
"Win......," Nay sudah bersandar di sudut tempat tidur
"Hmmmmm, Winda hanya menoleh kemudian melanjutkan mengerjakan kerjaan kantor di laptopnya.
"Aku salah sama Rey selama ini ya Win," tanya Nay sendu.
Winda menatap Nay kembali, menyimpan filenya, kemudian mematikan laptopnya, dan memasukkan kembali ke dalam tas laptopnya.
Sepertinya Nay masih memikirkan ucapan si Karin tadi siang, pikir Winda lagi.
"Nay, cinta itu nggak ada yang salah," ucap Winda sudah ikut menyender di samping Nayna.
"Kalau saat itu hatimu belum membukanya untuk Reyhan, itu bukan kesalahanmu Nay," nasehat Winda lembut.
"Tapi aku yang salah Win. Bagaimana bisa aku menyakiti laki-laki sebaik Reyhan. Bagaimana bisa aku menyia-nyiakan cintanya itu begitu lama Win," Nay sudah kembali terisak.
"Nay cinta itu tidak pernah salah. Mungkin Tuhan sengaja membiarkan kita terluka terlebih dahulu, atau sama halnya Tuhan memberikanmu pilihan cinta yang lain terlebih dahulu, agar kau faham makna dari cinta itu sendiri," jelas Winda kembali agar Nay berhenti terus-terusan menyalahkan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Rey laki-laki yang baik Win. Karena aku dia bisa berubah jadi dua pribadi yang berbeda seperti itu, dia sakit Win. Dan itu semua itu akulah penyebabnya," tangis Nayna kembali.
"Nay, aku tahu semuanya. Jadi berhentilah menangis. Berhenti merasa kalau kau yang paling bersalah dalam hal ini," faham Winda.
Nayna menatap Winda sendu. Ada pertanyaan yang menggeluti hatinya. Winda faham tatapannya sahabatnya itu.
"Maaf, aku tidak sengaja melihat Rey menyakitimu ketika di kantor Rey waktu itu," ucap Winda
"Jangan salah faham, aku berniat menemuimu di kantor Rey, tapi yang kulihat malah kejadian seperti itu," jelas Winda lagi.
"Dan aku sudah lebih dulu tahu rekam kesehatan Rey itu sebelum Karin memberikannya padamu tadi,"
"Heii....jangan melihatku seperti itu. Kau kan tahu om ku adalah direktur Rumah Sakit yang tertera di surat dalam amplop coklat itu. Aku juga tidak berniat menutupinya darimu, Nay. Aku hanya masih perlu beberapa bukti dan keterangan lagi untuk menunjukkannya padamu. Dan ternyata Karin membawa kabar itu lebih dulu," jelas Winda panjang lebar menatap Nayna yang sedari tadi menatap meminta penjelasan.
"Jadi aku harus bagaimana Win?" tanya Nayna sendu.
Winda menarik nafas dalam. Dia tidak mau terlalu mencampuri keputusan Nayna, karena bagaimanapun ini urusan perasaan, ini tentang hati, ada cinta yang bakal dipertaruhkan.
__ADS_1
"Tanyakan hatimu Nay," Winda memcoba bijak.
Nayna menatap Winda lagi. Dia sekarang lebih sering bertanya dengan kode tatapannya.
"Tanyakan hatimu, tanyakan ragamu? Apa hatimu kuat, apa ragamu rela, bertahan atas sikap Rey yang sewaktu-waktu dapat berubah, bagai dua orang dalam satu jiwa,"
"Aku tidak akan menyerah. Aku akan membuatmu sembuh dari penyakitnya itu Win," balas Nayna.
"Dia cuma depresi. Belum sampai sejauh itu penyakit kepribadian gandanya. Dia masih menunjukkan gejala awal, semua masih bisa diobati, aku sudah berkonsultasi sebelumnya dengan dokter Win," ucap Nayna yakin.
"Kalau kau yakin dengan keputusanmu, aku akan selalu mendukungmu Nay. Lakukan mana yang menurut hatimu ingin kau lakukan,"
"Yang penting kau harus ingat. Buruh kesabaran ekstra dan keikhlasan hati untuk menjalaninya," ingat Winda lagi.
Nayna tersenyum, menghapus air matanya, kemudian memeluk sahabatnya itu.
"Dan satu lagi Nay. Jangan remehkan Karin. Gadis itu sudah benar-benar terobsesi pada Reyhan. Hei ingat, orang bisa saja melakukan hal gila karena cinta," Winda kembali mengingatkan Nayna.
__ADS_1