
"Ayo sana ganti baju dulu. Aku bikinin minum, setelah itu baru kita bicara," ucap Nay lagi manja.
Di tengah kebingungan yang mendera hatinya atas perubahan sikap Nayna, Rey mengikutinya saja. Dia lalu berjalan menuju kamarnya.
Tidak berapa lama Rey keluar kamar sudah berganti dengan pakaian santai. Dan Nayna sudah duduk di meja makan dengan dua gelas juice.
"Rey, ayo minum dulu," teriaknya
Mereka duduk saling berdampingan menyeruput juice yang barusan Nayna buat. Nay meminumnya sambil tersenyum menatap Rey. Dia berjanji mulai detik ini akan menukar semua luka yang pernah Rey rasakan dengan kebahagiaan.
__ADS_1
Sementara Rey menikmati juicenya masih dengan kebingungan dan tanda tanya atas sikap Nayna.
"Rey aku boleh ya meminjam pakaianmu untuk ganti. Aku nggak mau pakaianku bau keringat ketika mau pulang nanti," pinta Nay
"Pakai aja, lemariku juga tidak di kunci," jawab Rey sudah mulai santai.
"Izin ya ke kamarmu, nggak aku acak-acak deh," ucap Nay dengan tersenyum sangat manis, lalu masuk ke kamar Rey.
Ihhhh, kenapa aku terlihat seperti wanita penggoda saja, yang berusaha merayunya, ucap Nay masih mematung di depan cermin.
__ADS_1
Tidak. Ini harus kulakukan. Aku bukan berniat menggoda, aku hanya ingin menyakinkannya, bahwa mulai detik ini, Nayna adalah mikiknya. Nayna hanya milik Rey. Dan aku juga yakin, Rey tidak akan berbuat yang tidak pantas padaku, bela Nay pada dirinya sendiri.
Nay sudah keluar kamar Rey, dengan kemeja Rey yang tampak menenggelamkan tubuhnya. Rey yang sudah santai di ruang tengah tampak menoleh ketika mendengar pintu kamarnya dibuka dari dalam. Ruang tengah memang berdekatan jaraknya dengan kamar Rey.
"Hahahahahhhhh......," Rey tampak tertawa sangat keras melihat Nay di dalam kemejanya itu.
Kemeja itu tampak sangat besar di tubuh Nayna yang mungil. Matanya terus menyusuri tubuh Nayna sambil tertawa. Tapi tiba-tiba saja tawa Rey terhenti saat pandangannya tertuju pada ujung kemeja yang panjangnya hanya di atas lutut. Paha dan betis Nay yang mulus terekspos. Rey menelan ludahnya lalu memalingkan wajahnya, bagaƬmanapun juga dia laki-laki normal. Apa gadis ini sedang mengujiku, batin Rey.
"Rey.......," tiba-tiba saja Nay sudah memeluk Rey dari belakang. Posisi Rey yang tadi berpaling tidak menyenderkan punggungnya pada sofa, membuat tubuh Nay menyentuh lekat pada punggungya. Bahkan Rey bisa merasakan kedua benda lunak itu menyentuh punggunnya. Dan karena Nayna benar-benar menekankan tubuhnya saat memeluk Rey. Walaupun dilapisi baju mereka, kelembutannya seakan menembus kulit punggung Rey. Rey menarik nafas mencoba mengendalikan emosinya. Kali ini bukan emosi amarah yang mengusainya, naluri kelaki-lakiannya tengah di uji.
__ADS_1
Awalnya Rey berniat memejamkan mata dan menikmatinya saja. Saat tubuh Nay sudah menempel menyentuh punggungnya, kedua tangannyapun melingkar di leher Rey. Baru kali ini perasaan bahagia melingkupi hatinya, saat Nay sudah bersikap bukan lagi seperti hanya seorang teman. Tapi sesaat kesadarannya muncul, Rey tidak ingin akhirnya nanti mereka bertindak melakukan hal yang akan mereka sesali selamanya. Rey sudah berjanji tidak akan menyentuh Nay. Rey akan menunggu hingga mereka dipersatukan dalam ikatan suci, sebuah pernikahan.