
"Nay, titip salam sama tante Ratih. Maaf bunda nggak bisa ikut ke sana, sampaikan permintaan maaf bunda ya sayang," pesan bunda ketika Nayna hendak pamit
"Asiiaapp ma," balas Nay
"Assalamualaikum," Nay masuk diantarkan bi ijah menuju ruang keluarga
"Nayna sayang, mami kaget. Tumben nggak ngabarin mau ke sini,"
"Maaf mi," balas Nay dengan tersenyum
"Biasalah kalau perintah bunda susah ditolaknya," ujarnya lagi sambil tertawa
"Bundamu udah balik nak. Gimana nenek?" tanya tante Ratih.
"Iya, udah balik kemarin mi. Kondisi nenek masih sama, sakit karena usia kata dokter. Tapi bunda nggak bisa nemuin mami langsung, karena ada nenek di rumah. Nay sekaligus menyampaikan permohonan maaf bunda," jelasnya sambil memberikan oleh-oleh yang dititipkan mamanya untuk tante Ratih
"Jadi nenek diajak?" tanya tante Ratih memastikan
"Iya mi," balas Nay
"Makasih banget bilang bunda ya Nay. Oeh-olehnya banyak banget ini....jadi enak," tante Ratih bercanda. Dan Nay hanya membalasnya dengan tersenyum.
"Ihhh mami nggak ada malunya," celetuk Bayu tiba-tiba
"Ini anak kebiasaan..... nyamber aja," bales tante Ratih sewot
__ADS_1
"Sana temenin Nayna, mami mau naroh ini oleh-oleh ke lemari es," perintahnya pada anak keduanya itu.
Bayu dengan senang hati langsung menghampiri Nayna yang memang sudah sangat akrab dengannya.
"Ada siapa sih mi. Kayaknya rame dari tadi," Rendi keluar dari kamar dengan muka bantalnya.
"Anak tante Meli, sahabat mami sayang," balas tante Ratih tanpa menoleh karena masih sibuk nyusunin oleh-oleh yang di bawanya.
Rendi hanya ber oh ria lalu menegak segelas air putih.
"Ayo mami kenalin. Cuma kamu sendiri yang belum kenal," ajak maminya
Rendi sudah sering mendengar cerita maminya itu mengenai sahabatnya tercinta dan putrinya itu. Walaupun enggan diikutinya juga maminya menuju ruang keluarga. Dari jauh Rendi bisa melihat Bayu tengah duduk berhadapan dengan seorang gadis. Adiknya itu tampak lagi asyik mengobrol.
Rendi yang mendengar maminya menyebutkan nama Nayna tanpak kaget. Tidak mungkin orang yang sama, berapa banyak nama yang sama di dunia ini," batinnya
"Kenalin ini putra pertama mami.....," ujarnya lagi
Nayna yang menoleh ke arah tante Ratih langsung kaget. Matanya menatap ke arah Rendi tanpa berkedip. Begitupun dengan Rendi. Keduanya tampak bengong.
"Rendi.....,"
"Nayna.....,"
Ujar mereka berdua berbarengan. Bayupun menatap mereka penuh selidik.
__ADS_1
"Jadi kalian berdua sudah saling mengenal," tanya tante Ratih memecah keheningan dì antara mereka.
"Iya mi....." ujar mereka lagi berbarengan.
"Waduhhhh, kalian berdua ini kompak banget dari tadi," goda tante Ratih
"Kalau tahu kalian udah saking kenal, mami nggak perlu repot-repot ngenalin kalian lagi," ujarnya lagi senang
"Kalian teman dari mana bang. Kok aku bisa nggak tahu kalau kalian berteman," Bayu penasaran
"Kami teman lama dek," jawab Rendi tidak ingin memperpanjang.
"Maksudnya temen apa bang? Temen sekolah? Temen kuliah? atau malah gebetan nih?" cecar Bayu lagi
"Kamu itu dek, kayak perempuan aja, bawel," balas Rendi lagi enggan.
"Udah-udah nggak usah dibahas, ntar-ntar aja ceritanya," mami menyela
"Sini Nay....duduk deket mami aja," mami menepuk sofa sebelahnya. Nay mengikuti saja, lalu duduk di sebelah mami Bayu dan Rendi.
Nay tampak berubah. Dia jadi lebih pendiam dari sebelum ada Rendi. Dia tidak lagi seceria dan selincah tadi, hanya membalas singkat saja ketika di tanya.
Bayu memperhatikan perubahan Nayna. Begitupun abangnya. Laki-laki itu hanya duduk diam mendengarkan saja pembicaraan mereka, sambil tak lepas menatap Nayna.
Heiii....ada apa diantara mereka berdua, ucap hati Bayu penuh tanda tanya.
__ADS_1