
Karin, Reyhan, bik Yati dan mang Ujang masih setia duduk-duduk santai di taman depan. Karinpun sudah sedikit lebih santai menanggapi Reyhan. Karena pada dasarnya, Karin memang wanita yang baik, sopan, dan mudah bergaul.
Saat waktu sudah menunjukkan pukul sembilan, mataharipun sudah mulai tinggi, udara sejuk pagi hari sepertinya sudah akan berganti.
"Sebaiknya besok mang ujang beli ayunan yang ada atepnya. Jadi biar kalau matahari udah tinggi gini kita masih bisa tetap duduk-duduk tanpa kepanasan," perintah Reyhan
"Baik den," jawab mang Ujang cepat.
"Kalau gitu bibik pamit, mau mulai beres-beres di belakang non...den," ujar bìk Yati sambil membereskan bekas gelas-gelas dan sisa cemilan tadi.
"Saya juga mau cuci mobil den.....non," mang Ujang mengikuti istrinya ikutan pamit.
Karin dan Reyhan menganggukkan kepala sambil tersenyum.
Saat bik Yati dan mang Ujang sudah berlalu, Karinpun beranjak hendak masuk ke dalam, tapi tangannya di tahan Reyhan.
"Mau jalan-jalan, mumpung hari Sabtu dan minggu ini hari libur," tanya Reyhan.
Karin hanya diam saja menatap Reyhan.
"Apa tidak ada yang ingin kamu makan, atau yang ingin kamu beli," tanya Reyhan lagi tanpa melepaskan genggaman tangannya di tangan Karin.
Karin hanya menggeleng sambil menatap Reyhan heran.
__ADS_1
"Bukannya orang hamil itu biasanya suka ngidam, pingin apa gitu....," Reyhan menjelaskan ajakannya.
Lagi-lagi Karin hanya diam dan menggelengkan kepala.
"Bener kamu nggak ngidam apa-apa?" Reyhan berusaha menyakinkan dan mengulang pertanyaannya.
Kali ini Karin diam dan menganggukkan kepalanya.
"Ya udah kalau nggak ada yang ingin kamu makan atau beli, kita pergi jalan-jalan aja," tawar Reyhan.
Kemudian Reyhan menggandeng tangan Karin mengajaknya masuk ke dalam untuk bersih-bersih dan bersiap.
"Ayoo....mandi dan bersiap," ujar Reyhan ketika Karin masih terpaku di tempatnya duduk.
"Kamu ngapain masih di sini," tanya Karin.
"Mulai hari ini aku kembali ke kamarku," jawab Reyhan
"Trus aku tuker mesti pindah ke kamar tamu gitu," tanya Karin yang berfikir harus repot memindahkan semua barang-barangnya lagi.
"Kamu nggak perlu pindah kemana Rin," jawab Reyhan enteng
"Maksudnya......"Karin makin bingung.
__ADS_1
"Mulai hari ini kita tidur di kamar yang sama. Kita kan suami istri yang sah, kenapa harus tidur terpisah," jawab Reyhan kembali.
Karin melongo, bengong dan tidak mengerti.
"Ya udah kamu mandi dulu trus siap-siap. Aku juga mau mandi dan siap-siap. Nanti saat kita pergi biar mang Ujang dan bik Yati yang memindahkan semua barang-barangku kembali ke kamar ini," jawab Reyhan lalu berlalu ke kamar tamu hendak membersihkan diri.
Karin masih berdiri mematung di depan kamar dengan bingung. Menanyakan sikapa Reyhan yang tidak seperti biasanya. Apa Reyhan salah minum obat yah, tanya Karin dalam hatinya.
"Bik Yati.....mang Ujang, kami pergi jalan ke luar dulu yah," pamit Reyhan
"Iya den.....non, selamat bersenang-senang yah," balas bik Yati bahagia.
"Oh iyà, mang Ujang sama bik Yati jangan lupa. Pindahin semua barang-barang saya di kamar tamu, balikin lagi ke kamar saya," perintah Reyhan kembali.
"Asiiiaappp, baik den," ucap bik Yati dan mang Ujang kompak.
Reyhan tersenyum lalu berjalan ke luar menggandeng Karin. Karin diam saja dan membiarkan Reyhan. Begitupun saat Reyhan membukakan pintu mobil, Karin memilih untuk mengikutinya saja.
Tapi saat Reyhan berniat mrmasangkan sabuk pengaman pada Karin, tubuh mereka sangat dekat dan membuat Karin merasakan sangat gugup. Baru kali ini dia dan Reyhan berjarak begitu dekat sejak mereka menikah.
"Makasih....," ucap Karin memgusir rasa canggungnya.
"Sama-sama," Reyhan tersenyum dengan sangat tenang.
__ADS_1