
"Ayo bang, kita ngobrolnya ke taman samping aja, lebih santai," ajak Nayna pada Rendi.
Rendipun mengikuti langkah Nayna membawanya. Karena memang Rendi belum tahu rumah ini. Dulu rumah lama Naynalah tempat Rendi biasa menemui gadis ini, tampat yang akhirnya juga memisahkan keduanya.
Taman samping rumah Nayna adalah tempat yang biasanya sering dijadikan area bersantai Nayna dan keluarganya. Sebuah taman yang dipenuhi aneka bunga anggrek, bunga kesukaan bunda dan Nayna.
Ada gazebo besar tempat bersantai yang menampung Nayna sekeluarga. Bangku-bangku mungil tertata di sudut-sudut taman. Sebuah ayunan yang mempunyai atap juga terlihat di sudut taman.
Nayna dan Rendi memilih duduk santai di gazebo, ditiup angin sepoi-sepoi yang membawa aroma wangi bunga anggrek.
"Duduk bang Ren," tawar Nayna
""Makasih Nay," balas Rendi tersenyum
"Abang mau minum apa? Biar Nay siapin," tanya Nayna.
"Nanti aja Nay, abang juga belum haus," tolak Rendi halus.
Nayna sepertinya sama sekali tidak menyadari. Bahwa bagi Rendi, hanya dengan melihatnya saja, bisa membunuh semua dahaga. Jangankan haus, perasaan laparpun akan menjadi kenyang dengan hanya menatap wajah cantiknya.
Nayna mengurungkan niatnya, lalu kembali duduk di sebelah Rendi. Sambil menatap bunga-bunga yang bermekaran indah. Berbagai warna anggrek membuat taman benar layaknya sebuah kebun anggrek.
"Gimana kerjaan Nay," tanya Rendi berbasa basi.
"Alhmdulillah lancar bang. Semakin banyak proyek yang bekerjasama dan Nayna pegang. Rezeki orang cantik bang," jawab Nayna tersenyum setengah bercanda.
"Kata siapa cantik," ejek Rendi.
"Kata abang kan......," Nayna menjulurkan lidahnya.
"Nggak tuh, kapan abang pernah bilang cantik," elak Rendi.
"Ihhh....abang," rajuk Nayna.
Rendi tersenyum menatap wajah Nayna yang cemberut.
__ADS_1
"Kamu memang cantik Nay. Bahkan sejak dulu. Tidak ada yang berubah sedikitpun. Bertambahnya usia malah membuat kecantikanmu malah makin mempesona," ucap Rendi lembut menatap Nayna yang tengah merajuk cemberut.
"Kok liat Nay kayak gitu banget bang," ujar Nayna mengelak malu.
"Kamu tidak pernah berubah Nay. Dulu saat abang natap gini. Nay pasti akan tertunduk malu. Tapi sekarang Nay udah bisa mengelak dan bertanya," ujar Rendi lagi menatap lekat netra milik Nayna.
Ditatap begitu Nayna cuma bisa tertunduk. Nay tidak bisa bohong, mata itulah yang dulu selalu menatapnya penuh cinta. Bang Rendi Wijaya. Siapapun yang mengenalnya baik wanita ataupun pria pasti akan tergila-gila akan sosoknya. Pakaian yang dikenakannya itu selalu membungkus tubuhnya dengan sangat sempurna. Pakaian itu tidak dapat menyembunyikan body berototnya yang rajin berolahraga. Pakaian itu terlihat penuh membungkus bagian lengan berototnya. Jangan tanya dadanya yang bidang itu, sudah pasti membuat para wanita berebutan ingin menyederkan kepalanya di sana. Roti sobek pasti terpampang nyata di perutnya, andai dia membuka pakaiannya itu. (Author jadi ikut menghayal🤭😁)
Wajah klas minangnya itu, hidung mancung, dengan rambut hitam ikalnya begitu mempesona bila dipandang. Tatapan mata coklat dalamnya yang begitu teduh seakan sebuah danau yang akan menenggelamkan Nayna di dalamnya. Jangan tanya saat Rendi tersenyum, manisnya melebihi madu, yang bisa membuat tenggorokan seakan tercekat.
Dialah Rendi Wijaya, laki-laki yang berada di hadapan Nayna kini. Laki-laki ini cinta pertamanya Nayna. Seorang Jenderal Muda anggota kepolisian yang sangat tampan, bagi Nayna.
Sudah puluhan tahun, tidak ada yang berubah, sosok bang Rendi kini malah semakin dewasa dan mempesona sajq. Jambang dan kumis tipis yang kini sudah menghiasi wajah tampannya semakin melengkapi kesempurnaannya sebagai sosok laki-laki dewasa yang tampan. Kharisma ketampanan paripurna yang dimiliki bang Rendi, seakan menjadi aura tersendiri, yang mampu menarik hati wanita manapun untuk mati-matian terus berada di sisinya.
Ada banyak kenangan Nayna bersama laki-laki tampan ini. Ada banyak kisah cinta yang terjalin dengan sangat indah. Pun ada kecewa dan kesedihan yang mewarnai jiwa. Apakah ini yang di sebut pesona cinta pertama? Atau benarkah inilah cinta sejati? Meski berkali tersakiti, meski jarak dan waktu pernah sangat tidak perduli. Perasaan itu ternyata masih tersimpan rapi, Nayna masih merasakannya di sini, di sudut hati ini, seperti sebuah melodi.
Benar saja kalau tidak ada yang berubah dari sebuah kenangan. Boleh jadi dia akan sedikit demi sedikit terganti, tergilas akan kenangan yang baru. Tapi dia tidak akan pernah bisa menghilang. Kenangannya masih di sana, dia akan datang seperti sebuah hujan. Bagaimana bisa kita mencegah hujan turun. Maka biarkan saja, hingga dia berhenti dengan sendiri. Pun begitu dengan sebuah kenangan. Terkadang, pertemuan dan perpisahan memang terjadi terlalu cepat. Namun kenangan dan perasaan tinggal terlalu lama.
Nayna memalingkan wajahnya. Semakin lama menatap Rendi, Nayna takut tidak akan dapat menguasai hatinya lagi. Nayna menyadari ada dua cinta yang kini menghiasi hatinya. Dan cinta itu sama besarnya, sama kadarnya.
Bedanya dengan Nayna hanya pada keterbukaan hati. Pada kejujuran sebuah perasaan. Rendi tidak pernah menutupi perasaannya. Dia sudah terang-terangan mengejar Nayna kembali. Mengibarkan bendera persaingan pada Rizki, sang tunangan yang sudah memutuskan sendiri tunangannya.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Hii🖐🖐
Views Tercintahh🤩😍
Kenangan itu sama seperti hujan.
Bagaimana kita bisa mencegah hujan turun
Maka lebih baik biarkan saja
__ADS_1
Hingga dia akan berhenti sendiri nantinya
Kenangan itu tidak akan mungkin hilang
Boleh jadi dia akan terganti
Tergilas oleh kenangan yang baru
Tapi tetap ada di sini, di sudut hati
Tingkiyuu bangetz yg udah setia membaca novel "Love Or Be Loved"
Mohon Dukungannya
👇
Vote
Like 👍
Favorit ❤
Coment 💬
Baca juga Novel Author Lainnya
☆ Mengejar Cinta Ustad
☆ Cinta 90
Mohon juga Dukungan
👇
Vote
__ADS_1
Like 👍
Favorit ❤