Love Or Be Loved

Love Or Be Loved
Rumitnya Mencintai


__ADS_3

Mami menatap putranya itu tajam. Rasanya dia ingin memarahinya karena berbuat demikian bodoh. Melepaskan orang yang sangat dicintainya, dengan penhianatan pula. Rasanya mami sangat ragu kalau Nayna masih mau memaafkan putranya itu. Karena sebagai seorang wanita, mami sangat....sangat mengerti perasaan Nayna.


"Lalu apa kau bahagia akhirnya dengan keputusanmu itu," tanya balik mami


Rendi tampak terdiam. Tanpa dia menjawabpun maminya sudah tahu bagaimana hatinya itu.


"Selesaikan masalah kalian berdua dengan baik-baik. Karena mami sangat yakin kalian belum pernah berbicara untuk menyelesaikan semua masalah diantara kalian," pinta mami


"Apaun yang akhirnya kalian putuskan. Cobalah untuk bisa saling bicara dan memaafkan. Karena menerima dan mencoba mengikhlaskan semua kejadian di masa lalu itu, akan membuat hati kalian menjadi lega. Kalau memang tidak sanggup melupakan, tidak bisa melepaskan, peluk saja semuanya," jelas mami kembali.


"Dan akhirnya waktu juga yang akan menyembuhka semua luka dan dendam. Waktu yang akan membuktikan, dengan menghadirkan cinta baru, atau hati itu tidak pernah pergi dari cinta yang pernah ada,"


Mami mengucapkan kata-kata yang begitu keren. Mami seperti seorang pujangga cinta. Pasti mami yang pandai merangkai kata-kata cinta inilah yang membuat papi mereka klepek-klepek. (🤭😁)


"Selesaikanlah masalah hati itu dengan hati," ucap mami lagi masih dengan kata-kata cinta yang keren. Lalu meninggalkan mereka berdua.


Suasana menjadi hening. Baik Nayna ataupun Rendi tidak ada yang berani untuk memulai bicara.

__ADS_1


Suasana itu tentu saja membuat geram mami yang sudah mengintip mereka sedari tadi.


Ciihh...lihatlah mereka berdua, diam saja tanpa bicara, kalau tidak ada yang mau memulai, bagaimana mereka menyelesaikan masalah diantara mereka, ujar mami geram.


Si abang lagi, dia kan laki-laki, harusnya dia lebih berani untuk memulai mengajak Nayna bicara, akar masalahnya juga terletak pada dirinya sendiri, mami lebih geram pada putra sulungnya itu.


"Bik Ijah, sini.......," mami mengecilkan suaranya melambaikan tangannya pada bi Ijah


"Iya nyonya, ada apa," bik Ijah menghampiri majikannya dengan tergopoh-gopoh


"Bikin juice aja bik. Biar adem tu hati mereka berdua," tambahnya lagi dengan nada kesal


"Baik nyonya," bik Ijah yang bingung menuruti saja perintah nyonyanya itu.


Bik Ijah membawa dua gelas air juice seperti keinginan nyonyanya itu, lalu membawannya ke ruang tengah.


"Den Rendi.....non Nayna mari silahkan," ucap bik Ijah sopan sambil meletakkan minuman tersebut di depan mereka masing-masing.

__ADS_1


Mereka yang melihat bik Ijah hendak menghampiri sudah mengubah posisinya menghadap bik Ijah


"Makasih bikk,"


"Makasih bikk,"


Ucap Rendi dan Nayna hampir berbarengan.


"Ehh, iya den...non. Bibik permisi ke belakang," pamit bik Ijah. Dua orang itu cuma menganggukkan kepalanya.


Rendi memandang Nayna lagi. Menghela nafas berat.


"Nay.......?" panggilnya kemudian


Nayna menatapnya sesaat. Tatapan matanya tampak berbeda bagi Rendi.


Rendi ingin sekali mengungkapkan perasaannya. Bahwa sedari dulu, hingga detik ini. Di hati ini, tidak ada yang berubah, hanya satu nama itu, hanya Nayna. Tapi Rendi cuma bisa mengungkapkannya dalam hati saja, tidak ada satu katapun keluar dari mulutnya. Lidahnya terasa kelu, untuk menyebut nama Nayna saja dia harus benar-benar mengumpulkan keberaniannya.

__ADS_1


__ADS_2