Kesayangan Sang Pewaris

Kesayangan Sang Pewaris
38. Pelantikan Erlangga


__ADS_3

Ujian kenaikan kelas pun di mulai, sudah seminggu lebih semenjak Grael dan Rangga memutuskan untuk tidak melewati batas normal pacaran. Selama itu pula Rangga sudah berjanji untuk menjaga jarak dari Veby, begitu juga Grael yang mencoba menjaga jarak pada Irfan.


Hubungan mereka semakin dekat dan harmonis, bahkan keluarga mereka sudah menentukan pernikahan mereka yang akan dilakukan usai kenaikan kelas nanti. Erlangga yang mengetahui semuanya, merasa gelisah dan gusar. Namun, Rio terus meyakinkan perasaan Erlangga bahwa semua akan baik-baik saja.


"Sabar, kawan!" Rio melempar bukti dan surat penangkapan para tikus-tikus kotor sembari tersenyum ke arah Erlangga.


Erlangga mengambil bukti yang Rio berikan, dia tersenyum saat hari ini dia beraksi merebut kembali apa yang selama ini dia mengalah demi adik tiri kesayangannya.


"Thanks, Brother." Erlangga memeluk Rio dan segera bersiap-siap untuk melangkahkan kakinya ke tempat yang seharusnya dari dulu dia berdiri.


***


Perusahaan Group Jaya, yang saat ini masih dipegang oleh Josua, ketua perusahaan. Mengumpulkan semua karyawan bagian petinggi untuk menghadiri rapat pertemuan mendadak.


Josua yang selama ini tenang dalam memimpin perusahaan terbesar di kotanya, kini merasa gusar, ketika Erlangga memberi kabar akan datang ke perusahan sebagai pemilik sah yang akan menggantikan posisinya.


Selama ini Josua yang menganggap Erlangga tidak akan pernah tertarik untuk menggantikan dia sebagai ketua pemimpin Group Jaya, akan senang bila Rangga anak keduanya yang akan menggantikan dia setelah Rangga lulus sekolah.


Semua anggota karyawan perusahaan Grup Jaya sudah berkumpul di ruang rapat, begitu juga ketua Grup Jaya yang baru saja tiba bersama asisten pribadinya. Josua duduk di kursi kebanggaannya untuk memimpin rapat.


"Ok, sebelum rapat ini dimulai, saya akan memperkenalkan anak saya yang pertama, Erlangga Louis," ucap Josua yang memperkenalkan sang anak dengan terpaksa.


Ini pertama kalinya, Josua memperkenalkan Erlangga secara langsung, karena selama dua puluh tahun, baik itu dari Josua ataupun Erlangga, mereka sama-sama merahasiakannya dari publik. Semua karyawan Group Jaya memang sudah mengetahui anak pertama Josua, tetapi mereka tidak tahu siapa sosok anak pertama yang sebenarnya dari Josua.


Begitu juga dengan Erlangga Louis yang merahasiakan latarbelakangnya, ketika publik hanya tahu dia berasal dari keluarga sederhana. Kini Erlangga hadir di perusahaan Grup Jaya, sebelum dia menunjukkan jadi dirinya saat mengadakan jumpa pers selanjutnya di depan banyak wartawan.


Semua mata tertuju pada sosok Erlangga yang perlahan mulai memasuki ruangan rapat tersebut, tidak hanya datang sendiri, Erlangga pun didampingi oleh manager-nya sekaligus pengacara.


Karyawan yang duduk di kursi langsung berdiri ketika Erlangga sudah hadir di ruang rapat tersebut. Josua pun mulai menyampaikan bahwa mulai hari ini dia akan melantik anak pertamanya di Grup Jaya.


Pengacara Erlangga pun menyampaikan beberapa kata tentang penyerahan tugas yang akan diemban oleh anak pertama Josua, dia juga menginformasikan mengenai data karyawan yang terlibat dalam penggelapan uang perusahaan kepada Josua.


Josua yang menerima beberapa dokumen dari pengacara Erlangga begitu kesal, dia mau tidak mau harus memecat sebagian karyawan kepercayaannya dan membiarkan polisi untuk membawa karyawan yang terbukti bersalah.

__ADS_1


***


Setelah selesai ujian hari terakhir, sebagian anggota dari masing-masing ekstrakulikuler mengadakan liburan, termasuk anggota tim futsal dan tim basket berserta tim cheerleaders girls. Irfan yang menjadi salah satu anggota club futsal merekomendasikan villa pribadi keluarganya yang berada di pulau kota M.


"El, lo ... beneran gak ikut?" tanya Ernata.


"Gak deh, kasian nyokap ... gak ada yang bantuin ngurus nikahan Kak Cia," ucap Grael kepada Ernata.


"Tapi ... Rangga, ikut loh ... dan, ada Veby," bisik Ernata.


"Ya, dia kan jadi ketua tim futsal, masa gak ikut, sedangkan Veby anggota tim cheerleaders girls." Grael mulai berdiri dari kursinya.


"Gue percaya kok, sama Rangga." Grael tersenyum ke arah Ernata lalu keluar dari kelasnya.


Rangga yang sudah menunggu Grael di depan pintu gerbang sekolah, membukakan pintu mobil untuk kekasihnya. Grael pun melambaikan tangan pada Ernata sedangkan Rangga mengklason kepada sahabatnya Grael.


"Ay, masa kamu gak ikut sih? Nanti aku gimana kalau gak ada kamu?" tanya Rangga melirik sekilas ke arah Grael.


"Malas, aakkh!" Rangga memasang wajah masamnya.


Selama perjalanan Rangga pun hanya terdiam, rasa kesalnya dia luapkan melalui klakson saat sedang macet total. Grael yang melihat Rangga emosi mencoba untuk memberi pengertian pada kekasihnya itu, tetapi tetap saja Rangga tidak mau mendengarkan penjelasannya.


"Ok, aku akan ikut, tapi—"


"Tapi, apa?" Rangga bertanya dengan intonasi suara yang meninggi.


"Setelah aku selesai mengurus persiapan kak Cia," ujar Grael.


"Astaga, ay ... acara liburannya, keburu selesai kali." Rangga menatap sinis ke arah kekasihnya.


"Ya, masa aku biarin mama yang mengurus keperluan, kak Cia? Kan, masih ada satu hari, ke burulah," ucap Grael yang mencoba kasih pengertian pada Rangga.


"Terserah deh," ucap Rangga dengan malas.

__ADS_1


Mobil pun sampai di depan rumah Grael, gadis itu menunggu Rangga untuk berbicara satu atau dua kata sebelum dia turun dari mobil kekasihnya. Namun, Rangga tetap bergeming, dia enggan untuk menatap kekasihnya itu turun dari mobil.


"Mau aku temenin besok, beli perlengkapan?" Grael menarik dagu Rangga.


"Gak cukup, hanya itu saja!" Rangga langsung memeluk tubuh Grael dengan erat.


"Kamu ini, kaya mau pisah lama aja! Cuma dua hari gak ketemu, Rangga." Grael melepas pelukan dari Rangga, dia mencubit pipi kekasihnya dengan gemas.


Entah apa yang Rangga rasakan tapi dia benar-benar tidak mau berpisah dari kekasihnya walau hanya sehari, rasanya berat bila dia tidak bertemu apalagi berjauhan dengan Grael.


"Seharian pokoknya harus temani aku!" ucap Rangga yang begitu berat.


"Iya," jawab Grael.


"Panggil sayang dulu," pinta Rangga. Dia kembali memeluk tunanganya.


"Iya, Sayangku." Grael membalas pelukan Rangga.


"Kiss." Rangga memajukan bibirnya agar Grael mau menciumnya.


Grael tersenyum, dia mencium sekilas bibir Rangga tapi dengan cepat Rangga menahan tengkuk leher gadis itu untuk memperdalam ciumannya.


Cukup lama Rangga mellumat bibir kekasihnya itu dengan penuh penekanan di setiap hisapan, sampai napas keduanya tersengal. "Ay, aku bener-bener mencintai kamu, aku gak sabar untuk menunggu di mana kamu dan aku mengucapkan janji suci."


"Sabar, dua minggu lagi ... setelah kak Cia resmi jadi istri kak Marvin." Grael mengelus pipi Rangga.


"Lama, ay ... maunya sekarang," ucap Rangga dengan manja.


"Kamu, kenapa sih? Aneh banget, dah ah ... nanti kita ketangkep basah sama warga, nanti disuruh nikah paksa lagi." Grael membuka pintu mobil Rangga lalu segera turun.


"Biarin, ay ... kan jadi enak, lebih cepet," celetuk Rangga. Grael hanya menggelengkan kepalanya ketika melihat tingkah Rangga yang aneh.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2