
Rey Pov
Benarkah itu Nayna dan Rey, Winda menjadi penasaran. Tapi kenapa dia menarik Nay dengan kasar seperti itu. Kenapa Rey bisa bertindak sekasar itu, tanya Winda kembali.
Diam-diam Winda mengikuti Rey dan Nayna. Dilihatnya Rey masih menarik Nayna dengan kasar. Nay tampak tersungut-sungut menjajari langkah Rey yang menariknya sambil berjalan dengan cepat.
Sepertinya mereka memasuki ruangan Rey, pikir Winda. karena dia sudah beberapa kali menemani Nay kemari. Ruangan direktur yang terpisah dengan karyawan lain, di tambah lagi tidak ada sekretaris Rey, sehingga tidak akan ada yang mendengar keributan mereka berdua.
Baik Rey dan Nayna sudah masuk ke ruangan. Winda bergegss, dia menjadi sangat penasaran, dia ingin tahu apa yang dilakukan laki-laki itu pada Nayna di dalam sana. Winda berhenti di depan itu, beruntung laki-laki itu tidak menutup pintu kantornya. Dari sisi pintu yang sedikit terbuka Winda jadi bisa mengintip dari luar. Winda agak menyampingkan tubuhnya, janfan sampai mereka mengetahui keberadaanku, ucapnya dalam hati.
Tiba-tiba Winda mengeluarkan handponenya, memutar rekaman vidio lalu mengzoom pasangan kekasih itu.
Rey melepaskan Nayna kasar dari cengkramannya, gadis itu tampak meringis karena kasarnya pegangan Rey di lengannya.
"Sudah kubilang padamu Nay. Berhenti menjadi gadis genit yang sengaja selalu menggoda laki-laki," teriak Rey dengan marah.
Winda terlonjak, untung saja handphonenya tidak terjatuh. Suara keras dan kasar Rey mengagetkannya. Hatinya kembali bertanya, benarkah ini Reyhan. Cowok Soleh, lembut dan santun yang sangat mencintai Nayna itu.
__ADS_1
"Apa maksudmu Rey. Kau menyebutku wanita seperti itu," Nay marah, dia ikut berteriak.
"Hei, jangan fikir aku tidak melihat kelakuanmu di luar tadi pada laki-laki itu," maki Rey lagi.
"Aku sudah menghindar Rey. Laki-laki itu yang terus mengikutiku. Aku menerima ukuran tangannya agar dia cepat pergi," jelas Nay kemudian.
"Itu yang kau bilang menghindar Nay," braakk.....Rey menggebrak meja. Sejurus kemudian sudah mendorong Nay dengan kasar.
Winda ingin masuk saat dilihatnya tubuh Nayna sudah membentur dinding. Dia yakin Nay pasti sudah akan menangis, dia sangat tahu, sahabatnya itu paling takut diperlakukan kasar begitu. Nayna menjadi sangat trauma sejak kejadian yang menimpanya waktu itu.
Kemudian Rey sudah mengcengkram rahang Nayna dengan tangannya.
Nayna memejamkan matanya sembari menghirup nafas dalam. Sabar Nay. Kendalikan dirimu, jika tidak Rey akan bertindak lebih kasar, Nay mencoba menenangkan hatinya sekaligus mengusir rasa takutnya.
"Maaf Rey. Aku janji tidak akan melakukannya lagi," ucap Nayna dengan sangat lembut pada akhirnya. Nayna terus mengungkapkan kalimat bujukan dengan sangat lembut. Akhir-akhir ini Rey memang sudah kerap bertindak dan berkata kasar. Dan Naypun sepertinya sudah mulai bisa memahami bagaimana menghadapi amarah Rey yang kadang tidak terkendali, walaupun juga harus menerima teriakan dan tindakan kasar Rey.
Nafas Rey sudah naik turun perlahan lahan reda oleh bujukan Nayna. Laki-laki melepaskan cengkraman tangannya, berjalan menuju meja kerjanya.
__ADS_1
Nay melibat Rendi tampak meminum obat dan meletakkan kembali gelas air putih di mejanya.
Tak lama kemudian dia sudah berubah kembali ke sosok Reyhan yang dikenal Nayna selama ini.
Reyhan tersenyum lembut menatap NaynĂ , tatapan matanya lembut seperti biasa di tunjukkannya, kata-katamya berubah sangat lembut dan santun.
"Nay kemarilah, " panggilnya kemudian
Dengan langkah ragu Nayna mendekati Reyhan.
"Maafkan aku yah, aku kadang tidak bisa mengendalikan emosiku," pinta Rey memegang tangan Nay.
Nay yang masih belum kembali dari keterkejutannya atas perubahan sikap Reyhan hanya bisa menganggukkan kepala.
"Ayo kita bersiap makan siang di luar, ujarnya kemudian.
"Bersihkan dirimu di toilet, aku juga akan membasuh mukaku," ucapnya lagi dengan sangat lembut.
__ADS_1
Winda mematikan rekaman handphonenya. Saat mendengar Rey mengajak Nay keluar. Dengan berjinjit dan hati-hari Winda bergegas menyingkir dari depan ruangan Rendi. Dia bergegas menuju parkiran mobilnya, berniat bergegas pergi sebelum Nay dan Rey melihatnya. Winda duduk, menarik nafas, menghembuskannya. Dia tampak berfikir sebelum kemudian melajukan mobilnya kembali menuju kantor.