
"Nay sayang, ada tamu yang ingin bertemu," bundanya sudah duduk di ujung tempat tidurnya
"Siapa sih bun.....," jawab Nay malas
"Nay lagi males banget, ini aja Nay sengaja nggak ngantor. Bilang aja Nay nggak ada ma," ujarnya lagi.
"Kamu mau bunda bohong. Lagian bunda udah bilang Nay ada di rumah," bunda menjelaskan
"Lagian siapa tamunya sih bun," tanya Nay malas berdebat
"Reyhan.....," Nay bengong, apa telinganya salah dengar
"Apaaaa....Siapa bun.....," ulang Nay bertanya
"Reyhan sayang," kali ini Nay tidak mungkin salah dengar, barusan bunda benar menyebutkan namanya.
"Maksud mama Reyhan teman Nay dulu....," lagi-lagi Nay memastikan
"Iya Nay, lagian Reyhan mana lagi yang sering ke rumah ini. Setahu bunda Reyhan ya satu-satunya cuma dia," detail bunda bicara
__ADS_1
"Ayolah temui saja, bukankah kalian juga sudah bertemu sebelumnya," Nay melotot, meminta penjelasan
"Tadi bunda yang bertanya pada Reyhan, dia menjelaskan pertemuan pertama tidak sengaja kalian," ujar bunda menjelaskan lagi.
"Udah temui, nggak enak dari tadi bunda tinggal di ruang tamu," bunda memaksa
"Tapiii maa....," Nay sedikit enggan
"Ayolah sayang. Tidak berhubungan lagi bukan berarti memutus silahturahmi kan. Bunda pikir sudah saatnya Nay berdamai dengan masa lalu. Bahkan juga dengan si Rendi,"
Nay terdiam, apalagi saat bunda juga menyebutkan nama Rendi.
Nay melangkah turun dari kamarnya menuju ruang tamu. Entahlah, perasaan apa yang di bawanya, Nay merasa ragu dan kaku. Padahal dulu saat Rey sering berkunjung ke rumahnya, Nay tidak pernah sebegini gugupnya.
Sementara di sudut ruang tamu, sepasang mata tengah memandangnya intens. Tampak kerinduan yang dalam di mata itu.
Dengan memgenakan jumpsuit 3/8 berlengan pendek, motif bunga-bunga yang membalut pas pada tubuhnya. Nay jadi begitu cantik di matanya. Kulit kuning langsatnya itu begitu pas dengan pilihan warna mustard lembut. Ahhh, kenapa manisnya seakan tidak luntur, Rey menahan degub jantungnya.
"Haii....udah lama, maaf yah," Nay duduk di hadapan Reyhan
__ADS_1
"Nggak kok Nay, tadi sempet ngobrol sebentar sama tante Meli," Reyhan berhasil menenangkan diri begitu Nay bisa bersikap santai
"Masih inget nih rumah aku," ujarnya sambil tersenyum
Tiba-tiba Rey kembali memegang dadanya. Ya Allah, senyum aja bisa bikin aku deg-degan gini, Rey masih memegang dadanya
"Heiii.....ditanyain diem aja," Ujar Nayna lagi
Rey tersadar. Memandang Nayna sesaat lalu menyugingkan senyum
"Inget dong. Mana mungkin aku bisa melupalan rumah ini, sama seperti aku tidak akan mungkin melupakan pemiliknya," senyum Rey lagi
Dan di mata Nayna senyum itu begitu manis. Kenapa aku baru menyadarinya kalau dia bisa semanis ini yahh, Nay ikut tersenyum.
"Berarti mama dong, kan ini rumah mama," balas Nay sambil tertawa
Mereka berdua hanyut dalam obrolan ringan yang begitu menyenangkan. Padahal dulu Nay tidak pernah bisa sebahagia ini saat bersama Rey. Dia tidak pernah menganggap serius, atau lebih tepatnya menanggapi perhatian laki-laki di depannya ini.
Nayna selalu bertingkah semaunya. Karena apapun yang dilakukannya, mau bagaimanapun Nayna, laki-laki itu tidak kan berpaling, apalagi meninggalkannya. Nayna sangat tahu itu.
__ADS_1
Dan akhirnya Naylah yang memutuskan agar dia menjauhinya.