
"Siang bunda......," sapa Rizki begitu dilihatnya bunda Nayna muncul di depan pintu.
"Eehhh dr Rizki," jawab bunda tersenyum.
"Ahh bunda, panggilnya Rizki aja, yang usah pake embel-embel di depannya," jawab Rizki tersenyum.
"Habisnya pak dokter masih pake seragamnya, itu Stetoskop aja masih di leher," tunjuk bunda.
"Astaqfirullah, maaf bun. Habis dari rumah sakit tadi langsung ke sini," jawab Rizki malu. Kemudian melepaskan stetoskop yang menggantung di lehernya dan memasukkan dalam kantong jas dokter putihnya.
"Ayo masuk.....," ajak bunda.
Bunda dan Rizki sudah duduk di ruang tamu ditemani secangkir teh manis.
"Maaf Nay masih bersiap-siap," ujar bunda duduk di hadapan Rizki.
"Nggak apa-apa bun. Lagian emang tadi ngajaknya juga mendadak," balas Rizki sopan.
"Maklumlah bun. Mumpung hari ini dinasnya hanya pagi. Kami yang dokter ini kadang tidak kenal waktu bun," Rizki masih berusaha menjelaskan.
Bunda tersenyum menatap calon menantunya itu. Laki-laki yang dianggapnya dan suami merupakan sosok pemuda yang baik, dari keluarga baik-baik yang sudah sangat dikenalnya dan suami. Pemuda dengan pekerjaan dan masa depan yang baik. Semoga pemuda ini benar seorang yang soleh dan bertanggung jawab untuk putri tercintanya, gumam bunda dalam hatinya.
"Bun, kok ngeliatnya kayak gitu," tanya Rizki risih.
Bunda kembali tersenyum menatap pemuda di hadapannya ini.
"Bunda tahu kalau kamu belum menerima perjodohan ini, Naynapun begitu," ucap bunda akhirnya.
Ternyata dia sama sepertiku, yang terpaksa menerima perjodohan ini, batin Rizki.
__ADS_1
"Tapi bunda juga berharap, semoga kalian berdua bisa saling mengenal dan cocok satu sama lain. Nay itu anak bunda yang baik, tapi terlalu sering disakiti oleh orang yang katanya memcintainya. Bunda harap, kamu bisa menjaganya," ucap bunda sedih sambil memegang tangan Rizki.
"Jangan khawatir bun. Rizki janji akan menjaga Nayna," jawabnya menepuk-nepuk punggung tangan bunda Nayna.
"Maaf kelamaan nunggunya," tiba-tiba Nay sudah berdiri di ruang tamu.
"Eeehh, anak bunda udah cantik," jawab bunda menoleh ke putrinya.
Rizkipun mengalihkan pandangannya pada Nayna. Gadis ini memang sangat cantik, bisik hatinya masih menatap lekat Nayna
Nayna tampak cantik walaupun hanya memakai make up natural. Tampilannya yang sederhana memakai pants 3/4 warna Navy, dipadu cardi cream tanpa lengan, inner putih tanpa lengan. Hells putih dan tas warna senada membuat penampilan Nayna yang sederhana tampak sangat manis, Rizki menelisik penampilan Nayna yang kini berdiri di hadapannya.
"Rizki.....itu Naynya udah siap," ujar bunda mengagetkannya.
Sontak Rizki tersadar dari ketertegunnanya menatap Nayna. Dia tersenyum kaku menutupi rasa malunya.
"Iya nak. Hati-hati di jalan, titip Nay, dan titip salam bunda juga untuk mommymu," jawab bunda.
"Asiiapp bun. Assalamualaikum,"
"Waalaikusalam," balas bunda.
"Nay pamit ya bunda," Nay memcium pipi dan tangan bundanya.
"Iya sayang. Have fun ya sayang....," bunda berpekukan dengan putrinya itu.
Kemudian mengantar putri dan calon menantunya itu ke depan. Menatap keduanya sampai masuk ke dalam mobil, membalas lambaian tangan mereka hingga mobil Rizki sudah keluar halaman rumah dan tidak terlihat lagi. Bunda masih mematung di sana, di depan teras rumah, tampak menerawang, entah apa yang ada dalam fikirannya saat ini.
__ADS_1
Tapi dalam hati dia khusuk berdoa, berharap ini adalah pilihan terakhir bagi Naynya. Semoga pemuda ini bisa memberikan kebahagian yang selama ini seakan tidak pernah menghampiri putri tersayangnya itu.
Tingkiyuu bangetz yg udah setia membaca novel "Love Or Be Loved"
Mohon Dukungannya
👇
Vote
Like 👍
Favorit ❤
Coment 💬
Baca juga Novel Author Lainnya
☆ Mengejar Cinta Ustad
☆ Cinta 90
Mohon juga Dukungan
👇
Vote
Like 👍
__ADS_1
Favorit ❤
Coment 💬