
Nayna dan Nayla baru selesai sholat magrib.
Sudah kembali duduk santai di ruang keluarga kembali. Nayla meminta Nay pulang ketika sehabis isya nanti, karena mami yang memintanya. Dengan alasan masih kangen mereka.
Nayna sedari tadi memainkan handphonenya. Apa lagi yang dilakukannya selain membalas pesan suami posesifnya itu. Entahlah, sejak mereka menikah, keposesifan bang Ki juga ikut meningkat, bahkan sepuluh kali lipat. Padahal dia tahu sendiri, bahwa istrinya ini bukanlah jenis wanita yang suka tebar pesona. Tetapi tetap saja, hal kecilpun akan membuatnya menjadi sangat cemburu.
"Sayang, sebentar lagi aku dan Ay pulang. Nggak enak sama mami kalau keburu-buru pulang. Tadi udah dibilangin pulangnya sehabis isya aja," ujar Nayna di telephone.
"Sayang, kan kamunya juga ada praktek malem. Pokoknya sebelum kamu pulang aku udah di rumah sayang," bujuk Nayna kembali.
"Baiklah, kali ini aja. Lain kali aku nggak akan kasih izin kamu ke rumah orang tua Rendi lagi," jawab Rizki akhirnya dengan ketus.
Nayna tersenyum. Rasanya baru bisa bernafas lega.
"Kita pulang dari kapan sayang?" tanya Rizki kemudian.
"Kan baru juga berapa hari di rumah bunda. Satu minggu aja nyampe minggu sayang," bujuk Nayna terdengar merajuk.
"Iya....abang kan cuma tanya. Jangan merajul gitu, denger suara kamu kayak gitu, malah bikin mau pulang ini," jawab Rizki sudah tersenyum.
Rizki tidak akan pernah bisa marah lama dengan Nayna. Istrinya itu selalu bisa saja membuat Rizki luluh.
Setelah mengucapkan salam dan mengakhiri panggilan teleponnya Nayna kembali bergabung mengobrol bersama Nayla dan mami.
"Ay....mami harap kamu bisa mengembalikan sifat hangat bang Rendi ya sayang," ujar mami lembut pada Nayla.
Nayla hanya tersenyum menatap mami. Ay tidak berani menjawab permintaan mami. Bagaimana bisa dia berjanji pada mami. Sedangkan selama berapa bulan ini saja Rendi selalu bersikap cuek dan seakan menjaga jarak.
"Mami tahu, pasti Ay kesulitan mendekati abang. Mami harap Ay bisa bersabar. Abang itu aslinya juga baik dan lembut orangnya," mami menjelaskan.
"Banyak hal yang sudah dilalui abang. Semuanya membuat abang berubah jadi sosok yang berbeda kini. Tapi mami yakin Ay pasti bisa meluluhkan kekerasan hati abang," ujar mami kembali.
Nayna duduk di samping Ay. Mendengarkan saja apa yang dikatakan mami pada Ay, adiknya. Untuk berkomentar mengenai bang Rendi sekarang Nay tidak tahu. Karena sudah sejak memutuskan menikah, Nayna memang memutus kominikasi diantara mereka. Jadi Nay tidak faham bagaimana bang Rendi sekarang.
Atau untuk berkomentar lebih jauh bagaiamana sesungguhnya bang Rendi itu. Rasanya Nay juga tidak pantas lagi. Apalagi di depan Ay. Karena Nayna tidak menginginkan ada itu akhirnya malah menjadi salah faham. Daripada harus menambah satu orang lagi seperti bang Ki, suaminya. Nayna memutuskan untuk mengunci rapat mulutnya. Dan itu adalah pilihan yang terbaik untuk saat ini.
"Assalamualikum," suara seseorang terdengar masuk ke dalam rumah.
"Walaikusalam....," jawab mami, Nay dan Ay berbarengan sambil menoleh ke sumber suara.
Ay yang menatap rendi takjub akan ketampanannya cuma bisa mematung, menatap tanpa berkedip.
Nayna yang saat itu bersitatap segera mengalihkan pandangannya dari Rendi. Bagaimanapun hatinya masih sedikit bergetar. Bagaimanapun laki-laki di hadapannya ini pernah sangat dicintainya dulu.
"Abang....kok nggak bilang-bilang mami. Tumben mampir ke rumah," mami segera beranjak menyambut putra sulungnya itu.
Suara mami seakan menghentikan suasana canggung yang sedari tadi tercipta diantara mereka bertiga.
"Kayak karyawan mami aja mesti lapor dulu kalau mau ke rumah," jawab Rendi datar.
Lalu mendekati mami dan mencium punggung tangannya, memeluk maminya itu sesaat.
__ADS_1
Mami tersenyum kembali, menatap putra tampannya ini. sudah sebegini dewasa usianya, tapi belum juga menemukan wanita yang akan mendampungi hidupnya. Mami jadi kembali bersedih.
"Nay....," sapa bang Rendi menatap Nayna lembut.
"Bang Ren......," jawab Nayna tersenyum kaku.
"Kamu ke sini sama siapa? Sama suami kamu Nay?" tanya bang Rendi.
Nggak ngeliat apa bang. Wajah cantik sama imut aku di deket mami. Mbak Nay dateng sama aku lah, yang menjawab malah Nayla. Walaupun jawabannya hanya dikatakan hati Ay saja.
"Nay datang sama Ay bang. Itu anaknya deket mami," tunjuk Nayna pada Nayla, adiknya yang duduk persis di samping mami bang Rendi.
"Malem bang Ren," sapa Ay tersenyum ramah.
Laki-laki yang disapanya itu cuma sedikit menyunggingkan bibirnya menatap pada Nayla.
"Malem," jawabnya singkat, padat dan terlihat jelas tidak perduli.
"Dingin amat sih bang. Udara udah malem dingin gini, makin dingin dah," sindir Ay kemudian.
"Kamu apa kabar Nay?" tanya Rendi kembali pada Nayna.
Telinga Ay mendengarnya langsung, betapa lembutnya bang Rendi berbicara dengan mbak Nay.
Dan tatapan matanya itu, sama sekali tidak dapat disembunyikan. Saat bang Ren menanyakan kabar mbak Nay, matanya terlihat berbinar dengan penuh cinta. Ahhh.....laki-laki di hadapnnya ini ternyata benar belum bisa move on.
Seketika tubuh Ay melemas. nyalinya menciut, keberaniannnya menghilang entah kemana.
"Alhamdulillah, Nay baik bang. Abang sendiri bagaimana kabarnya?" Nayna membalas balik bertanya.
"Ay kemari....," panggil Nayna tiba-tiba pada adiknya.
Nayla yang dipanggil Naynapun segera mendekat ke arah keduanya yang tengah berbicara.
"Bang, Nay titip Ay yaah," pinta Nayna pada Rendi.
Rendi menatap lekat Nayna dengan bingung.
"Ay itu kan udah kerja di perusahaannya mami. Sekaligus bantu abang juga. Jadi Ay pasti seringnya ketemu abang sama mami kan," ujar Nayna berupa pertanyaan.
"Karena itu bang. Nay nitipin Ay ke bang Rendi. Abang harus jagain Ay yah. Awas aja kalau abang berani nyakitin Ay," ujar Nayna kembali.
"Maksud kamu gimana Nay?" tanya Rendi bingung dengan arah pembicaraan Nayna.
"Ya dijagainlah. Kayak dulu abang jagain Nay," jelas Nayna kembali.
"Bang, Nay sekarang udah ada jagain. Jadi sekarang bang Ren mending jagain Ay aja. Lagian abang sama Ay kan sering ketemu karena urusan pekerjaan. Jadi Nay mau nitipin Ay ke abang," tegas Nayna kali ini.di
"Udah jangan pake bantah. Jangan pake nolak," potong Nayna cepat ketika dilihatnya Rendi sudah berniat mau berbicara.
"Mana ketemu lagi abang cewek manis, baik, pengertian dan pinter kayak Ay," ujar Nay mempromosikan adiknya.
__ADS_1
"Kamu nggak lagi nyomblangin abang kan Nay?" tanya Rendi pada Nay.
"Kan nggak ada salahnya bang. Abang sama Ay itu sama-sama jomblo," jawab Nay terlihat santai.
"Aku nggak suka yah di jodoh-jodohin ya Nay....," tegas Rendi ketus.
"Siapa juga yang mau jodohin abang. Emang abang kira adekku itu kurang cantik mesti aku jodohin sama duda kayak abang," balas Nayna ketus.
Nayna sengaja memancing Rendi. Nay terang-terangan menantangnya.
"Ay itu manis, pinter, baik, menyenangkan. Walaupun sekilas karakter kami mirip. Tapi Ay itu berbeda. Hanya laki-laki bodoh yang tidak memandang gadis semenarik Ay," tatap Nay tajam.
"Jadi kau kira abang ini bodoh?" maki Rendi.
"Tentu saja abang bodoh karena selalu menghindar. Kenapa? Abang takut jatuh cinta?" balas Nayna kembali.
"Buktikan kalau abang tidak takut. Ingat bang batas antara benci dan cinta itu sangtlah tipis," Nayna menyudahi omongannya dan segera berlalu.
Nayna sudah cukup puas. Nay tersenyum menatap Ay yang sedari tadi berdua mami hanya menjadi penonton saja.
Nay pamit pulang lebih dulu, Nay tidak ingin jika bang Ki sudah keburu pulang lebih dulu sebelum dirinya sampe rumah.
Bakalan ada drama panjang kecemburuan dari seorang suami posesifnya itu.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Kenapa bang Ren.....Belum move on juga.
Maaf baru update
Karena Author juga ada kerjaan di dunia nyata🙏🏻😁🤭🤭
Disamping juga mesti update Novel satunya lg👌👍🏻✌
Jangan lupa yah readers tercintahhh🙏🏻🙏🏻
Dukungan Vote, Like, Fav & Coment🙏🏻🙏🏻🙏🏻
New Novelnya Author
Dukungan Vote, Favorit, Like & Coment🙏🏻
👇
Novel Author yg lain👆
Baca juga kisah cinta dalam diamnya Rania mengejar sang ustad di Novel "Mengejar Cinta Ustad"🙏🏻
__ADS_1
Dukungan👉🏽Vote, Fav Like & Comentnya juga yahh reader tercintahhh✌
Author kasih double kiss deh😗😙😚6ýy