
"Selamat pagi mbak. Saya Nayla. Saya udah ada janji dengan ibu Ratih," ujar Nayla pada resepsionist office kantor tante Ratih.
"Ooo mbak Nayla. Silahkan mbak naik aja mbak, langsung ke sekretaris ibu Ratih aja di atas. Mbak sudah di tunggu," jawab mbak resepsionist ramah.
"Makasih ya mbak," balas Nayla tersenyum ramah.
"Maaf ya Ay. Tante tetap harus meminta berkas-berkas lamaran pekerjaan untuk arsip kantor," ujar tante Ratih meminta maaf sambil memeriksa semua dokumen Nayla yang ada di tangannya.
"Nggak apa-apa tan, Ay faham kok," Nayla tersenyum ramah menyampaikan pengertiannya.
Setelah beberapa saat memeriksa berkas milik Nayla. Tante Ratih tersenyum sumrimgah menatap putri dari sahabat tercintanya itu. Gadis ini bukan hanya cantik tapi juga sangàt pintar. Ay sangat cocok untul menggantikan Lea, gumam tante Ratih dalam hati.
"Ok Ay, kamu.sudah bisa bekerja. Kamu memenuhi semua kualifikasi yang tante inginkan," putus tante Ratih akhirnya.
"Alhamdulillah. Jadi Ay sudah bisa mulai bekerja kapan tante?" tanya Nayla sumringah.
Nayla bukan saja bahagia karena dia tidak akan menjadi pengangguran lagi. Tetapi yang lebih membahagiakan hatinya adalah bahwa Tuhan sangat baik pada dirinya. Jalan terang seakan terbuka dari baiknya Tuhan memberi Nayla kesempatan untuk bisa dekat dengan tante Ratih. Satu-satunya wanita yang paling amat berharga dalam hidup bang Rendi saat ini. Walaupun separuh dari hatinya juga pasti akan terluka. Karena biar bagaimanpun Nayla paling tahu bagaimana bang Rendi mencintai mbak Nay. Bagaimana takdir yang jadi penentu akhirmya pada kisah cinta keduanya.
"Kalau Ay siap, hari ini bisa langsung bekerja. Sebentar lagi Lea datang, dan akan memberitahukan semua pekerjaan Lea yang akan Ay gantikan," jawab tante Ratih.
Belum sempat Ay menyahuti omongan tante Ratih. Tiba-tiba teleponnya berdering. Tante Ratih tampak tersenyum membaca nama yang tertera di layar handponenya.
"Walaikusalam....," sahut tante Ratih.
"Ada apa bang? Tumben telephone mami?" tanyanya kemudian.
Dan Nayla tidak pula terlalu fokus pada percakapan wanita yang sudah resmi menjadi bosnya itu.
Fikirannya berpusat saat tante Ratih memanggil abang, karena hanya bang Rendi yang dipanggil abang. Sedangkan Bayu kan dipanggil mas. Berarti bang Rendi yang menelphone maminya itu. Tiba-tiba saja hati Nayla berbunga-bunga. Ada kupu-kupu terbang dalam hatinya, perasaan bahagia itu menyeruak seketika.
"Ya udah ke atas aja bang. Mami juga udah nyampe kantor, langsung aja masuk ke ruangan mami," ujar tante Ratih terdengar di telephone.
Deg....Deg....Deg....Jantung Nayla seakan berdetak lebih cepat. Kini, kegugupan yang menguasai hatinya. Ay masih belum siap melihat bang Rendi, setelah hampir beberapa waktu ini galau, berusaha melepaskan bayangan laki-laki manis yang tampan itu dari sisi hatinya. Dari bayangan matanya, bahkan dari isi kepala Nayla.
Hufftt.....Kenapa aku yang menjadi gugup begini, bisik Nayla sendiri.
"Itu bang Rendi Ay. Sepertinya dia akan kemari, mungkin ada masalah di RM miliknya. Tidak apa yah, Ay di sini, siapa tahu abang butuh bantuan," tiba-tiba tante Ratih bicara kembali pada Nayla setelah menutup telephonenya.
__ADS_1
"Iy...iy....iya Tan. Ay di sini aja," jawab Nayla gugup lepas dari keterkejutannya.
"Assalamualikum," tidak berapa lama seseorang mengucapkan salam dan membuka pintu ruangan tante Ratih.
"Walaikumsalam....," jawab keduanya berbarengan.
Kemudian menatap ke arah sumber suara yang langkah kakinya sudah masuk dan mendekat.
Dan jantung Ay kembali berdetak cepat seperti genderang mau perang. Suara yang dikenalnya itu benar adanya, milik laki-laki yang saat ini mencuri hatinya.
Bang Rendi mendekati maminya dan menyalami tangan maminya itu. Kemudian menatap gadis yang duduk di hadapan maminya dengan wajah penuh tanda tanya.
"Kamu Nayla adik Nayna kan?" tanya Rendi tanpa basa-basi dengan tampang masih kebingungan.
"Iyy....iyyy...iya bang Ren. Saya Nayla adik mbak Nay," jawab Nayla terbata tidak berani menatap Rendi.
"Heiii....pak polisi kebiasaan yah. Dateng-dateng udah kayak mau interogasi aja. Duduk dulu," perintah tante Ratih pada bang Rendi.
Bang Rendi akhirnya menarik kursi dan duduk persis di sebelah Nayla, keduanyapun duduk tepat di hadapan tante Ratih, mami bang Rendi.
Rendi menatap gadis di sampingnya. Entah mengapa Rendi tidak menyukai kehadiran Nayla di samping maminya itu. Apalagi Nayla akan menjadi tangan kanan dan satu-satunya orang kepercayaan mami untuk menggantikan Lea, yang loyalitasnya sudah tidak lagi diragukan.
"Apa mami yakin gadis ini mampu menggantikan Lea," sarkas Rendi dengan begitu kejam.
Seketika Nayla menoleh, menatap tubuh tegap di sampingnya ini. Menatap wajah serius yang tengah bertanya pada maminya itu. Hei....baru awal, laki-laki sudah menunjukkan ketidaksukaannya. Akan makin sulit sepertinya jalan yang akan aku lalui nanti, ujar Nayla dalam hatinya.
"Tentu saja bang. Nayla memenuhi semua kualifikasi yang mami berikan. Dan dia satu-satu gadis paling mami percaya untuk bisa menggantikan posisi Lea," tegas tante Ratih menjawab pertanyaan bang Rendi.
"Dan lagi tumben abang perduli sama karyawan mami. Tidak seperti biasanya," ujar mami lagi dengan tanya seolah curiga.
Membuat Rendi akhirnya tidak kembali bertanya dan tidak lg berniat mempertanyakan keputusan maminya kembali.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Karena kesibukan Author✌
Mohon maaf jika update tidak bisa rutin🙏🏻
__ADS_1
Ikuti terus up selanjutnya yah cintahh🙏🏻✌🤗😘
Part Novel selanjutnya akan di isi dengan kisah Nayla. Kisah perjuangan cintanya untuk bang Rendi? si babang tamvan🤩😍😚
Kisah Nayna akan di skip sementara karena Nayna dan Rizki masih menikmati kehidupan indahnya sebagai sepasang pengantin baru.
Kisah akan di selipi konflik keduanya dalam berumah tangga nanti.
Baca terus kelanjutnya kisah mereka ya cintahhh🙏🏻😚
Tingkiyuu bangetz yg udah setia membaca novel "Love Or Be Loved"
Mohon Dukungannya
👇
Vote
Like 👍
Favorit ❤
Coment 💬
Rate 5
Baca juga Novel Author Lainnya
☆ Mengejar Cinta Ustad
☆ Cinta 90
Mohon juga Dukungan
👇
Vote, Like, Favorit, Coment & Rate 5
__ADS_1