
"Nay.....," sapa seseorang ketika Nay membuka pintu depan.
Nayna tampak terlonjak kaget. Sudah beberapa waktu, sejak kecelakaan itu, sejak amnesia mendera, Rizki tidak pernah lagi menginjakkan kakinya di rumah Nayna.
"Bang Ki.....," ujar Nayna heran.
"Udah mau ke kantor?" tanya Rizki pada Nayna.
Nayna tidak menjawab. Hanya menganggukkan kepalanya dan menatap Rizki heran.
"Ya udah, ayok abang antar.......," tawar Rizki pada Nayna.
"Bang Ki pagi-pagi ke sini cuma mau antar Nay ke kantor?" Nayna masih meragukan.
"Iya, abang sengaja dateng pagi-pagi, biar bisa antar Nay ke kantor," jawab Rizki lugas akan pertanyaan Nayna.
"Nggak usah bang. Nay biasa pergi sendiri, ntar malah ngerepotin abang," Nayna menolak halus permintaan Rizki.
"Orang abang aja sengaja datang, berarti nggak repot dong," balas Rizki.
"Emang bang Ki nggak ada prakter di Rumah Sakit pagi ini," tanya Nayna.
"Nggak ada. Abang free hari ini," balas Rizki tersenyum lembut.
Menatap senyum lembut Rizki membuat Nayna bertanya dalam hatinya. Apa ambesianya sudah sembuh. Apa ingatannya sudah kembali. Kalau kayak gini, Rizki seperti kembali menjadi tunangannya.
"Bunda dan ayah ada Nay?" tanya Rizki membuyarkan lamunan Nayna.
"Ada bang di dalem," balas Nayna sangat kaku.
"Kalau gitu abang izin pamit bunda dan ayah dulu yah," Rizki meminta persetujuan.
Setelah menganggukkan kepalanya. Nayna kemudian mengantarkan Rizki masuk ke dalam menemui bunda dan ayahnya.
""Assalamualaikum," sapa Rizki ketika tiba di meja makan, tempat keluarga Nayna sedang berkumpul pagi ini, sebelum memulai menjalani aktifitasnya masing-masing.
"Waalaikusalam.....," jawab semuanya serempak.
"Ayah....," Rizki menyalami ayah Nayna
"Bunda.....," lalu menyalami bunda Nayna.
__ADS_1
"Nayla....Kayla......," menyapa kedua adik Nayna. Dan di balas senyum manis berbalut heran. Kemudian bergantian menatap Nayna, tatapan keduanya seolah meminta jawaban dari Nayna.
Semuanyapun tampak bengong. Heran dengan kemunculan Rizki yang tiba-tiba, sepagi ini pula.
"Ayo bang Ki.....ikut sarapan," ajak bunda memecah ketegangan.
"Makasih bun. Tapi Rizki udah sarapan sebelum kemari tadi," tolak Rizki halus.
"Mau izin sama ayah dan bunda. Hari ini biar Rizki yang antar Nay ke kantor," izin Rizki pada kedua orang tua Nayna.
"Emang nggak ada prakter di Rumah Sakit? Lagian Nay juga biasa pergi ngantor bawa mobil sendiri," tanya bunda pada Rizki.
"Nggak ada bun, hari ini Rizki free. Jadi biar Rizki aja yang antar tungangan Rizki yang cantik ini ke kantor. Baliknya biar Rizki jemput karena mom kangen banget mau ketemu Nay katanya," jawab Rizki sekaligus meminta izin.
Jika begini Nay tidak akan dapat menolaknya. Biarlah kali ini dia memakai nama mommynya demi bisa bersama Nayna. Jika tidak begini, gadis ini akan terus menghindarinya. Dan Rizki juga yakin, mom nya itu pasti akan sangat bahagia bisa bertemu Nayna kembali.
Nayna cuma diam saja. Dalam hati dia mengutuki Rizki. Ternyata hanya karena mom, bukan kemauan hatinya sendiri, Nayna me jadi kecewa.
Setelah bunda dan ayah mengizinkan, Nayna dan Rizkipun pamit. Kini mereka sudah di dalam mobil Rizki, melaju pelan menuju kantor Nayna.
Tidak ada percakapan yang terjadi diantara keduanya. Suasana di dalam mobil menjadi sunyi dan sepi, tanpa ada suara. Bahkan suara musicpun tidak terdengar mengalun.
"Pulang kantor jam berapa?" tanya Rizki.
"Okey. Nanti jam tiga abang jemput lagi," senyum Rizki menatap Nayna.
"Nay.....," panggil Rizki
"Hmmmm.......," balas Nayna
"Kalau kaku kayak gini, abang jadi ingat saat pertama kali kita pergi bareng. Suasananya persis sama....," Rizki sedikit tertawa.
Nay membenarkan ucapan Rizki. Kini mereka bebar-bebar seperti dua orang yang baru saling mengenal. Mereka seakan mengalami de javu.
"Nay, abang tahu dalam hal ini abang yang salah. Beri abang kesempatan Nay," pinta Rizki pada Nayna.
Nayna masih diam saja. Sedari tadi dia memilih untuk tidak membuka mulutnya. Entah karena memang tidak ingin menjawab pertanyaan Rizki. Atau ini juga bagian dari taktik Nayna untuk membuat salah satu laki-laki tampan yang dekat dengannya ini semakin bertekuk lutut.
"Abang tidak akan membiarkan Nay jatuh pada Jenderal muda itu. Siapapun dia, apapun masa lalu kalian, juga bagaimanapun cinta kalian. Abang tidak akan membiarkan itu terjadi," ujar Rizki akhirnya dengan geram.
Nayna tetap memilih bungkam. Dia sudah bertekad pada dirinya sendiri. Naynamu kali ini berbeda bang Ki, bisik hatinya.
__ADS_1
Hingga tidak sadar mereka sudah sampai di kantor Nayna. Setelah mengucapkan terima kasih, dan sepakat akan dijemput kembali Rizki tepat jam tiga sore, Naynapun melanglah menuju kantornya.
Sementara Rizki masih setià memandangi gadisnya dr samping kemudi mobil, hingga tubuh Nayna sudah tidak terlihat lagi di matanya, barulah Rizki pergi dari kantor Nayna, melajukan mobilnya.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Hii🖐🖐
Views Tercintahh🤩😍
Kali Ini Author Menyadari Nayna itu sesungguhnya cuma butuh Keberanian💪💪
Untuk Menyadari bahwa betapa berharga dan istimewanya dirinya🤩😍😘
Tingkiyuu bangetz yg udah setia membaca novel "Love Or Be Loved"
Mohon Dukungannya
👇
Vote
Like 👍
Favorit ❤
Coment 💬
Baca juga Novel Author Lainnya
☆ Mengejar Cinta Ustad
☆ Cinta 90
Mohon juga Dukungan
👇
Vote
Like 👍
__ADS_1
Favorit ❤