Love Or Be Loved

Love Or Be Loved
AwaL Yang Indah Untuk Memulai


__ADS_3

Bik Yati sudah membawa Seteko orange juice dan empat buah gelas, tidak lupa beserta cemilan. Karin, Bik Yati dan Mang Ujang melepas dahaga dengan segelas juice. Duduk di bangku taman sambil menikmati segarnya udara pagi hari dan menikmati wangi aroma bunga, di taman cantik yang sudah terlihat indah. Ketiganya tampak mengobrol sambil tertawa renyah, begitu bahagia.


"Bik, kok bawak gelas empat sih," tanya Karin pada bik Yati.


"Sengaja non. Siapa tahu tuan bangun dan mau ikutan kita nyantai di sini," sahut bik Yati memandang majikan perempuannya itu.


Bik Yati sengaja tidak memberi tahu majikannya itu bahwa saat menuju dapur hendak membuat air juice tadi, bik Yati sempat melihat tuan mudanya itu mengintip dari kaca jendela di ruang tamu.


Karin tersenyum menatap bik Yati, seolah menertawakan semua ucapan yang dikatakan pembantunya itu barusan.


"Nggak bakalan bik. Mana mungkin Rey mau berkumpul sama kita, kalau ada saya. Tiap hari bahkan dia selalu menghindar dan jangan sampai bertatap muka dengan saya," ucap Karin sendu.


"Non yang sabar yah. Inget si cabang bayi, perasaan ibunya akan mempengaruhi anaknya, ingat kata dokter kemarin," ujar bik Yati penuh sayang.


Bik Yati jadi menyesal membicarakan tuan mudanya tadi. Membicarakannya jadi membuat perasaan nona mudanya terluka.


Karin memegang perutnya, mengelus-ngelusnya penuh sayang.


"Yang sehat ya nak. Yang kuat, ada mommy di sini," ucap Karin kemudian.


Bik Yati jadi bertambah sedih. Di saat hamil seperti ini, saat lagi membutuhkan seorang suami untuk selalu mendampinginya, nona mudanya ini hanya melewatinya sendiri. Tuan mudanya itu sama sekali tidak perduli. Semoga selalu kuat ya non, bisik hatinya lagi sedih.

__ADS_1


"Bik, mana juicenya," tiba-tiba saja Reyhan muncul di hadapan Karin, bik Yati dan mang Ujang.


"Ehhh tuan muda, aa...ada tuan.....bentar bibik tuangin," ujar bik Yati tergopoh-gopoh karena terkejut.


Bik Yati sungguh kaget, saat tuan mudanya itu tiba-tiba sudah muncul di hadapan mereka. Begitupun Karin, tapi kini dia sudah memutuskan untuk memilih tidak perduli. Sedari tadi Karin sudah berfikir untuk menyerah. Bahkan dia sudah memutuskan untuk tidak lagi memasakkan makanan untuk suami palsunya itu.


"Ini minumnya den Rey...," bik Yani menyerahkan segelas orange juice.


"Makasih bik Yati," ucap Rey menerima gelas dari bik Yati.


Rey mengambil posisi duduk di bangku persis di samping Karin. Meminum juicenya sambil menarik nafas dalam. Menikmati menghitup wangi aroma bunga dan segarnya udara pagi hari.


"Karin, kapan waktu periksa kehamilanmu," tanya Reyhan memandang Karin tiba-tiba mengejutkan Karin.


"Iya, kapan waktu pemeriksaan kehamilan kamu," ulang Reyhan.


Karin masih bengong. Dia màsih tidak mempercayai pendengarannya. Reyhan, yang notabene suaminya itu, yang selama ini cuek dan tidak perduli, tiba-tiba menanyakan jadwalnya untuk pemeriksaan kehamilannya.


"Loh, ditanya kok malah bengong," ujar Reyhan kembali.


"Non Karin udah diperiksa dua hari lewat den, bik Yati yang nemenin," bik Yati yang menjawab.

__ADS_1


"Oooo, jadi gimana kabarnya anak daddy di perut mommynya ini," tanya Reyhan kembali sambil mengelus perut Karin.


Karin diam saja dan semakin terkejut akan tingkah Reyhan. Dia benar-benar heran akan sikap Reyhan yang tiba-tiba menjadi bersikap begitu perhatian.


"Alhamdulillah bayi dan ibunya dalam keadaan sehat tuan muda," balas bik Yati lagi.


"Loh daddynya nanyain mommynya kok mesti pake pengacara sih," jawab Reyhan lagi dengan lembut.


"Pengacara itu apa den." tanya bik Yati bingung.


"Ya bibik itu pengacara, alias juru bicaranya istriku," terang Reyhan pada bik Yati dengan tersenyum.


"Bibik makin nggak ngerti den," raut muka bik Yati tampak bingung sehingga membuat Karin tersenyum.


"Non Karin.... bibik benar-benar nggak ngerti non," kali ini bik Yati bicara menghadap Karin dengan mimik muka yang sungguh lucu.


"Ya udah bik kalau nggak ngerti nggak apa-apa kok. Bibik itu bukan cuma pengacara, jubir tapi juga bodyguard Karin," jawab Karim masih tersenyum.


"Nah itu apaan lagi non, pake gad gad....," tanya bik Yati.


Karin akhirnya tidak dapat menahan tawanya, Karin tertawa ngakak memperhatikan wajah bik Yati yang terlihat bingung. Reyhan memperhatikannya saja. Reyhan senang bisa melihat Karin tertawa, rasanya selama ini wanita ini sudah tidak lagi pernah tersenyum, apalagi untuk tertawa sebahagia itu.

__ADS_1


Padahal mood seorang ibu akan sangat mempengaruhi janin yang dikandungnya. Rey jadi merasa sangat bersalah.


"Udah nggak usah bibik pusingin, pokoknya bik Yati is the best buat Karin. Terimakasih ya bik, selalu ada di samping Karin," ucap Karin terharu dan berdiri memeluk bik Yati.


__ADS_2