Love Or Be Loved

Love Or Be Loved
Bertemu Kedua Kalinya


__ADS_3

"Assalamualaikum," ujarnya menenangkan degub jantungnya. Nama yang tertera di kamera handponenya itu serta merta membuatnya senang sekaligus bingung.


"Waalaikumsalam," balas suara di seberang ragu


"Ren, apakah kau sibuk? Bisa kita bertemu sekarang," tanyanya lagi di ujung handpone.


"Kebetulan aku udah pulang kantor, lagi di cafe X, apa kita bisa bertemu sekarang," tanyanya kembali saat tak di dengarnya jawaban di ujung sana.


"Ren....apa kamu masih di sana,"


"Eee....eeee, iy.....iya aku masih di sini Nay," balas Rendi gugup. Kebingungan dan pertanyaan masih memenuhi kepalanya.


"Baik Nay. Aku segera Otw," balasnya ketika sudah berhasil menenangkan diri.


Sepanjang perjalanan Rendi masih bertanya-tanya. Kenapa Nayna tiba-tiba saja menghubunginya. Bahkan selama kejadian yang menimpanya kemarin saja, Nay tidak pernah mau berdua dengannya. Tiap kali Rendi datang, Nay tidak pernah mengizinkan tante Meli, mamanya untuk meninggalkannya. Bahkan Nay bersikap seakan-akan dia adalah orang asing.

__ADS_1


Belum lagi ingatannya melayang saat kejadian ketika menolong Nay dari ******** tengik itu. Bisa-bisanya kelakuannya sama seperti penjahat itu. Dia berani mencium Nay saat perempuan itu masih dalam kondisi menyedihkan dan tertekan. Nay pasti menganggapnya seperti penjahat kela*** saja.


Rendi bergegas memacu mobilnya, tidak berapa lama sampailah Rendi di cafe X. Dia memasuki cafe sambil mengedarkan pandangannya. Matanya tertuju pada seorang gadis mungil yang tampak menyendiri di sudut cafe. Gadis itu tampak gelisah sambil mengaduk-aduk minumannya.


Hari ini Nayna tampak begitu menawan di sana. Mengenakan skinny pants warna khaky, blouse putih dipadankan blazer navy, tidak lupa dengan hells tingginya. Walaupun terlihat santai semiformal, Nay begitu cantik dan fashionable. Rambutnya yang diikat model sanggul kecil sembarang malah semakin memperlihatkan leher jenjangnya, membuat Nay makin bertambah manis saja.


Rendi menghampiri meja Nay dengan pandangan yang tidak terlepas sedikitpun.


"Nayna......," sapa Rendi


Rendi mengambil posisi duduk tepat di hadapan Nay, matanya dengan leluasa menatap Nayna sedari tadi begitu dekat. Mulai menelusi menatap mata, hidung, rambut lalu kembali ke bibir gadis itu. Rendi sudah membuka sedikit mulutnya, rasanya dia ingin menarik kepala gadis itu, dan ******* bibir pink ranumnya itu. Aaahhh, Rendi jadi frustasi sendiri melihatnya.


Nayna menundukkan kepalanya saat Rendi terus menerus menatapnya. Lama mereka terdiam, tenggelam dalam fikiran mereka masing-masing.


"Ren.....," ujar Nayna akhirnya kembali menatap Rey

__ADS_1


Yang di tatap sudah salah tingkah. Di telinganya suara Nay begitu mendayu, belum lagi dia dapet menatap wajah Nay lagi sedemikian dekat


"Ren, maaf jika mendadak memaksamu bertemu," ujar Nay lembut.


Rendi belum menyahut, dia memutuskan mendengarkan Nayna terlebih dahulu.


"Aku sengaja mengajak bertemu karena ingin mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu tempo hari saat kejadian," Nay kembali menunduk


"Andai kau tidak lewat di sana. Andai kau tidak mendengar teriakanku. Entah apa yang sudah terjadi padaku, ******** itu.....," Nay menghentikan bicaranya, matanya sudah tampak berkaca-kaca.


Serta merta Nay mengingat kembali semua kejadian buruk itu. Dia memejamkan matanya, menghela nafas dalam. Nay berusaha agar air matanya tidak jatuh.


"Sudah Nay, jangan di ingat-ingat lagi kejadian itu," Rendi tidak ingin Nay kembali bersedih


"Jangan diingat lagi kalau itu membuat hatimu terluka. Kau sudah susah payah menutup semua luka, jangan kau buka kembali," ujar Rendi lagi lembut.

__ADS_1


"Aku bersyukur Tuhan menyuruhku melewati jalan itu di hari kejadian, agar bisa membantumu. Aku bersyukur orang itu adalah aku," di tatapnya wajah Nay sekali lagi, kali ini hatinya benar-benar tulus.


__ADS_2