Love Or Be Loved

Love Or Be Loved
WhatsApp


__ADS_3

Nayna sudah sedikit tenang. Hatinya sudah membaik. Setelah ibu dan ayah Winda pulang, Nay memutuskan kembali ke rumahnya. Tapi pesan di yang diterima di whatsapp handponenya pagi ini sontak membuatnya menjadi gelisah.


Berkali kali dia membaca ulang pesan yang masuk.


Tapi penglihatannya memang tidak bermasalah, pesan itu dari Rendi yang memintanya bertemu.


Apa benar bang Rendi, tanya hati Nayna kembali. Tapi dia memang tidak mengenal sosok laki-laki lain yang bernama Rendi. Hanya satu Rendi. Hanya dia saja.


Tapi bagaimana bisa bang Rendi mendapatkan no handponenya, tanya hati Nayna kembali. Nayna sudah memblokir semua kontak Rendi dan keluarganya, bahkan mamanyapun melakukan hal yang sama. Nay malah sampai mengganti kontaknya dengan nomer baru.


Kalau Winda rasanya tidak mungkin, ujar Nay meyakini. Lalu darimana bang Rendi tahu nomer handponeku, Nayna jadi bingung sendiri. Terus mencari jawaban yang dia yakin tidak akan pernah menemukannya. Kutemui atau tidak besok, Nay masih meragu.


Rendi_Pov

__ADS_1


Nayna. Nay sayang, benarkah ini kamu, Rendi bertanya sendiri pada handphonenya seakan belum mempercayainya. Dia kembali mengulang membaca pesan Whatsapp yang baru saja diterimanya itu.


Assalamualailum. Bang, ini Nayna. Bisakah kita bertemu besok di cafe X sekitar jam dua siang🙏🏻 Nay minta abang jangan telat dan tepat waktu. Assalamualaikum (Nayna)


Ini tidak mungkin orang lain. Nayna mana lagi yang dia kenal. Satu-satunya gadis yang bernama Nayna, adalah Naynaku, gadis yang ku cintai, putrinya tante Meli, Rendi berucap sendiri.


Ingatannyapun kembali pada kisah kasihnya lima tahun lalu. Saat dirinya dan Nàyna masih sangat bahagia sebagai sepasang kekasih.


Flash Back On_Rendi


"Iya bang, Nay ngerti kok. Nggak apa-apa selesaiin aja pekerjaan abang. Kita kan bisa ketemu lain kali," balas Nayna.


Ahh....Naynya begitu sangat pengertian. Bahkan kebohongan yang diucapkam Rendi walaupun dengan berat diterimanya saja tanpa mengeluh, apalagi menyidik. Naynanya yang pengertian tidak tahu, bahwa hari itulah kekasihnya ini mulai membohonginya. Mulai berani mencoba mencipta alasan membatalkan janji bertemu demi bersama wanita lain yang hendak dikenalnya. Dan akhirnya kebohongan itu menjadi makanannya saat dia lebih memilih bersama Mei, gadis cantik putih agresif, kenalan temannya.

__ADS_1


Rendi seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru dari orang tuanya. Dia lebih suka menghabiskan waktu liburnya bersama gadis itu ketimbang memilih bersama kekasihnya. Dia merasakan sensasi berbeda saat bersama gadis agresif itu. Nayna yang polos tidak mungkin seberani ini. Jangankan berciuman, posisi dekat saja Naynya bisa tersipu malu, wajahnya langsung memerah seperti tomat. Rendi tersenyum sendiri mengingatnya.


Rendi pernah mencoba dekat kala itu, wajahnya sudah nyaris hampir menempel, kalau saja hidung mancungnya itu tidak duluan beradu dengan hidung mungil milik Nayna. Nay tampak terkejut, matanya melotot, wajahnya sekerika bersemu merah. Rendi bahkan merasakan detak jantung gadis itu menjadi lebih cepat. Rendi tersenyum sesaat, menikmati wajah kekasih hati yang sudah tanpa jarak. Dilihatnya Nayna sudah menggigit bibir bawahnya. Ahhh, rasanya sudah ingin kekecup saja bibir mungil berwarna pink itu, **********, lalu menggigitnya kecil. Akan lebih terasa nikmat ketimbang Nay harus menggigit sendiri bibirnya.


"Abang mau ngapain," tanya Nay kembali menggigit bibirnya.


Ahhh, kalau saja metode otakku bukan dalam posisi waras, sudah habis rasanya wajah imut semanis ini kutelusuri, keluh Rendi.


Rendi kemudian memegang kedua tangan kekasihnya itu. Memberi ciuman pada punggung tangannya secara bergantian. Rendi mendekatkan bibirnya di telinga Nayna, lalu berbisik.


"Jangan coba menggoda abang dengan wajahmu yg imut dan semanis ini. Dan ini lagi, kenapa terus-terusan menggigit bibirmu itu. Kau tahu, abang sudah sedari tadi mencoba menahan agar tidak menciummu. Karena abang takut akan bertindak lebih jauh nanti," Nay sudah makin memerah mendengar bisikan Rendi di telinganya. Bukan saja ucapannya itu, hembusan nafas Rendi yang panas terasa menyentuh lehernya. Membuatnya menggelinjang geli.


"Abang sudah berjanji tidak akan melakukan hal-hal yang belum semestinya. Abang ingin mendapatkannya nanti pada malam pertama kita," bisiknya lagi yang membuat Nayna makin seperti kepiting rebus.

__ADS_1


Rendi tersenyum mengingat semua itu. Mengingat semua kepolosan Naynanya yang begitu di rindukannya. Kepolosannya itu benar-benar berbanding terbalik dengan gadis yang bernama Mei . Mei itu terlalu agresif, dia bisa mencium tanpa malu, memeluk tanpa ada beban. Tingkahnya yang tidak ada greget-gregetnya dan berdesir-desir di hari Rendi saat dia bersama Nayna dinikmati saja Rendi sebagai Rezeki. Kenapa menolak kalau ada yang gratis memberikan, apalagi dia tidak meminta ataupun memaksa. Bukankah itu namanya rezeki, dan kita tidak boleh menolak rezeki. Dan akhirnya, keputusan itulah yang disesali Rendi hingga detik ini. Mengganti Naynanya yang berharga demi nafsu semu yang direguknya sesaat.


Abang pasti datang Nay. Bahkan sebelum Nay tiba di cafe, gumam Rendi membalas chatt Whatsapp yang masih berulang kali dibacanya.


__ADS_2