Love Or Be Loved

Love Or Be Loved
David


__ADS_3

David Pov


David sudah menyetir mobilnya pelan menuju rumah. Setelah kembali ke kota ini, hari ini dia baru menyempatkan waktu menemui kekasihnya itu. Aahhh, David sangat merindukan Winda, setelah hampir dua tahun ini terpisah. Tugas memaksanya berjauhan dari sang kekasih hati.


David menjemput Winda ke kantornya. Meminta kekasihnya itu untuk bisa pulang dari kantor setengah hari saja. Hari ini dia ingin mènghabiskan waktunya di rumah bersama Winda saja. Disamping ada sesuatu hal yang harus segera disampaikannya, sebelum semuanya nanti menjadi lebih rumit.


David sudah membuka pintu pagar rumahnya. Dia memang tinggal sendiri, karena kedua orang tuanya ada di kota lain. Bibi pembantu juga datang setiap dua hari sekali, membersihkan rumah, mengisi kulkas dan memasak, sisanya dilakukan David sendiri.


Setelah memasukkan mobilnya ke garasi. David mengajak Winda masuk. Mereka melangkah menuju ruang tengah.


"Mami dan papimu belum pulang sayang," tanya Winda dengan manja.


"Udah pergi lagi sayang. Kau tau sendiri pekerjaan papi. Dan mami sepertinya tidak mau lepas mengikuti kemanapun papi pergi dinas. Dan tinggallah aku yang menjadi korbannya," keluh David.


"Lagian pikir mami kau juga sudah dewasa dan bisa mengurus hidupmu sendiri sayang," sanggah Winda atas keluhan kekasihnya itu.


David tersenyum menganggugkan kepalanya. Lagipula pekerjaannya tidak jauh berbeda dari papi, yang membuatnya juga tidak sering berada di ruamah ini, gumam David kemudian.


"Sayang, apa nanti setelah kita menikah. Kau juga akan memintaku selalu mengikutimu seperti mami," tanya Winda yang sudah keluar dari dapur membawa dua gelas minuman.


David mengambil minumannya dan menyeruput setengahnya. Dia sudah kembali duduk di samping kekasihnya.

__ADS_1


"Aku sih terserah kamu sayang. Mungkin kalau kita belum mempunyai anak, kau masih bisa bebas. Tapi saat kita sudah mempunyai anak nanti, kurasa kau harus mengurangi aktivitasmu itu. Aku juga tidak memaksamu untuk selalu mengikuti kemanapun aku nanti ditempatkan," jelas David


"Iihhh....belum juga nikah udah ngomongin anak," Winda memukul dada David.


David memegang kedua tangan Winda erat, mendekatkan wajahnya, hidungnya sudah saling bersentuhan. David memandang bibir sexy Winda yang dipoles lipstik pink itu.


Kali ini bibirnya sudah menempel pada bibir Winda, dikecupnya ringan. Kelembutan bibir Winda seakan membuat seluruh tubuhnya berdesir. Windapun merasakan hal yang sama. Kecupan itu membuatnya memejamkan matanya merasakan sensani melenakan. David kembali menatap Winda, saat dilihatnya gadis itu sudah memejamkan matanya. David semakin memperdalam ciumannya. Kecupan itu kini sudah berubah menjadi lumatan. Gayungpun bersambut, Winda membalas setiap ciuman yang David berikan. Hingga akhirnya Winda melepaskan diri saat nafasnya terasa sudah benar-benar habis.


"Kau selalu saja tidak mau bernafas," ucap David tersenyum


"Aku kangen sekali sayang," nafas hangat Dev terasa menghembus di telinga dan lehernya, membuat Winda semakin menegang.


Winda melepaskan diri. Dia tidak ingin cumbuan David membuat laki-laki itu jadi tidak bisa mengendalikan dìri nantinya.


"Sayang.....udah dong," pinta Winda


Dan seketika kesadaran David kemabali, matanya masih terlihat berembun menandakan nafsu sudah mulai melingkupinya. Beruntung Winda menyadarkannya, jika tidak bagaimana mungkin dia bisa menolak lingkaran setan yang akan semakin akan menjerumuskannya itu.


"Sayang, katanya tadi ada yang mau dibicarakan," tanya Winda begitu mereka sudah menenangkan diri dan mengatur nafas.


David memandang Winda kembali. Hatinya diliputi keraguan. Tapi jika dia tidak bicara hari ini, dia takut gadis itu akan lebih dulu menghubungi Winda. Dia jenis wanita berani, dia akan melakukan apapun yang diinginkannya, bisik hati David.

__ADS_1


"Sayang, sebelum memulai bicara, tolong maafkan aku, maafkan kekhilafanku," pinta David pelan, membuat jantung Winda berdetak dan bertanya.


Apakah kecurigaannya selama ini benar, David sudah mengkhianatinya, Winda jadi semakin gundah. Winda memang sudah mencurigai dan menyelidiki David sejak beberapa bulan terakhir. Sejak dirasakannya sudah semakin sulit untuk bisa berkomunikasi dengan kekasihnya itu. Apakah LDR selalu pasti tidak akan menang. Cinta LDR_an pasti tidak akan pèrnah berhasil, keluh hati Winda kembali.


Winda menarik nafas dalam sebelum menghembuskannya. Dia menenangkan hatinya dan berusaha menerima seberapa burukpun nanti yang akan di dengarnya dari mulut David.


"Sayang, ma.....maaf aku telah men....men ...menduakanmu. A....aaku dekat dengan gasis lain di sana," David seperti sudah mengeluarkan bongkahan batu dari dadanya, tapi sekaligus belati yang akan menghujam jantungnya.


Dan belati itu kini sudah menusuk-nusuk dada Winda, perih tapi tidak berdarah. Winda masih mematung, terdiam tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


"Sayang......," David memegang tangan Winda.


"Lepaskan, jangan sentuh aku," gadis itu sontak menyentakkan tangan David hingga tangannya terlepas dari genggaman.


"Sayang, aku tidak pernah melakukan apapun pada gadis itu, kami hanya sekedar dekat," jelas David lagi.


Tidak pernah melakukan apapun. Seketika Winda teringat dengan ciuman mereka barusan. Dia menghapus bibirnya dengan punggung tangan, tidak puas diusapnya lagi kasar dengan tangannya.


"Kau menciumku barusan, membuatku terlena karena kufikir itu atas nama cinta. Dan kau juga pasti mencumbu gadis itu seperti yang kau lakukan saat mencumbuku tadi bukan," teriak Winda keras.


Dia mengambil tasnya lalu berlari. Tidak didengarnya lagi teriakan David. Winda berlari kencang keluar menuju jalan raya, beruntung dia berpapasan dengan taksi yamg sehabis mengantar penumpangnya ke kawasan rumah David. Winda bergegas masuk ke dalam taxi kembali menuju rumahnya. David mengejar Winda, tapi sia-sia. Kemudian hanya bisa terdiam memandang sosok Winda yang sudah menjauh, menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


__ADS_2