
"Tolong......tolooonggg......," Nayna berontak, cuma itu yang bisa dia lakukan. Walaupun usahanya seperti sia-sia, tapi Nayna tidak perduli, dia masih terus berontak dan berteriak.
"Mama.....tolong Nay?" gumamnya dalam tangis.
Dia terus memohon pada tuhan semoga ada yang mendengar teriakannya. Semoga ada seseorang yang
mendengar teriakannya dan membebaskannya dari ******** ini.
Tiba-tiba saja laki-laki itu sudah menarik paksa kancing baju Nayna. Tiga deret kancing teratas bajunya sudah berhamburan, tampak terpampang indah dada gadis itu yang berbungkuskan bra hitam.
Mata laki-laki itu terus mendelik menatap pemandangan indah di hadapannya.
Pria itu sudah semakin mendekat dan menatap Nayna dengan rakusnya. Nay benar-benar ketakutan, tangis dan permohonan tidak berhènti keluar dari bibirnya, Nay makin kuat memberontak.
"Heiii.....******** lepaskan dia," tiba-tiba saja seseorang berteriak.
Pria bertubuh kekar, berwajah tampan. Mengenakan celana jeans dan jaket kulit hitam telah berdiri tidak jauh dari mereka.
Seketika pria di hadapan Nayna membalikkan badannya, siapa pahlawan kesiangan ini, makinya karena sudah berani menghentikan kesenangannya.
__ADS_1
Nayna tercekat, tubuhnya sudah benar-benar lemah, tapi dia bisa melihat sosok pria yang berteriak barusan. Seketika matanya mengerjap, rasa syukur menyelimuti hatinya.
"Rendi.....Tolong aku Ren," teriakannya sudah melemah, suaranya sudah serak, air mata dan peluh sudah memenuhi wajah cantiknya.
Dada Rendi seperti teriris. Gadis manis yang dicintainya itu, tampak begitu memprihatinkan di sana. Seketika rahangnya mengeras, amarah sudah benar-benar merasuki jiwanya.
Bug...Bug...Bug.....Rendi memukuli pria itu membabi buta. Tapi pria itu bukanlah ******** biasa, dia masih dapat menangkis pukulan Rendi.
Bug...Bug....Rendipun terjungkal mendapatkan pukulan yang sama.
"Rendiiiii......" Nay menangis sejadi-jadinya sambil meneriakkan nama Rendi.
Setelah cukup lama mereka bahu hantam. Tampak pria ******** itu tersungkur.
Apa yang kau lakukan pada Naynaku, kurang ajar, teriak Rendi
Kau berani menyakitinya ********, kembali Rendi berteriak.
Bertubi tubi pukulan yang dilayangkan Rendi pada ******** itu. Rendi terus saja membabi buta walaupun pria itu sudah berkali-kali tersungkur.
__ADS_1
Tiba-tiba tangis Nayna terdengar makin pilu di telingannya. Dia menatap Nayna, penampilannya sudah begitu kacau dan memprihatinkan.
Bajunya sudah robek di mana-mana, kancing depannya sudah terbuka menampakkan dada dalam bra hitamnya. Tangisan di wajahnya sampai mengering. Rendi merasakan dadanya begitu sakit menyaksikan gadis di hadapannya ini.
Dan tentu saja pria yang ada di hadapannya Rendi tidak menyia-nyiakan kesempatan dari ketertegunan sementara Rendi. Dengan terpincang-pincang menahan sakit laki-laki itu berlari secepat kilat hendak kabur.
"Heiii.....********, jangan berani kabur," Rendi berteriak hendak mengejar laki-laki itu.
Tapi kemudian dìa menghentikan langkahnya.
Nayna yang harus lebih dulu di tolongnya, batin Rendi. Biar besok dia akan menyelidiki dan mengurus bajiangan itu.
Rendi bergegas menghampiri Nayna. Dia melepaskan ikatan kedua tangan Nayna. Begitu terlepas tubuh Nay luruh menjadi semakin melemas. Dengan sigap Rendi memeluk tubuhnya. Nayna terus menangis di dada Rendi, tangisannya benar-benar menyayat hati. Dia sudah benar-benar ketakutan. Perempuan manapun pasti merasakan perasaan demikian.
"Untung kau datang Ren," ujar Nayna masih terisak
"Jika tidak ada kau, entah apa yang akan terjadi pada diriku. Bisa saja laki-laki itu memperkosaku Ren," tangisan Nayna semakin menjadi.
Rendi membiarkan saja. Membiarkan saja Nayna mengeluarkan semua keluh kesah dan emosinya. Rendi semakin mengngeratkan pelukannya sambil terus mengusap punggung Nayna, berusaha menenangkan gadis itu.
__ADS_1