Ya, kan dia abis nangis! Gimana si?" sahut Rangga yang menjauhkan tubuhnya dari pandangan semua teman-temannya.
"Jangan bilang dia nangis dipelukan Lo?" Tunjuk Anjas ke arah Rangga.
"Ya, iyalah di pelukan gua! Masa iya dia nangis di paha gua terus yang basah di baju gua?" ucap Rangga yang mengenggak minuman kalengnya.
"Aaahhhpppp!" Gea membulatkan matanya ketika melihat seseorang yang berdiri di belakang Rangga, sedangkan mulutnya di bekap Irfan. Semua orang pun gugup dan hanya terdiam ketika tahu siapa orang yang berada di belakang Rangga.
"Kalian kenapa sih?" Rangga membuka kulit kacang lalu memakan isi kacangnya.
"Nggak, kok! Nggak kenapa-kenapa, ehmm ... jadi, Lo sama Grael berduaan di kamar peluk-pelukkan?" tanya Irfan yang sengaja memancing ternyata mendapat tepukan paha oleh tangan Anjas.
"Kenapa? Cemburu lo? Gua bisa peluk-pelukkan sama Grael, berduaan di dalam kamar?" ucap Rangga yang membuat seseorang yang ada di belakang langsung terbakar oleh api cemburu.
"Nggak! Nggak sama sekali, kalau gitu gua balik duluan ke kamar ya!" Irfan perlahan bangun dari duduknya.
"Gu–gua juga duluan balik ke kamar!" ucap Anjas yang tersenyum garing ke arah belakang Rangga. "Fan, gua ikut! Tunggu gua!"
"Kalau gitu ... gua sama Gea mau ke kamar Lucy dulu ya, Nggah. Soalnya gua mau maskeran wajah sama mereka, ya kan, Ge?" Alibi Ernata yang langsung bangun dari tempat duduknya lalu mengajak Gea.
"I–iya, betul!" sambung Gea ragu-ragu.
"Loh, wooii! Kok pada pergi?" Rangga di buat bingung sama semua teman-temannya. Dia pun masih asik memakan kacang.
To be continued...
__ADS_1