
"Bang....," sapa Bayu pada Rendi setelah mendudukkan bokongnya di sofa tepat di depan Rendi, di ruang tengah.
"Hmmmm....," sahut Rendi yang tengah menatap lekat layar handphonenya.
Bayu tahu pasti abangnya itu sedang memandangi foto sang pujaan hati di sana.
"Bener banget kata Dilan ya bang. Rindu itu emang berat," keluh Bayu
Rendi yang sedari tadi tidak perduli, memalingkan wajahnya dan menatap intens adiknya itu.
"Dilan mah enak bang, merindukan kekasihnya sendiri. Gitu aja dia masih berat. Coba gimana beratnya kalau merindukan seseorang yang tidak mungkin kita miliki," keluh Bayu lagi sendu.
Rendi menatap Bayu. Dilihatnya duka di mata adiknya itu, getir dirasakan Rendi mendengarkan Bayu berbicara.
Tapi Rendi tetap memilih diam dan mendengarkan saja. Karena dirinya sendiripun dalam duka yang sama. Lalu bagaimana mungkin dia bisa memberikan nasehat atau saran pada adiknya itu.
Sementara tidak jauh dari mereka, mami menatap sedih kedua putra tersayangnya tersebut. Putra yang sangat disayangi dan di banggakannya itu. Secara kasat mata, wanita manapun tidak akan mungkin menolak pesona kedua putranya tersebut. Bukan saja sama-sama berwajah tampan. Kedua saudara itupun sama-sama berprofesi sebagai perwira polisi berpangkat tinggi sekaligus pengusaha. Tidak akan ada yang menolak pemuda tampan, baik, soleh, santun, pengusaha pula untuk menjadi menantu bagi putri mereka. Dan mami patutlah saja merasa sangat sedih. Kesempurnaan fisik dan materi ternyata tidak menjamin mereka akan sempurna dan berhasil pula dalam urusan wanita, dalam masalah hati dan perasaan. Keduanya merasakan bagaimana cinta mempermainkan hidup mereka saat ini. Mencintai wanita yang tidak mungkin mereka raƬh. Mencintai hati yang tidak dapat mereka miliki.
"Mi, mami kenapa," tanya Riko, putra bungsu mami
"Mami sedih memikrkan abang dan mas mu nak," jawab mami masih memandangi kedua putranya itu.
__ADS_1
"Kenapa kedua putra mami sangat tidak beruntung kalau masalah wanita. Kenapa mereka berdua harus sama-sama merasakan sakitnya mencintai," ujar mami sedih.
"Sepertinya bukan hanya dua orang, tapi ketiga putra mami memang tidak seberuntung itu," balas Riko sedih.
Mami menoleh menatap Riko. Apa yang dikatakan Riko barusan dengan ketiganya.
"Maksudnya apa dek?" tanya mami pada Riko
"Akupun sepertinya bernasib sama dengan bang Rendi dan mas Bayu, mi...,"
Mami mengerutkan alisnya menatap Riko bingung. Putranya ini baru kelas tiga sekolah menengah kejuruan, tahun depan baru mau masuk universitas, bagi mami Riko masih putra kecilnya, masih putra bungsunya yang sangat dimanjakannya. Dan sekarang dia sudah berbicara mengenai seorang wanita pada maminya.
"Dek, mami nggak ngerti. Ngomongnya to do point aja, jangan berbelit-belit, bikin mami bingung," mami tampak kurang suka.
"Kami tidak satu sekolah mi. Aku bertemu dengannya saat latihan karate, dia juniorku di tempat baru. Anaknya sangat manis dan lincah. Dia sangat tomboy mi, berbeda dengan wanita-wanita yang biasa mendekati Riko selama ini," Riko menarik nafasnya sebentar, lalu melanjutkan kembali ceritanya.
Sementara di sudut sofa ruang tengah, dua orang laki-laki patah hari tengah serius ikut mendengarkan ceritanya tanpa Riko sadari.
"Saking tomboynya, bicara pada Rikopun tidak pernah lembut. Dia satu-satunya gadis yang sama sekali tidak pernah memandang Riko. Saat gadis-gadis lain sibuk memcari perhatian Riko, dia bahkan tidak perduli sama sekali," jelas Riko kembali.
Mami terlihat menganggukkan-nganggukkan kepala.
__ADS_1
"Gadis yang unik," ucap mami
"Dan mami tahu siapa gadis itu?" tanya Riko, mami menggelengkan kepalanya cepat.
"Dia Kayla, mi....,"
Mami bertambah bingung. Siapa Kayla. Riko belum pernah mengenalkan siapapun pada mami selama ini.
"Kayla adiknya mbak Nayna mi......," jawab Riko pelan
Sontak saja jawaban Riko membuat bukan hanya mami, tapi Rendi dan Bayu berteriak yang sama.
"Apaaaaa........,"
"Maksud kamu, adik Nayna anaknya tante Meli," tanya mami menyakinkan.
"Iya mi, anak sahabat mami. Dan mami tahu sendiri kan bagaimana tante Meli membenci kita dan bahkan memutuskan hubungan persahabatannya dengan mami," keluh Riko sedih.
Seketika mami terdiam. Ya Allah kenapa kehidupan cinta ketiga putraku ini seperti sinetron saja. Mami benar-benar sudah tidak habis berfikir.
Rendi mencintai Nayna. Bayu mencintai Winda, sahabat Nayna. Sementara Riko mencintai Kayla, adik Nayna. Apa ini memang takdir Tuhan untuk mereka bertiga. Atau memang Tuhan tidak ingin kita berpisah. Bahwa kita memang sudah digariskan menjadi besan Mel, tanya mami sendiri dalam hatinya.
__ADS_1
Sementara Rendi dan Bayu bergegas mendekati Riko, adik bungsu mereka itu.
"Beneran Ko...," tanya keduanya berbarengan. Dan Riko hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya.