
Nayna masih termenung sendiri di meja cafe itu. Ucapan-ucapan Karin tadi masih memenuhi kepalanya. Walaupun hatinya mencoba tegar, dan sudaj sangat lantang memproklamirkan keputusannya di depan Karin tadi, tapi sedikitnya ucapan Karin ada benarnya, bahwa dirinyalah yang menyebabkan Reyhan menjadi seperti itu. Itu yang membuat hatinya bertambah sakit.
Flash Back On_Nayna
Tahun pertama di Sekolah Menengah atas. Saat itu Nayna dan Reyhan sama-sama siswa baru yang sedang masa orientasi sekolah. Sosok Nayna cantik yang pemalu tetapi cerdas dan berani, membuatnya cukup dikenal masa itu. Bukan saja oleh teman-teman baru seangkatannya, dia bahkan juga populer di mata para kakak-kelas, terutama kakak-kakak barisan osis yang mengospeknya.
Dan Reyhanlah salah satu laki-laki seangkatannya di sekolah yang sangat memujanya.
Reyhan itu sangat baik, soleh dan santun. Tapi entah mengapa sosok sebaik dirinya belum bisa membuat hati Nayna luluh.
Nay bukannya tidak menyukai Reyhan. Wanita mana yang menolak laki-laki baik dan soleh seperti dirinya. Tapi cinta tidak cukup hanya itu saja kan. Hatinya yang berbicara, dan saat itu hati Nay sudah pada laki-laki lain.
Tapi Rey tidak masalah. Dia masih setia dengan cintanya itu. Walaupun pada akhirnya Rey juga sudah beberapa kali berganti kekasih.
__ADS_1
Sampai saat mereka sama-sama duduk bangku kuliah, Nayna menerima Reyhan sebagai kekasihnya.
Mereka menjalani kisah sepasang kekasih pada umumnya. Kisahnya datar-datar saja. Kisah cinta cowok soleh seperti Reýhan tentulah akan lurus-lurus saja seperti dirinya. Ingatan Nay melayang pada sosok Reyhan yang selama ini dikenalnya.
Dari situlah semua bermula. Nayna meminta putus hubungan. Dengan alasan dia mencari laki-laki yang sukses, yang akan mendapinginya dan membuatnya bangga. Karena dia bukan anak remaja lagi yang sibuk dengan urusan cinta-cintaan, tanpa memikirkan masa depan.
Reyhan, laki-laki itu menerima saja keputusan Nayna dengan lapang dada. Bahkan dia juga legowo saat Nayna bersama Rendi pada akhirnya.
Nay sama sekali tidak tahu. Laki-laki soleh itu juga punya hati. Dia sakit, bahkan menjadi depresi atas keputusan Nayna waktu itu.
"Aku akan kembali Nay. Menjadi seseorang seperti yang kau inginkan. Saat kesuksesan itu sudah ku genggam, jangan lagi berlari menjauh, karena akan kuberikan semua yang kau mau, meski itu mustahil sekalipun," ucap Rey pada Nay waktu itu.
Nay menangis, air matanya sudah luruh. Dia sudah tidak perduli lagi sedang berada di mana. Dia tidak perduli banyak pasang mata yang menatapnya heran. Biarkan saja mereka berasumsi dengan asumsinya sendiri. Nayna sudah tidak lagi perduli.
__ADS_1
"Rey....maafkan aku Rey. Aku begitu bodohnya. Mengharap cinta dari laki-laki yang sudah jelas-jelas menghianatiku apapun alasannya, laki-laki itu bahkan mencoba menodaiku," ujar Nayna dalam tangis.
"Padahal ada cinta yang tidak pernah pergi. Cinta yang selalu ada untukku. Cinta yang tidak pernah lelah. Aku buta Rey. Aku buta karena tidak bisa melihat cinta tulus yang selalu kau berikan untukku," Nayna semakin menangis sejadi-jadinya. Pertahanannya jebol juga, dia menangis sesegukkan sendiri di kursi cafe itu. Hatinya benar-benar sakit dan terluka.
"Maafka aku Rey. Ini semua kesalahanku. Kau menjadi seperti ini karena aku. Akulah penyebab semua penderitaanmu, "air mata Nayna tumpah semakin deras.
"Kenapa kau bodoh Rey. Kenapa kau begitu bodoh. Kenapa memilih terus menunggu. Kenapa tidak mencari cinta lain yang membuatmu tidak terluka. Kenapa akhirnya membuat hatiku jadi sesakit ini Rey," kali ini Nayna berteriak dalam tangis.
Pengunjung cafe sudah mulai terusik. Mereka semua menoleh ke arah Nayna. Hendak menegur tidak enak. Hendak bertanya tapi merasa kasihan. Akhirnya memutuskan untuk tidak perduli. Para karyawan cafepun sepertinya memilih pilihan yang sama.
Seseorang memegang bahu Nayna, membuat gadis itu sontak menoleh dan menghentikan tangisnya. Winda sudah berdiri di samping sahabatnya itu, kemudian menarik kursi lalu duduk tepat di samping Nayna. Matanyapun sudah tampak beŕkaca-kaca. Dia sudah sedari tadi berada di sana. Dia sudah melihat semua, bahkan mendengar semua keluh kesah sahabatnya itu.
"Windaaaaaa.........," Nay memeluk erat tubuh Winda. Tangisannya semakin menjadi dan terdengar semakin pilu. Winda memeluknya saja, membiarkan Nay luruh dalam tangisannya. Membiarkan Nay meluapkan perasaannya dalam tangis. Tidak terasa, cukup lama Winda menunggu.
__ADS_1
"Kita pulang Nay. Kita bicarakan lagi di rumah," ujar Winda ketika sahabatnya itu sudah mulai tenang. Tangisannyapun hanya tersisa isakan saja.