
"Assalamualaikum," sapa mom ketika di dengarnya telephonenya tersambung.
""Waalaikumsalam," jawab suara di seberang dengan nada sangat malas.
"Nay....sayang....," mom memanggil Nayna.
"Iya mom," balas Nayna cepat.
"Bang Ki Nay....Bang Ki kecelakaan......," mom memberitahu Nayna.
"Apaaaa mom. Ke...ke...kecelakaan.....," Nayna tampak limbung. Handponenya hampir saja terjatuh dari genggaman.
Ya Allah....cobaan apalagi ini, bisik hati Nayna dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Rumah sakit mana mom?" tanya Nayna lagi setelah dapat menguasai perasaannya.
Nayna menutup telephonenya cepat setelah mom menyebutkan nama satu Rumah Sakit. Rumah Sakit yang sama ketika Rizki dirawat saat sebelumnya pernah terjadi kecelakaan, Rumah Sakit sekaligus tempat Rizki bekerja.
"Nay....nay sayang.....," mom masih di ujung telephonenya memanggil Nayna.
Gadis ini pasti sudah panik, menutup telephone tanpa memberi salam. Padahal mom belum sempat menjelaskan kondisi Rizki yang sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Mengingatkan supaya Nayna jangan panik dan tidak perlu tergesa-gesa kemari.
Nay sudah bergegas, menyambar kunci mobilnya dengan sangat panik. Kalau bunda tidak melihatnya dan bertanya, mungkin Nay masih seperti orang lingkung yang kebingungan bergegas keluar rumah.
"Nay....mau ke mana, kenapa tergesa-gesa begitu?" tanya bunda begitu dilihatnya Nayna tampak pucat dan seperti kebingungan.
"Bang Ki bun...bang Ki....," jawab Nayna sudah tampak berkaca-kaca.
"Rizki kenapa?" tanya bunda lagi.
Bunda sangat mengenal putrinya ini. Dibalik sosoknya yang lembut dan tampak kuat, Nay itu sangatlah cengeng ketika menghadapai masalah. Menangis adalah salah satu kekuatan yang dimilikinya untuk melegakan hati ketika sedang lara.
"Bang Ki ke...kecelakaan bun. Nay harus ke Rumah Sakit sekarang," jawab Nay sudah mulai terisak.
"Kecelakaan.....," bunda tampak kaget mendengarnya.
Tapi bunda segera menguasai diri. Jika ikut-ikutan panik, bagaimana bisa bunda menenangkan Nayna yang kini sudah tampak sangat bingung.
"Ajak adikmu, jangan pergi sendiri. Jangan mengendarai mobil sendirian saat pikiran kita sedang kalut," perintah bunda tegas.
Dan di sinilah Nayna kini, ditemani si tomboy Kayla, membelah jalan ibukota menuju Rumah Sakit ternama di kotanya. Rumah sakit di mana sang kekasih tengah di rawat kini.
"Udah sih mbak, nggak usah nangis terus," bujuk Kayla sambil menyetir.
"Mbak yang salah sampai bang Ki kecelakaan Kay. Mbak nggak pernah telepone, nggak kasih kabar hampir satu minggu ini," ujar Nay pada adiknya.
__ADS_1
"Bang Ki pasti kepikiran mbak, jadi nggak konsentrasi hingga kecelakaan ini bisa terjadi," rutuk Nayna kembali menyesali.
"Udah mbak. Kita belum tahu bagaimana sebenarnya keadaan bang Ki. Jangan menyalahkan diri sendiri seperti itu. Namanya musibah, kita manusia tidak akan ada yang tahu" bujuk Kayla kemudian.
Nayna terdiam. Meresapi kebenaran dari kata-kata Kayla barusan. Adik bungsunya yang tomboy ini ternyata bisa menasehati dan menjadi dewasa juga.
Nayna menghapus air matanya, dia tidak mau membuat Kayla yang kemudian menjadi tidak konsentrasi menyetir.
Begitu sampai di rumah sakit Nayna bergegas berlari, derap langkahnya bahkan membahana di koridor Rumah Sakit. Kayla mengejar Nayna, mengikuti saja langkah kaki Nayna yang begitu tergesa.
Tapi seketika Nay berhenti, dia lupa menanyakan pada mom di mana bang Ki saat ini tengah di rawat.
"Ke UGD aja.....," ujar Nayna bicara sendiri dan segera melangkahkan kakinya ke ruangan Unit Gawat Darurat berada.
Beruntung belum jauh kakinya melangkah, Nayna dan Kayla berpapasan dengan Roby dan Rena, adiknya Rizki.
"Mbak Nay....," teriak Rena menghampiri Nayna.
"Ren, gimana keadaan bang Ki. Abang di rawat di mana? Apa masih berada di UGD?" cecar Nayna bertubi begitu Rena mendekat.
"Mbak Nay sabar. Aku dan Roby juga belum melihat bang Ki. Ini juga baru nyampe," jawab Rena.
Jawaban Rena malah membuat Nayna terlihat jadi semakin panik.
"Tapi kata mom tadi, alhamdulillah abang nggak apa-apa, cuma benturan ringan kaget aja. Dari pagi malah sudah di pindah ke ruang perawatan," ujar Rena kemudian.
"Alhamdulillah....," Kaylapun ikut bersyukur mendengarnya.
"Ayo mbak, ke kamar rawat bang Ki aja langsung. Sebelum ntar didahului pelakor," ajak Rena pada Nayna.
"Pelakor?" tanya Kayla bingung.
"Iya Kay. Siapa lagi pelakor genit kalau bukan dokter Melia," jawab Rena ketus.
"Ooooo....Kalau begitu lets go mbak. Kita jagal pelakor jangan ampe bisa masuk ruangan bang Ki," jawab Kayla spontan.
"Susah Kay, pelakornya dokter Rumah Sakit sini, otomatis berkeliaran di sini cari mangsa," jawab Rena kembali.
"Udah deh....Jangan bikin mbak Nay makin kepikiran. Kasian kan, udah cemas mikiran bang Ki, malah kalian tambah-tambahin lagi," cegah Roby pada keduanya.
Nayna dan Kaylapun memilih untuk diam. Kemudian mengikuti langkah Roby dan Nayan menuju ruangan Rizki di rawat. Ruangan kamar Rizki dirawat sudah di info mommy melalui pesan whatsapp.
"Mbak Nay udah bisa lega sekarang," ucap Kayla menyindir sang kakak.
"Dari tadi nih mbak, di mobil nggak berenti nangis mbak Nay," ujar Kayla kembali mengadu pada Rena.
__ADS_1
"Key....udah dong," rajuk Nayna pada adiknya.
Kayla tertawa melihat Nayna sudah bersungut tidak suka. Menertawakan mbak yang disayanginya ini. Selain baik, lembut, penyayang, Nayla memang sangatlah cengeng.
Sementara Rena hanya tersenyum, merasa bahagia karena mbak Nay ternyata memang benar mencintai abangnya. Kekhawatiran yang di tunjukkan dari wajah dan sikapnya membuat Rena yakin kalau mbak Nay juga mencintai bang Rizki.
Sementara Roby yang sedari tadi mencuri perhatian menatap Kayla. Gadis ini persis banget mbak Nay tapi versi tomboynya, batin Roby tersenyum.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Hiii views tercintaaahh🤩😍
Selanjutnya kisah cinta akan banyak diwarnai kisah antara Nayna dan Rizki🤩😍😘
Tentu saja diselipi kisah cinta lain sebagai pemanis🤗✌
Ikuti terus up selanjutnya yah cintahh🙏🏻✌🤗😘
Tingkiyuu bangetz yg udah setia membaca novel "Love Or Be Loved"
Mohon Dukungannya
👇
Vote
Like 👍
Favorit ❤
Coment 💬
Baca juga Novel Author Lainnya
☆ Mengejar Cinta Ustad
☆ Cinta 90
Mohon juga Dukungan
👇
Vote
Like 👍
__ADS_1
Favo