Love Or Be Loved

Love Or Be Loved
Finalkah Keputusan Nayna


__ADS_3

Sejak kejadian kemarin Nayna terus berusaha menghindar. Bahkan dia telah memblokir telp dan media sosial Rendi.


Nay takut dia akan jatuh pada pesona cinta yang sama. Cinta dari seseorang yang pernah menghianatinya. Cinta yang mati-matian berusaha dia lupakan hampir lima tahun ini.


Nay pernah mendengar bahwa penghianat selamanya akan berhianat. Begitupun perselingkuhan, sekali selingkuh, dia akan mencoba lagi berselingkuh bila ada kesempatan. Nay tahu, tidak selamanya orang jahat tidak bisa bertobat menjadi baik. Tapi dia tidak bisa mengingkari hatinya. Nay takut, dia akan mengalami kecewa yang sama. Nay tidak berani membuka hati untuk cinta yang sama kedua kalinya setelah rasa kecewa.


Dia mengambil handpone dan menelpon


"Assalamualaikum," sapanya ketika ada sahutan di seberang sana, ternyata bik Ijah yang mengangkat telpnya.


"Bi....Bisa tolong Nay di sambungkan telpnya ke mami," pinta Nay sopan.


Bik Ijah mengiyakan dan memberikan telpnya kepada nyonyanya.


"Pagi Nay sayang," sapa suara di seberang


"Pagi mi, mami sehat," tanya Nay lagi.

__ADS_1


"Alhmamdulillah, mami sehat Nay. Kamu gimana kabarnya sayang," mami balik bertanya.


Sementara Rendi yang memang ada di rumah maminya, bergegas menghampiri maminya begitu di dengarnya dari bi Ijah bahwa Nay yang menelpon.


Mulutnya menyebutkan nama Nay pada maminya bertanya tanpa suara. Rendi menunjuk dirinya kemudian meletakkan tanda telp di telinganya meminta agar maminya memperbolehkan Rendi bicara pada Nay.


Mami menutup telp dengan tanggannya agar Nayna tidak mendengar di seberang sana.


"No Rendi, berikan Nay waktu, jangan memaksanya," ujar mami pelan dengan mata melotot, memperingatkan putranya tersebut.


Rendi hanya menghembuskan nafasnya berat menyetujui keputusan maminya.


"Mami....apa mami masih di sana," tanya Nay begitu tidak di dengarnya lagi suara di seberang sana.


"Iy...iya Nay, mami masih di sini. Mami pindah nyari tempat duduk, biar enak ngobrolnya," mami mencoba mengelak.


"Mi....Nay minta maaf ya. Waktu itu Nay balik tanpa pamit dulu sama mami," Nay menjelaskan karena dia merasa tidak enak pada tante Ratih yang sudah dianggapnya seperti orang tuanya sendiri.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Nay sayang, mami mengerti," mami menjelaskan.


Sementara Rendi sudah mendekatkan telinganya di samping gagang telp yang dipegang maminya, membuat mami risih, lalu memberinya kode agar duduk dengan menunjuk sofa di sampingnya. Rendi kembali menghela nafas berat menyetujui kembali permintaan maninya itu.


"Mi....Nay juga minta maaf kalo tidak bisa lagi sering-sering mengunjungi mami," ujarnya ragu. Sementara mami menghela nafas berusaha mengerti kondisi gadis itu.


"Apalagi kalau ada bang Rendi di sana," tambahnya lagi dengan ragu. Nay tidak enak hati mengatakannya, karena bagaimanapun Rendi adalah putra tante Ratih.


"Mami mengerti. Nay bisa kemari kalau abang sedang tidak berada di sini. Lagipula Rendi juga punya rumah sendiri, dia juga jarang mengunjungi maminya sendiri Nay," mami sekalian curhat.


Mau tidak mau Rendi mendengar omongan maminya barusan, karena mami sepertinya sengaja mengeraskan suaranya ketika bicara tentang dirinya tadi.


Rendi jadi tidak enak hati, memang dia jarang mengunjungi maminya jika tidak ada keperluan. Beberapa hari ini saat kondisi hatinya sedang tidak baik, dia memutuskan pulang ke rumah maminya. Ahh, Rendi jadi merasa tidak enak hati, seperti anak durhaka saja.


"Nay....Jangan karena permasalahanmu dan abang, Nay menjadi sungkan nak. Mami tidak akan mencampuri permasalahan kalian. Kalian berdua sudah sama-sama dewasa. Kalian bisa memutuskan mana yang kalian anggap baik dan tidak baik bagi kalian," mami memberi nasehat.


"Iya mi....Nay faham. Nay itu sayang sama mami seperti Nay sayang sama mama," ucap Nay tulus mengingat bagaimana tante Ratih sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri.

__ADS_1


"Iya Nay. Mami juga menyayangi Nay seperti anak mami sendiri. Biarkanlah waktu yang nanti akan jadi penentu jalan dan hati yang kalian berdua pilih sayang," ucap mami akhirnya ketika Nay mengucapkan salam mengakhiri pembicaraan telepon mereka.


Sementara di seberang sana, Nayna masih memeluk telpnya sambil menangis.


__ADS_2