
Mami mendengar suara mobil Bayu. Dia yakin putra keduanya itu tadi bergegas pergi karena membawa abangnya. Mami mengintip di gorden jendela, benar saja Bayu tampak kerepotan membawa langkah abangnya yang sama besarnya.
Mami duduk manis di ruang tamu. Dia sengaja menunggu kedua putranya itu di sini sedari tadi. Agar saat mereka muncul, mereka bisa melihat maminya.
Kreett. Suara derit pintu yang di dorong. Untung tidak terkunci, batin Bayu senang. Jadi dia tidak perlu menyangkah lama tubuh abangnya yang sudah seperti tidak ada nyawanya ini.
Begitu mereka melangkahkan kaki masuk dan berjalan menuju ruang tamu, tatapan Rendi dan Bayu sudah tertuju pada mami, yang duduk di sofa dengan wajah penuh amarah.
Belum lagi kedua putranya itu mendekat, tiba-tiba.....
Plak.....Plak......Plak......mami sudah menampar wajah Rendi dengan tangannya sendiri.
Membuat Bayu yang berdiri di samping abangnya itu menatap maminya heran. Sementara Rendi hanya diam saja tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, padahal tangan maminya sudah sakit dan memerah karena tadi menampar wajah Rendi dengan sangat keras.
"Apa yang kau sudah kau lakukan pada Nayna," teriak mami marah.
__ADS_1
Bayu terkejut saat ternyata maminya sudah mengetahuinya. Apa Nay bicara, tapi rasakan tidak mungkin. Apa Winda, tapi gadis itu juga tipe pengadu. Pasti tante Meli, tebak Bayu akhirnya.
"Kau tau Rendi, Nay itu sudah seperti anak mami sendiri. Mami menyayanginya seperti mami menyayangi kalian. Bagaimana bisa kau jadi setega ini," keluh mami dengan tangis.
Rendi masih tampak berdiri mematung. Begitupun Bayu yang berdiri disampungnya.
"Kalau kau mau jadi ******** menodai Nayna. Kenapa berniat menyelematkannya saat penjahat itu hendak memperkosa Nay waktu itu. Lalu sekarang apa bedanya kau dan ******** itu," mami masih berteriak memaki Rendi.
"Maafin Rendi mi. Rendi sungguh tidak berniat menyakiti Nay. Rendi juga tidak mengerti, kenapa bisa seperti ini," Rendi sudah terisak memeluk kaki maminya.
Mami terdiam. Antara marah dan sedih menyaksikan putra sulungnya ini.
Rendi memang salah. Kenapa mencintai membuatnya bertindak menyakiti orang yang dicintainya, rutuk mami lagi.
Tapi mami juga kasihan pada putranya ini. Rumah tangganya yang seumur jagung hancur. Bahkan dia sama sekali tidak bisa melihat kebahagian putranya itu saat menikah. Kini dia tahu, Naynalah alasan kehancuran rumah tangganya. Naynalah gadis yang dicintai Rendi sehingga membuat dia jadi laki-laki jahat yang menyia-nyiakan istrinya sendiri. Naylah penyebab putranya itu berubah jadi tertutup, pemarah, kasar dan seperti menutup diri kepada mahluk yang berjenis wanita. Setelah perpisahannya dengan Mei, Rendi tak pernah sekalipun berhubungan dengan seorang wanita. Dia menjadi sangat tertutup dan anti. Bahkan saat dia sering mengenalkan anak-anak gadis kenalannyapun, Rendi acuh dan tidak perduli, mami kembali bersedih.
__ADS_1
"Aku akan menemui Nay dan meminta maaf mi, meskipun aku harus bersujud di kakinya," ujar Rendi setelah mereka bertiga sudah duduk di sofa sedikit tenang.
"Itu kalau tante Meli mengizinkanmu menemuinya," jawab mami ketus.
"Biar Bayu yang menemui Nay mi. Bayu akan menjelaskan semuanya pada tante Meli.
"Itupun kalau Meli mau menerima. Dia bahkan berkata pada mami tidak akan membiarkan kalian berdua mendekati putrinya, tak terkecuali kamu mas," ucap mami pada Bayu.
"Meli bahkan memilih mengakhiri persahabatannya dengan mami. Dan mami mengerti, mamahami jika dia bertindak seperti itu" ujar mami lagi sendu.
"Lihat diapun sudah memblokir nomor mami," mami berucap sambil sibuk berulang kali memencet telepon dan meletakkan handpone itu di telinganya.
Sontak Bayu mengeluarkan handponenya dari saku celananya, mencari nomor Nayna dan menelponnya.
"Bahkan nomor Bayupun di blokir Nay, mi...."ucap Bayu menunjukkan handponenya pada maminya.
__ADS_1
"Sepertinya Meli benar-benar sudah tidak ingin lagi berhubungan dengan keluarga kita," mata mami tampak nanar dan berkaca-kaca.