
Rendi bergegas kembali ke kantor kepolisian, dia berencana mandi dan mengisi perutnya di kantor saja. Dia tidak akan menyia-nyiakan waktu untuk menyelidiki dalang di balik tindak kekerasan yang dilakukan ******** tengik itu kepada Nayna.
Rendi sudah selesai membersihkan diri dan mengisi perutnya. Dia duduk dibelakang meja kerjanya, kemudian memanggil bawahannya melalui intercom kantor.
Seseorang mengetuk pintu. Setelah Rendi mempersilahkan masuk. Seorang polisi berpakaian lengkap memberi hormat.
"Siang komandan,"
"Siang,"
Lalu dengan hormat duduk di hadapan Rendi
"'Bagaimana hasil penyelidikan kalian,"
"Siap komandan. Setelah di cek sidik jari melalui barang bukti yang dikirimkan tadi. Dugaan kami tepat, benar ini tersangkanya," ujarnya menjelaskan pada Rendi
"Ini datanya komandan silahkan dipelalari. Sesuai intruksi, sudah dilakukan penggebrekan di rumah tersangka. Dan tersangka juga sudah di bawa ke markas. dimasukkan ke sel tahanan sementara,"
__ADS_1
"Dan di berkas sudah lengkap berita acara tersangka dan semua hasil penyelidikan komandan," ujarnya kembali dengan lugas, lengkap dan padat.
"Baik, silahkan lanjutkan tugas,"
"Izin komamdan," kembali memberi hormat pada Rendi sebelum meninggalkan ruangan atasannya
Rendi membaca berkas yang di tinggalkan bawahannya dengan seksama. Dugaan kalau laki-laki ini hanya seorang pesuruh saja. Sebenarnya dia hanya berniat memberi peringatan sesuai intruksi orang yang membayarnya. Tapi kecantikan mangsanya membuatnya menjadi ingin bermain-main. Kesempatan dan situasi yang sepi malah membuat akal sehatnya dikalahkan oleh nafsu. ******** itu malah mengambil kesempatan dari situasi yang menguntungkannya," Rendi menggertakkan giginya menahan amarah.
Rendi mengerutkan alisnya saat membaca data dua orang wanita yang sempat menghubungi tersangka sebelum kejadian perkara.
Dia benar-benar kaget karena dua orang wanita ini sangat dikenalnya.
Apa hubungan mereka, batin Rendi dalam hati.
"Siang komandan, dua orang wanita yang kita selidiki menghubungi tersangka sudah menghadap, sedang di buatkan berita acaranya dan di selidiki,"
Rendi yang mendapat panggilan intercom bergegas meninggalkan ruangannya.
__ADS_1
Dia memasuki satu ruangan yang langsung bisa mengawasi bawahannya menyelidiki tanpa diketahui, dia bisa melihat dan mendengar semuanya.
Rendi belum ingin menampakkan langsung batang hidungnya pada dua orang wanita yang sangat dikenalnya itu.
Dia memperhatikan dengan seksama yang di tanyakan anak buahnya, juga jawaban-jawaban yang diberikan dua orang wanita itu.
Rendi dengan santai berdiri sambil melipat tangannya di depan, sesekali alisnya menaut tampak seperti berfikir, sesekali dia memicingkan matanya. Kemudian tampak menyeringai sinis jika jawaban mereka dinilai Rendi bodoh dan menjijikkan.
Dan benar saja, tepat seperti dugaannya. Dua orang wanita di balik ruangan kaca itu tidak akan tahan dengan intimidasi dari bawahannya. Cercaan pertanyaan dan lamanya penyelidikan akhirnya membuat mereka lelah dan menyerah. Pengakuan akhirnya keluar dari bibir keduanya.
Bagaimana bisa mereka bekerjasama untuk menjatuhkan seorang gadis yang bahkan tidak mereka kenal. Bagaimana bisa mereka menafsirkan sendiri bahwa gadis itulah yang merebut kebahagian mereka, padahal gadis yang mereka sangkalah yang telah mereka sakiti. Seorang gadis yang tidak pernah menyakiti mereka harus mengalami tindakan keji karena persekongkolan mereka. Sungguh miris jika cinta menjadi alasan mereka menyakiti sesama kaum mereka, Rendi menggelengkan kepalanya.
Kemudian dengan tawa menyeringai Rendi memerintahkan bawahan yang ada bersamanya.
"Jebloskan keduanya ke penjara. Berikan hukuman seberat-seberatnya," perintahnya
"Mereka adalah otak dan dalang dari skenario jahat yang akhirnya melenceng tidak sesuai dengan skrip. Mereka harus mempertanggung jawabkan perbuatan mereka yang hampir saja membuat seorang gadis nyaris diperkosa dan kehilangan kehormatannya," Rendi bertambah geram mengingat semua yang sudah dialami Nayna.
__ADS_1
"Tidak ada terima jaminan. Jika pengacara mereka tetap ngotot, hubungi pengacaraku untuk menjegalnya. Aku sudah mengontaknya kemarin," putus Rendi.
Bawahannya kembali memberi hormat sebelum Rendi meninggalkan ruangan itu kembali ke ruangan kantornya.