
"Nay tunggu.....," cegah Rizki
Nayna bergegas menjauh. Menghindari Rizki adalah pilihannya saat ini. Nay berniat mencari Rendi yang tadi izin menyapa teman-temannya yang hadir di acara, sementara Nayna memilih mengambil minuman sebentar dan tidak mengikuti Rendi.
"Nayna berhenti di sana......," cegah Rizki lagi setengah berteriak.
Nayna menghentikan langkahnya. Berbalik menatap Rizki yang kini sudah berdiri di hadapannya.
"Ada apa bang Ki?" tanya Nay ketus.
"Kamu mau ke mana?" tanya Rizki.
"Mau cari bang Rendi, Nay mau balik....," ujar Nayna dingin.
"Siapa laki-laki itu Nay. Kenapa kalian terlihat akrab sekali?" tanya Rizki sudah tidak dapat menutupi perasaannya lagi.
Nayna menatap tajam Rizki, menelaah kemana arah pembicaraan laki-laki dihadapannya ini. Laki-laki yang notabene sesungguhnya adalah tunangannya.
"Apa itu harus bang Ki pertanyakan," tanya Nay balik.
"Tentu saja Nay. Abang harus tahu apa hubunganmu dengan laki-laki itu. Karena biar bagaimanapun, abang ini masih tunanganmu....," ucap Rizki lagi tegas.
"Tunangan bang?" tanya balik Nayna sinis menekan kata "Tunangan"
"Apa abang masih menganggap Nay tunangan sejak kecelakaan yang mengakibatkan abang amnesia itu.....," ujar Nayna lagi dengan sinis.
"Apa ada seorang tunangan yang membebaskan tunangannya dengan laki-laki manapun, demi agar dia bisa bersama wanita lain," tagas Nayna kembali tak kalah sinisnya.
Rizki terdiam. Menatap dalam netra indah di hadapannya ini yang telah dipenuhi kilat amarah. Walau tidak mau, terpaksa mengiyakan dan setuju dengan semua yang Nayna katakan barusan.
__ADS_1
Nayna tertawa dalam hati. Menertawakan laki-laki di hadapannya ini yang tidak dapat menyangkal sama sekali semua yang Nay katakan barusan. Menertawakan dirinya sendiri yang dipaksa tanpa ragu dalam kisah pertunangan yang telah berbeda wajahnya kini. Pertunangan yang bisa membebaskan pasangan tunangannya membuka romansa lain, sebuah kisah bersama orang lain. Singguh miris!
"Tapi tetap saja kita adalah tunangan Nay. Abang tetap tidak ingin Nay terlalu intens bersama laki-laki lain," ucap Rizki kembali pelan, seperti tidak terdengar, namun sampai ke telinga Nayna karena jarak mereka yang begitu dekat.
"Lalu abang? Abang bisa bebas saja melenggang bersama wanita manapun tanpa Nay bisa menolak? Apa ini adil bang?" balas Nayna sinis.
"Jangan terlalu meninggikan pertunangan kita bang. Kalau nyatanya abang sendirilah yang membuat batasan yang pada akhirnya membuat pertunangan kita menjadi tidak ada artinya....
," skak Nayna kali ini.
Rizki kembali terdiam. Perkataan Nayna kali ini benar-benar membuatnya mati kutu. Rizki menyadari kalau dirinya sendirilah yang telah menggiring Nayna pada hubungan bersama laki-laki lain.
Awalnya Rizki tidak berfikir sejauh ini. Rizki fikir dia akan membebaskan gadis itu, agar Nayna tidak merasa tidak enak karena terikat pada pertunangan mereka. Sementara Rizki yang hilang ingatan, dan bahkan tidak mengingat sama sekali mengenai Nayna, bisa bebas bersama wanita lain. Rizki hanya ingin memberi keadilan pada tunangannya itu.
Rizki sama sekali tidak menduga, jika saat melihat Nayna bersama laki-laki lain, dia bisa menjadi semarah dan seemosi ini. Hatinya bisa dipenuhi dengan rasa cemburu yang menggebu. Sedari tadi, sejak Rizki diperkenalkan dokter Melia dengan pasangan Nayna, kepalanya seakan terasa mendidih, dadanya seperti akan meledak saja.
Rizki tidak mengerti, walau ingatannya tentang Nayna tidak ada sama sekali, tapi kenapa hatinya tidak dapat menyangkal dari rasa sakit. Rizki menyakini kalau dia kini sedang cemburu buta.
Rizki tahu, Nayna bukanlah gadis seperti itu, gadis matre yang menyukai laki-laki hanya karena kekayaannya. Rizki hanya menangkap kedekatan tidak biasa diantara keduanya. Rizki merasa ada hubungan istimewa antara Nay dan Rendi. Rizki bisa menangkap itu dari perlakuan Rendi pada Nayna. Dari sorot mata laki-laki itu pada Nayna. Rendi bersikap begitu lembut dan sayangnya. Dia bersikap seperti sikap seorang laki-laki kepada kekasihnya. Bahkan Rendi terlihat sangat posesif memaksa Nayna tetap selalu berada di sisinya. Bahkan tatapan yang Rendi tujukan pada Nayna begitu lembutnya. Dia selalu menatap Nay terlihat dengan penuh rasa cinta. Disertai senyum lembutnya yang selalu mengembang untuk Nayna, hanya di hadapan Nayna. Rizki bahkan beberapa kali menangkap sosok Rendi yang cuek, datar dan dingin jika disapa wanita lain. Sungguh bertolak seratus delapan puluh derajat dari sikap yang di tunjukkannya jika dihadapan Nayna. Rasanya Rizki bukan hanya berspekulasi, tuduhannya nyata benar adanya. Bahwa laki-laki bernama Rendi itu sangat mencintai Nayna. Bahkan Nay sendiripun terlihat sangat dekat. Nayna tidak merasa risih dan kaku di dekat Rendi. Nayna seperti sudah berhubungan dan kenal lama dengan laki-laki itu. Bagaumana sebenarnya hubungan Nayna dan Rendi? Ada hubungan apa sebenarnya diantara mereka berdua? Sedari tadi Rizki bertanya berulang kali dengan hatinya.
Sementara dari kejauhan, tanpa Nayna dan Rizki sadari. Ada empat pasang mata menatap intens mereka dengan rasa yang sulit diungkapkan
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Hiiii🖐🖐
Views tercintaahh🤩😍😘
Kini Rizki juga bisa ngerasain gimana cemburunya Nay saat dia dekat dengan wanita lain😜😛
__ADS_1
Bagaimana sesungguhnya perasaan Nay saat itu😜😛
Jangan jadikan amnesia sebagai alasan utama untuk kebebasan🤔🤔🤔
Jangan lewatin up up selanjutnya yah cintahh🙏🏻🙏🏻😘
Yang suka baca Novel Author ini
Mohon Vote Author🙏🏻
Like 👍
☆☆☆☆☆
Comentnya💬
Tip
Biar Author juga semangaatt up episode berikutnya💪💪💪
Baca dan dukungannya juga tuk Novel Author yang lain🙏🏻
👇
☆ Cinta 90
☆ Mengejar Cinta Ustad
Salam Manis😊
__ADS_1
Author