
"Haii......sudah lama menunggu," sapa Winda langsung menarik kursi dan duduk di hadapan pria itu.
Sementara Bayu hanya menatap gadis itu yang dengan santainya sudah duduk di hadapannya. Hmmmm, benar-benar gadis yang unik, ujar Bayu dalam hati.
"Heiii.....kenapa melihatku seperti itu," balas Winda risih melihat Bayu memperhatikannya saja dengan tatapan tajam.
"Bukankah kita sudah berjanji untuk berdamai, kenapa kau suka sekali ribut denganku," gadis itu kembali mengomel.
"Kauuu ini, selalu saja jutek begitu," tegur Bayu.
Winda makin cemberut tidak suka di sebut Bayu jutek lagi.
"Kau jangan salah faham dulu. Aku hanya kaget tiba-tiba kau sudah duduk di hadapanku cewek jutek," jelas Bayu tersenyum. Dia ingin sekali mengerjai gadis ini. Dia tampak sangat lucu ketika sedang marah begitu, ujarnya lagi masih tersenyum.
"Ya sudahlah aku pergi saja kalau kau masih terus-terusan mengataiku," Winda sudah berdiri berniat hendak pergi.
Spontan Bayu memegang tangan Winda, mencegah niat gadis itu yang hendak pergi.
"Heii....ayolah Win, aku hanya bercanda," ucapnya tulus. Lalu menarik Winda agar duduk kembali.
"Ayolah jangan jutek begitu. Padahal kau sangat menggemaskan ketika tersenyum," puji Bayu.
Winda duduk kembali, rasa kesalnya sedikit reda mendengar pujian Bayu.
__ADS_1
Setelah menu pesanan mereka tiba, dua orang ini mengobrol asyik sambil menikmati pesanan yang sudah tersaji di meja.
"Win, ada yg ingin kukatakan," ujar Bayu ragu
"Katakan saja," Winda membalas santai.
Haiii......gadis ini, gua udah gugup kayak gini, dia nyantai aja. Apa dia nggak ngerasain yang gua rasain yah, Bayu ngedumel sendiri.
"Win, kayaknya aku udah mulai suka sama kamu," ujarnya cepat tanpa menatap Winda
Winda kaget, mulutnya sampe mangap melongo sangking kagetnya.
"Aku juga nggak ngerti, sebenarnya aku juga masih ragu sama perasaanku sendiri," jelas Bayu lagi.
"Win.....," tegur Bayu lagi setelah cukup lama mereka terdiam, berbicara pada hatinya masing-masing.
"Maaf Bay, aku tidak mengerti dengan perasaanku sendiri," jawabnya dengan teetunduk.
"Aku tahu ini terkesan mendadak. Kau tidak harus menjawabnya sekarang," ditatapnya Winda.
"Kita jalani saja, mari saling mengenal dengan dekat," tawar Bayu
Winda menunduk. Walaupun mereka seringkali ribut, Winda tahu Bayu itu laki-laki yang baik. Dia juga ganteng dan mapan. Mana maminya juga baik, sebenarnya tidak ada alasan untuk mereka tidak mencobanya, Winda berbicara pada hatinya. Tapi......
__ADS_1
"Maaf Bay, aku tidak bisa menerima tawaranmu," Winda menunduk kembali.
"Kita awali saja dengan berteman, bagaimana," Bayu sedikit membujuk. Dia memang ingin memulainya dari berteman baik dulu.
"Itu juga tidak bisa Bay....," ucapannya semakin melemah.
"Kau tidak menyukaiku," Bayu penasaran
"Bukan begitu Bay," Winda menarik nafas dalam sebelum dihembuskannya.
"A...ak....aku su..sudah punya cowok" jawab Winda terbata-bata.
Tampak rona kecewa di wajah Bayu mendengar jawaban Winda barusan.
"Walaupun aku tidak tahu bagaimana kelanjutan hubungan kami. Karena hampir satu tahun ini kami sudah jarang berkomunikasi. Dia juga seorang aparat sepertimu. Sejak dipindahkan tugas satu tahun yang lalu, hubungan kami memang sedikit renggang," jelas Winda kemudian.
"Tapi itu tidak bisa menjadikan alasan untuk aku menduakannya. Jika kita mencoba menjalani hubungan ini, itu sama halnya aku sudah berselingkuh Bay," Winda kembali memberi penjelasan.
Bayu terdiam. Dia faham posisi dirinya dan Winda.
Dia akan menunggu. Kalau memang laki-laki itu masih setia pada Winda, dia akan menerimanya dengan lapang dada. Tapi jika memang Winda dan dirinya berjodoh, Bayu yakin cinta akan menemukan jalannya sendiri.
Dia menghela nafas berat, tidak menyangka bahwa perasaannya akan tidak berbalas begini. Karena sama halnya dengan abangnya. Bayu dan Rendi memang dari dulu tidak pernah ditolak, karena biasanya para wanitalah yang menyodorkan diri untuk menjadi kekasih mereka.
__ADS_1