Love Or Be Loved

Love Or Be Loved
Tamu Tak Terduga


__ADS_3

Rey memarkirkan mobilnya di halaman rumah bercat abu-abu itu. Di mematikan mesin mobil, menguncinya lalu keluar dari kemudi mobil. Sejenak dia berdiri mematung. Lima tahun sudah, rumah ini masih tetap sama, cuma catnya saja yang masih terang karena di cat ulang, selebihnya tidak ada yang berubah.


Rey menarik nafas dalam, dia jadi sangat merindukan rumah ini. Sudah sangat lama dia tidak pernah berkunjung lagi, padahal mesti gadis itu tidak memilihnya dulu, dia masih terus datang berkunjung ke rumah ini. Dia juga jadi merindukan pemiliknya.


Dia sempat berfikir mungkin saja rumah ini sudah berganti pemiliknya. Tapi menilik dari Kartu Tanda Penduduk milik Nayna yang di dapatnya dari berkas kerjasama, ternyata alamat tempat tinggal gadis itu masih sama.


Kenapa aku tidak pernah terfikir bisa menemuinya kembali di rumah ini, batin Rey.


Rey kembali menenangkan debaran jantungnya, lalu melangkah ke teras, memencet bel yang terpasang di samping pintu rumah tersebut.


Tidak berapa lama terdengar seseorang membuka pintu. Seorang perempuan paruh baya yang masih sangat Rey kenali. Perempuan itu sudah mulai berumur, tapi kecantikan masih terpancar di sana.


Rey tersenyum sebelum akhirnya mengucapkan salam.


"Assalamualaikum tante....""


"Waalaikusalam," yang ditegur tampak bengong sesudah menjawab salam.


Matanya meneliti pemuda yang berdiri di depannya ini. Pakaian dan penampilannya mencerminkan dia bukan orang yang sembarangan. Bahkan matanya juga sempat melirik mobil yang terparkir di halaman rumahnya. Pemuda ini, rasanya begitu dekat.

__ADS_1


"Rey....kamu Reyhan kan?" tanya perempuan itu lagi setelah berhàsil mengumpulkan kepingan-kepingan ingatan dari masa lalu itu.


"Iya tante, saya Rey," kemudian mencium tangan wanita paruh baya itu.


"Apa kabar tante?" lanjutnya lagi bertanya


"Baik....baik, Alhamdulillah," tante Meli, bunda Nayna tampak masih terkejut


"Ayoo.....Ayooo....masuk Rey," ajak tante Meli akhirnya


"Kamu mau ketemu Nayna," tanyanya begitu Rey sudah duduk di sofa ruang tamu


"Kenapa mesti mengganggu, tante senang kalau Rey masih menginggat rumah ini. Memang tante agak terkejut tadi," ujar mama Nayna dengan tersenyum


"Bagaimana kabarnya Rey, dimana sekarang?" tanyanya lagi


Rey menceritakan singkat perjalanannya, hingga bisa bekerja sebagai direktur utama di perusahaan milik negara. Dan juga sedikit menceritakan bisnisnya yang alhamdulillah mulai menggeliat.


Dari dulu tante Meli selalu baik padanya. Itulah kenapa Rey bisa santai menceritakan semua kepadanya.

__ADS_1


"Tante ikut senang dan bahagia mendengar keberhasilanmu Rey," ujar bunda Nayna tulus


"Karena dari dulu tante tahu, kamu pemuda yang baik dan soleh. Tante selalu yakin, kerja keras dan ketekunan Rey pasti akan membawa keberhasilan," ujarnya lagi haru.


"Terimakasih tante," wanita ini tidak berubah, ujar batin Rey


Tante Meli, bunda Nayna menatap Rey ragu sebelum mengajukan pertanyaan.


"Apakah Rey sudah bertemu Nayna?"


Rey menganggukkan kepalanya memandang tante Meli


"Kami tidak sengaja bertemu dan bekerjasama di tander kantor tante," Rey menjelaskan, dia yakin tante Meli pasti penasaran.


Bunda Nayna memandanginya lagi. Dia tahu,.bahkan sangat mengenal pemuda di hadapannya ini. Dia pemuda baik yang soleh, yang sangat mencintai Nayna dulu. Bahkan dia menyukai dan mendukung kedekatan mereka dulu. Walaupun takdir berkata lain, cinta itu tidak berhasil menyatukan mereka. Tapi dia bisa melihat binar cinta di mata pemuda ini. Perasaannya tidak berubah sama sekali.


Aku bisa melihat cinta itu dengan jelas di matanya, batin bunda Nayna.


Inikah yang membuat Nay uring-uringan akhir-akhir ini. Apakah masa lalunya kembali di tengah kehadiran Bayu. Mama Nayna teringat anak sahabatnya yang sempat dia kenalkan pada putrinya itu. Hatinya ikut-ikutan galau.

__ADS_1


__ADS_2