
Karin sudah membereskan semua belanjaannya, dan meminta bik Yati untuk mencucinya terlebih dahulu besok pagi.
Ketika kembali ke kamar dilihatnya Rey baru keluar dari kamar mandi dengan rambut basah. Harum mint berpadu menthol tampak memasuki hidung dan menyebar ke paru-paru Karin. Rey terlihat memakai celana pendek dan bertelanjang dada.
"Mommy mandi aja sekarang. Kata ibu, jangan lewat magrib mandinya kalau lagi hamil," Rey menyapa Karin.
Mommy, Karin mengeryitkan dahinya. Karin memilih tidak menjawab. Berjalan menuju lemari mengambil pakaian bersih lalu menuju kamar mandi.
Tapi belum juga sampai kamar mandi, Reyhan sudah mencekal tangan Karin.
"Karin, ayolah berdamai, beri aku kesempatan, kita mulai lagi dari awal," bujuk Reyhan kembali.
"Mari kita mencoba demi anak yang kamu kandung, demi anak kita," ujar Reyhan lagi.
Karin memandang Reyhan lekat.
"Maaf tolong lepaskan tanganku, aku mau mandi, nanti keburu magrib," pinta Karin tampa memperdulikan omongan Reyhan.
Karin baru selesai mandi, mengoleskan handbody di seluruh tubuhnya, menyisir rambut dan bercermin.
__ADS_1
Lalu turun ke mushola menunggu azan magrib.
Dilihatnya Reyhan sudah berada di sana, juga lengkap dengan bik Yati dan mang Ujang. Karin menjadi heran tumben dua asisten rumahnya itu belum balik ke rumah. Setelah selesai sholat berjama'ah dan bersalam-salaman tiba-tiba saja....kruukk....krukkk....kruukkk..........
"Non Karin laper....," tanya bik Yati begitu mendengar arah bunyinya dari perut Karin.
"Bukan Karin yang laper, tapi babynya," elak Karin yang membuat semua jadi tersenyum.
"Iya emang non. Orang hamil itu selalu merasa laper, mesti sering makan. Karena kan makannya buat berdua non," jawab bik Yati lagi biar Karin tidak merasa malu.
"Bibik ke dapur dulu ya non. Manasin masakan buat makan malem," izin bik Yati
"Iya non....," tanya bik Yati menghentikan langkahnya.
"Kok tumben bibik dan mang Ujang belum pulang sudah malam begini?" tanya Karin bingung.
"Bibik sama mamang mulai malam ini akan tinggal di sini non," ujar bik Yati tersenyum.
"Maksudnya gimana bik," Karin bingung
__ADS_1
"Gini non, putri bibik satu-satunya kan di terima kuliah di kota lain lewat program beasiswa. Sebenernya bibik nggak sanggup, karena walaupun kuliahnya dapet biasiswa, tapi kan mesti bayar kost dan kehidupan si Lilis sehari-hari non," jelas bik Yati.
Karin tampak mendengar dan mengamggukkan kepala.
"Alhdulillah, aden Reyhan bersedia memanggung semua biaya si Lilis sampai dia lulus kuliah," jelas bik Yati menitkkan air mata.
""Makasih ya den Reyhan. Bibik sama mamang nggak tahu mesti bagaimana ngebalas kebaikan aden. Selama ini adek udah ngebiayai semua biaya sekolah anak bibik, malah sekarang Lilis bisa kuliah juga," bik Yati memegang tangan Reyhan berterimakasih.
"Udah....udah.....bibik sama mamang nggak perlu balas apa-apa, saya ikhlas kok. Semoga si Lilis bs sekolah yang baik sehingga bisa menyenangkan dan membanggakan kedua orang tuanya nanti," ujar Reyhan mantap.
Bik Yati menghapus air matanya, lalu kembali berterima kasih.
"Jadi sebagai rasa terima kasih kami sama den Reyhan. Bibik sama mamang memutuskan akan tinggal di sini, karena di rumah juga tidak ada Lilis yang mesti bibi urus. Apalagi non lagi hamil kayak gini, kayaknya lebih enak kalau bibi dan mamang tinggal di sini, bisa membantu non Karin. Den Reyhan juga sudah setuju karena demi bisa menjaga non full dua puluh empat jam non," jelas bik Yati kembali.
"Makasih ya bik....mang," ujar Karin mendengar penjelasan bik Yati.
Bik Yati mengganggukkan kepala dan tersenyum bahagia, lalu pamit meninggalkan mushola memanaskan makan malam.
Karin memandang Reyhan lekat. Karin tahu, sedari dulu, Reyhan itu laki-laki yang baik. Dia juga santun, lembut dan Soleh. Karin tidak pernah meragukan itu. Jika selama ini dia terlihat, cuek, ketus dan tidak perduli, itu mungkin cuma ditujukannya pada dirinya, wanita yang tidak pernah dicintainya, yang sudah merebut kebahagiannya bersama orang terkasihnya, bisik hati Karin.
__ADS_1