Love Or Be Loved

Love Or Be Loved
Rendi Kembali


__ADS_3

Nayna baru aja tiba di kantornya saat dilihatnya Rendi sudah duduk di sofa ruangan Winda, sahabatnya. Winda sengaja membuka pintu ruangannya lebar-lebar, agar saat Nayna sampai dia bisa melihatnya.


"Nahhh itu Naynanya baru nyampe bang," tunjuk Winda


Rendi langsung menoleh dan menatap Nayna. Sementara Nayna bergegas masuk ke ruangannya.


Belum sampai Nay masuk ruangannya, Rendi sudah memanggil mencegah langkahnya


"Nay.......tunggu,"


Nayna menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Rendi.


"Ada apa? Mau ngapain bang Rendi kemari," tanya Nayna ketus.


Dia sudah memutuskan untuk berhenti pada laki-laki itu. Berhenti memikirkannya, berhenti mengharapkannya, berhenti mengingatnya, berhenti untuk membuka hatinya kembali.


"Kita mesti bicarain masalah kita Nay,"

__ADS_1


Nayna mengeryit, alisnya sudah tampak bertautan, wajahnya berubah tidak senang.


"Masalah kita bang?" tawa Nayna


"Masalah mana yg mesti kita bicarain. Hubungan kita udah lima tahun yang berlalu, dan baru sekarang abang nemuin Nay buat bicara....udah telat bang," ucap Nayna lagi dengan sinis.


Rendi terdiam. Nay benar, salahnya yang tidak pernah berani bicara. Salahnya yang membiarkan Nayna tetap dalam prasangkanya. Salahnya yang membuang jauh-jauh gadis itu dari hatinya.


"Tapi tetap aja, abang harus ngejelasin semuanya sama Nay. Abang tetap harus bicarakan semua sama Nay," balas Rendi lagi


Nayna masuk keruangannya, pintunya dibiarkannya saja terbuka. Lebih baik dia mengajak Rendi bicara di dalam. Nay tidak mau karyawannya mendengar semua permasalahannya.


Rendi mengikuti Nayna masuk ke dalam ruangannya, lalu segera duduk di sofa yang ada di sana.


Sementara Winda dari tadi hanya diam dan memandang pertengkaran yang terjadi pada dua anak manusia itu, tanpa berniat ikut campur.


Biar Nayna menyelesaikan masalahnya sendiri," batin Winda.

__ADS_1


Tapi ini berat banget, asli berat. Antara bang Rendi sama Reyhan. Gue pribadi aja nyerah, bingung mau milih yang mana.


Bang Rendi itu, muka khas minangnya beda. Udah petinggi Polri, ganteng, keren. Tajir udah pasti, restoran khas minangnya cabangnya udah di mana-mana. Bang Rendi itu manis bange, puji Winda dalam hati.


Nah Reyhan, nggak kalah pesonanya. Keren, tampan, soleh. Direktur Utama Perusahan Negara, belum lagi bisnisnya yang udah menggeliat di beberapa kota, nggak kalah tajirnya dari bang Rendi. Tatapan lembutnya itu bikin meleleh. Manis dan soleh banget, puji Winda lagi. Lo lempar ke gue salah satunya, gue nggak nolak deh Nay, diam-diam Winda tersenyum sendiri.


"Nay, apa tidak bisa kita memulai lagi dari awal," tanya Rendi sejurus menatap Nayna yang sudah duduk di hadapannya.


"Apa.....memulai lagi dari awal. Gampang banget abang ngomong, nggak mikirin perasaan Nay sedikitpun," sinis Nayna.


"Abang tahu abang salah Nay. Tapi Nay juga tahu bagaimana akhir rumah tangga abang. Bahkan abang sama sekali tidak pernah menyentuhnya," keluh Rendi lagi.


"Kalau abang tidak mengkhianati Nay. Tidak ada wanita lain bang. Apapun yang akhirnya abang jalani, itu murni dari kesalahan bang Rendi sendiri. Nay sakit bang, rasa sakitnya aja belum hilang," geram Nayna


Rendi terdiam, membuang nafasnya berat. Susah sekali membuat Nayna mengerti dan memaafkannya. Penghianatannya benar-benar melukai gadis ini, bahkan waktu yang lima tahun tidak berhasil menghapus luka itu dari hatinya, Rendi kembali mengeluh.


"Udah lima tahun lewat bang. Kenapa baru sekarang bang Rendi memohon sama Nay. Kenapa tidak sejak lama, saat pernikahan bang Rendi yang berjalan hanya beberapa bulan itu berakhir. Kenapa terus menciptakan kesan di fikiran Nay kalau bang Rendi sudah berbahagia bersama gadis itu," tanya Nay kembali.

__ADS_1


__ADS_2