
Sudah satu minggu ini Nayna ngotot untuk terus menemui Rizki di Rumah Sakit. Nay tidak perduli meskipun Rizki terus menghinanya.
Nay tetap saja datang, membawakan makanan kesukaannya, sekedar bercerita mengingat cerita mereka. Atau hanya duduk di sudut ruangan memperhatikan Rizki, karena dia melarang Nayna untuk mendekat.
Nayna tidak perduli apapun, dia tetap bertahan. Bukan hanya demi ingatan Rizki kepadanya, tapi demi cinta mereka yang sudah mulai tumbuh itu.
Tapi saat melihat dokter Melia, Nayna merasa tidak sanggup. Sebagai seorang wanita Nay sangat sadar, dokter Melia menyukai Rizki. Dia sengaja mengambil kesempatan saat ingatan Rizki menghilang. Saat Rizki bahkan lupa bahwa mereka sudah memutuskan untuk menikah. Acara lamaran yang sudah dirangcang bulan depan, bahkan mumgkin tidak akan pernah terjadi.
Hari ini, setelah selama satu minggu Nayna bersikukuh. Berkeras untuk selalu di samping Rizki. Akhirnya hatinya lelah juga, batinnya terluka akan penolakan demi penolakan yang Rizki lakukan akan kehadirannya. Ditambah lagi kehadiran dokter Melia, yang bertingkah seolah-olah dialah calon istri Rizki, bukanlah Nayna, makin memperburuk kondisinya.
Nayna menghela nafas berat. Hati dan raganya sudah benar-benar tidak kuat lagi. Sudah berapa kali cinta mengecewakannya. Sudah begitu sering takdir seolah mempermainkannya. Nayna memejamkan mata menahan perih yang seperti menusuk hatinya.
"Mbak Nay......," Ay nongol mengetuk pintu Nayna.
Nayna yang berusaha memejamkan matanya terkesiap. Muncullah Ay di balik pintu kamar.
"Mbak Nay. Ada mbak Win di depan," ujar Ay masuk ke dalam kamar.
Winda. Dia hampir lupa pada sahabatnya itu, ketika masalah demi masalah bergantian menghampirinya.
"Ya udah Ay temenin dulu. Mbak ganti pakaian dulu," ujar Nayna memerintah adiknya.
"Oke mbak....," Ay mengacungkan jempolnya keluar kamar Nayna.
"Naynaku......," teriak Winda begitu melihat Nayna.
Rasa kangen di hati Winda sudah tidak terbendung lagi. Cukup lama mereka tidak bertemu, sibuk dengan masalah masing-masing.
Winda dan Nayna bergegas berpelukan. Kemudian saling menatap dan berpelukan kembali. Air mata kebahagiaan tidak dapat mereka berdua sembunyikan.
"Aku sudah mendengar masalahmu dan Rizki. Yang sabar yah Nay sayang," ucap Winda sendu ikut merasakan perasaan sahabat tercintanya itu.
"Makasih Win.....," ucap Nayna.
"Eh kamu juga tumben tiba-tiba nongol. Biasanya juga pasti ngabarin dulu kalau mau ke rumah,"
Winda membuka tasnya, menyerahkan amplop undangan berwarna coklat dihadapan Nayna.
__ADS_1
"Kamu mau menikah Win," tanya Nayna dengan senyum yang merekah saat menerima undamgan yang di sodorkan Winda.
Nay berubah jadi terlihat sangat bahagia. Segala beban, pedih dan sedihnya menguap entah kemana.
"Jadi juga nih sahabatku tercinta ini akhirnya dilamar bang David tersayang," ucap Nay tersenyum.
"Apaaaa.....," teriak Nay begitu sudah membuka dan membaca undangan Winda sahabatnya itu.
"Ba.....Bayu Wijaya....,," ucap Nay membaca nama mempelai laki-lakinya.
Nay menatap Winda. Matanya menunjukkan kalau dia meminta penjelasan.
"Aku dan Bayu sudah hampir satu tahun ini menjalin hubungan,"
Mata Nayna mendelik. Dia kesal sendiri tidak mengetahui sedikitpun tentang sahabatnya ini.
"Maaf Nay, aku tidak pernah bercerita padamu bagaimana hubunganku dan David akhirnya kandas. Bagaimana pada akhirnya aku menjalin hubungan dengan Bayu," jelas Winda merasa bersalah.
"Aku yang salah Win. Sahabatmu ini terlalu sibuk dengan berbagai masalahnya sendiri," balas Nayna sedih.
"Itu sudah pasti. Aku akan mengajak Ay menginap di rumahmu nanti," jawab Nay dengan senyum bahagia.
"Tapi kenapa kamu jadi berpisah dengan David Win. Bukankah kau memutuskan untuk memulai semuanya kembali dengan David," tanya Nayna yang belum lepas dari rasa penasarannya.
"Kami kembali Nay. Berusaha memulai semuanya dari awal. Berusaha melupakan pengkhianatan yang sudah David lakukan padaku," jelas Winda sendu.
"Aku fikir Dav akan berubah Nay. Dia akan menghargai hubungan kami yang bahkan sudah lebih dari sepuluh tahun ini. Tapi ternyata, Dav tidak bisa berubah. Dia kembali lagi mengkhianati hubungan kami Nay," kali ini lolos juga air mata itu di pipi Winda.
Nayna tampak geram, rahangnya sudah mengeras. Nay ingin bicara dan ikut memaki David. Tapi saat dia melihat amplop coklat itu, Nay jadi berfikir bahwa sahabatnya itu sudah bahagia. Winda sudah menemukan seseorang yang sangat mencintainya. Nay tidak ingin lagi sahabatnya itu bersedih mengingat semua pengkhianatan cinta yang pernah dialaminya.
"Sudah.....sudah, nggak usah di ingat-ingat lagi. Sebentar lagi kau sudah bahagia Win, bersama laki-laki yang benar-benar mencintaimu. Aku ikut senang dan bahagia mendengar akhirnya kau bersama Bayu," ucap Nay tersenyum tulus.
"Terimakasih sayangku," balas Winda menggenggam kedua tangan Nayna.
"Lalu bagaimana kondisi Rizki. Jadi benar dia mengalami amnesia?" tanya Winda kepada Nayna.
Nayna mengangguk. Mengingat bagaimana selama satu minggu ini dia benar-benar seperti orang lain bagi Rizki.
__ADS_1
"Yang sabar yah Nay sayang......," ucap Winda tulus.
Winda tidak tahu mesti bicara apa pada Nayna. Jika membahas masalah Rizki sudah pasti akan membuat Nayna jadi bertambah sedih. Winda adalah satu-satunya sahabat Nayna. Dia mengetahui semua tentang sahabat tercintanya itu luar dan dalam. Winda memutuskan hanya memberikannya Nayna semangat agar bisa menjalani semuanya.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Tingkiyuu bangetz yg udah setia membaca novel "Love Or Be Loved"
Mohon Dukungannya
👇
Vote
Like 👍
Favorit ❤
Coment 💬
Baca juga Novel Author Lainnya
☆ Mengejar Cinta Ustad
☆ Cinta 90
Mohon juga Dukungan
👇
Vote
Like 👍
Favorit ❤
Coment 💬
__ADS_1