
Nayna melirik jam tangannya. Masih kurang lima belas menit lagi dari janji pertemuan yang di sepakatinya, Nayna sudah memarkirkan mobilnya di sebuah BUMN di kotanya.
Hari ini Nayna mesti menemui langsung direktur utamanya. Sebenarnya kontrak dan sebagainya telah selesai dibuat kesepakatannya. Proyek sudah di dapat Nayna dan sudah pula di tanda tangani sang direktur. Tapi menurut sekretaris direktur kemarin, direktur memang selalu bertemu langsung dengan atasan atau penanggung jawab proyek tiap kali ada proyek kerjasama kantor. Dan bisa di paatikan kalau direktur tersebut masih muda, tampan dan jujur, sangat loyalitas pada negara. Dia menjamin dan memastikan tidak ada suap, koneksi dan korupsi pada masa jabatannya. Wuuihhh......Nayna benar-benar kagum, dia megangkat kedua jempulnya tanda kagum. Zaman sekarang ini, saat orang-orang tidak lagi berfikir waras, dan menggunakan segala cara bail yang masuk akal maupun tidak. Tuhan masih menciptakan satu yang amanah.
"Silahkan nona, pak direktur sudah menunggu ada di ruangannya," sekretaris itu mempersilahkannya masuk setelah dia meminta izin ke dalam.
Nayna sempat melirik perempuan itu, wanita yang cantik, pikir Nayna. Ah, dia terlalu sering membaca novel yang selalu menceritakan perselingkuhan sekretaris dan direkturnya, Nayna membuang jauh-jauh prangkasanya barusan.
"Selamat siang pak, saya Nayna," ujarnya di depan meja sang direktur. Sementara direktur sepertinya sedang mengangkat telp dan membelakanginya.
Nayna diam saja menunggu sang direktur menyelesaikan pembicaraannya.
"Ah, maaf saya mendadak mendapat telp penting barusan," dia membalikkan kursinya menghadap Nayna.
"Nay......," laki-laki itu terkejut, menatap Nayna tidak percaya
__ADS_1
Sama halnya dengan Nayna. Dia melongo membuka mulutnya dan melotot tajam. Benarkah laki-laki ini dia, Neyna masih belum mempercayai pengelihatannya.
Sekilas Nayna mencubit tangannya, awww.....terasa sakit, ternyata benar, gumam Nayna sedikit memulihkan kesadarannya.
Ya Allah, kenapa dua-duanya harus kutemui kembali, batin hati Nayna.
Lima tahun lamanya, dia telah menutup cerita semua yang menyangkut masa lalunya itu. Lima tahun sudah Nayna berusaha bangkit dari keterpurukannya, dan ketidak beruntungannya akan cinta.
Kemarin secara tidak sengaja dia bertemu Rendi, laki-laki yang sangat dicintainya, dan mencintainya dengan penghianatan.
Lalu hari ini, Reyhan, orang yang sangat mencintainya, tulus, tanpa lelah, dan dibalas cintanya dengan kecewa oleh Nayna. Ahhh....Nayna menarik nafas dalam, kemudian menghembuskannya dangan kasar
"Makasih Rey...," ucap Reyna pelan
Mereka mengesampingkan urusan perasaan sama-sama kaget barusan. Dan mulai membahas proyek kerjasama yang bahkan sudah disetujui dan di tanda tangani sang direktur jauh sebelum bertemu Nayna.
__ADS_1
"Okey Nay....Aku percaya padamu. Selamat untuk kerjasama kita,"
Nayna menyabut uluran tangan Reyhan dengan tersenyum tipis.
"Bagaimana kabarmu Nay?" tanya Reyhan akhirnya tidak dapat memahannya lagi setelah Nayna duduk kembali.
Hatinya sudah tidak sabar ingin mengetahui kabar gadis manis yang ada di hadapannya ini. Lima tahun sudah, lima tahun itu bukanlah waktu yang singkat bagi Reyhan. Hari ini, gadis yang tidak pernah lepas dari ingatannya itu sudah berada tepat di hadapannya.
Nayna menatap Reyhan, suaranya begitu lembut menyapa Nayna. Dia tidak berubah sama sekali, bisik hati Nayna.
"Alhamdulillah, aku baik Rey," balas Nayna
"Kamu sendiri bagaimana?" tanya balik Nayna
"Seperti yang kamu lihat Nay, aku juga baik," ucapnya lagi dengan tersenyum.
__ADS_1
"Dan sepertinya takdirku juga baik Nay," kembali Reyhan menyunggingkan senyumnya.
Yahhh, takdirmu bukan hanya baik Rey, tapi sempurna, siapa yang tidak mengenalmu kini, batin hati Nayna