Love Or Be Loved

Love Or Be Loved
Tidak ada Kesempatan Kedua


__ADS_3

Rendi menatap Nayna tajam. Memamdangi gadis telah duduk di hadapannya itu. Memandamg wajahnya, hidungnya, pipinya, matanya , juga bibir ranumnya. Aku sangat merindukanmu Nay, desahnya. Lalu kembali menghela nafas berat.


"Abang datang Nay. Abang menemui Nay sesudah resmi berpisah dengan Mei," jelas Rendi lemah


"Tapi saat abang sampai, abang melihat Nay bersama laki-laki itu,"


"Laki-laki," tanya Nay


"Laki-laki yang selalu mengejar Nay itu,"


"Reyhan maksud bang Rendi,'


"Abang lihat Nay bersamanya. Nay tampak bahagia, kalian begitu dekat. Abang tidak ingin merusak kebahagian Nay. Lalu abang memutuskan pergi," jelas Rendi.


"Abàng pergi tanpa bertanya dulu pada Nay. Tanpa meminta penjelasan dari Nay," keluh Nayna


"Apa yang mesti dijelaskan lagi Nay. Abang cukup mengerti dan tahu diri. Bagi abang kebahàgian Nay. Jika Nayna bahagia, abang juga akan ikut beŕbahagia, itu cukuplah bagi abang,"

__ADS_1


"Abang pergi dan kembali memutuskan sendiri. Abang selalu saja berfikir dengan fikiran abang sendiri. Abang bertindak sesuka abang tanpa mencoba berkompromi dulu sama Nay,"


"Maafkan abang Nay. Maafkan abang yang pengecut ini," bisiknya lirih.


"Tidak ada lagi yang perlu di maafkan bang. Hubungan kita juga sudah lama berakhir," balas Nayna ikut lemah.


Rendi terpaku mendengar keputusan Nayna.


"Tidak bisakah memberikan kesempatan kedua pada abang untuk memperbaiki segalanya," tanya Rendi lagi dengan sedih.


"Nay sudah memutuskan akan berhenti sama abang," balasnya lirih.


"Abang mau ngapain," tanyanya begitu dilihatnya Rendi melangkah ke arah pintu. Menutup pintu kemudian menguncinya dari dalam, lalu menyimpan kunci itu di saku celananya.


Nay spontan berdiri dan menjauh, dia mulai ketakutan saat Rendi sudah mulai mendekatinya.


"Abang mau apa? Jangan dekati Nay bang," matanya sudah berkaca-kaca.

__ADS_1


Nay kembali teringat peristiwa dirinya hampir diperkosa. Nay semakiñ kalut dan takut.


Nayna terus mundur ke belakang, hingga akhirnya tubuhnya terpentok pada dinding. Rendì sudah menggebrak kedua tangannya pada dinding disamping sisi kiri dan kanan tubuh Nayna. Mengukung gadis itu dekat dadanya.


"Diam, jangan berani teriak kalau tidak ingin abang bertindak lebih jauh." ancam Rendi.


Nay terdiam, sejak peristiwa kemarin Nayna jadi begitu lemah. Nyali Nayna langsung ciut mendengar ancaman Rendi. Air mata sudah membasahi pipinya. Nay menutup mulutnya menahan sesak.


Nayna sudah dalam kungkungan tubuh Rendi. Jarak mereka sangat dekat. Nay terus menyudut ke dinding tidak ingin bersentuhan langsung dengan Rendi, kedua tangannya dia silangkan di dadanya.


Tepai Rendi sudah semakin merapatkan tubuhnya pada Nayna. Kedua tangan Nayna sudah memegang dada Rendi, menahannya untuk lebih mendekat.


Rendi mengangkat dagu Nayna, memaksanya untuk menatap Rendi. Sesaat mereka saling bersitatap. Tangan Rendi bergerak menyentuh pipi Nayna, mengusap lembut air mata yang membasahi pipi Nay. Sejurus kemudian tangannya sudah menyentuh lembut wajah Nayna.


"Apa kau tahu Nay, abang sudah sangat merindukan wajah ini," ujar Rendi dengan nafas yang berat.


Nayna memejamkan matanya. Nafasnyapun sudah semakin tidak beraturan karena sehabis menangis. Nay menahan antara rasa takut dan rindu dalam dadanya.

__ADS_1


Saat Rendi melihat Nay memejamkan matanya dan sedikit tenang. Tangannya kembali dengan lembut menyusuri wajah Nayna. Tangan Rendi mengelilingi wajah gadis itu, mengusap lembut dahi, pipi, dagu, memutar kembali pipi satunya, lalu kembali ke dahi. Rendi membelainya dengan sangat lembut membuat Nayna semakin memejamkan matanya.


Rendi membelai lembut dahi Nayna lalu turun ke hidungnya yang mungil, kemudian turun menyentuh bibir gadis itu. Jempolnya sudah sedari tadi mengucap lembut benda kenyal berwarna pink itu. Nafasnyapun sudah semakin memburu. Kini Rendi sudah berani menempelkan bibirnya pada bibir gadis itu.


__ADS_2