
Nayna dan bundanya udah duduk menunggu di meja yang sudah di pesan sahabatmya bundanya itu sebelumnya.
"Kita kecepetan ni bun datengnya," ujar Nayna setelah duduk
Bunda melirik jam tangannya, masih kurang lima menit lagi
"Nggak sayang, sebentar lagi pasti tante Ratih nyampe.
"Haiiii.....Meliku syg,"seseorang udah berteriak dengan semangatnya di dekat meja mereka
Benar saja ucapan bunda, sahabatnya itu tidak mungkin telat. Nayna memberiarkan saja kedua sahabat itu saling melepas rindu. Tawa dan pelukan tidak lepas dari mereka berdua. Mereka sepertinya sangat bahagia, bagai cerita dua saudara kandung yang dipisahkan lama, Nayna berujar sambil tersenyum sendiri.
"Heiii....inikah Nayna......"tiba-tiba tante Ratih sudah tersenyum kearahku
"Kenalkan ini Nayna, putriku Tih" bunda memperkenalkanku. Aku mencium tangan tante Ratih, kemudian dia memelukku erat
"Nayna, kamu sangat cantik sayang, begitu manis, persis bundamu ini"ujarnya dengan tersenyum melirik bunda.
"Kau bisa saja Ratihku sayang"
__ADS_1
"Tapi ngomong-ngomong kenapa kau datang sendiri, mana putramu"bunda bertanya heran.
"Dia masih ada kerjaan sedikit, dia berjanji akan menyusul ke sini setelah pekerjaannya selesai"ujar tante Ratih berusaha memberi penjelasan.
"Udah kita mulai saja santap siangnya, kalian berdua juga pasti udah pada laper kan" tante Ratih berkata begitu riangnya.
Tetapi belum lama kami memulai acara makan siangnya, seseorang tampak bersuara di belakang kursiku.
"Miii.....maaf yah aku sedikit telat,"
"Kamu sudah sampai sayang. Tidak apa-apa, mami dan tante Meli baru saja memulai makan siangnya,"
"Nayna....." ujar laki-laki itu ketika baru saja mendudukkan bokongnya di kursi.
"Bayu...." seketika pandangan mataku menatap laki-laki yang menyebut namaku barusan. Kami berdua tampak terpaku
"Kalian sudah saling mengenal rupanya. Ini yang namanya jodoh Mel, tanpa kita mengenalkan, ternyata mereka sudah saling mengenal," tante Ratih berujar memecah rasa canggung yang tercipta diantara kami berdua.
"Bener banget Tih, ternyata jodoh nggak kemana yah," bunda menimpali.
__ADS_1
Aku dan Bayu cuma bisa saling pandang dan tersenyum.
"Ceritakan bagaimana kalian bisa saling mengenal," tante Ratih bertanya di sela-sela acara makan siang kami
"Kebetulan aku dan Ratih terlibat dalam proyek kerjasama kantor mi," Bayu menjelaskan pada maminya
"Bukankah itu bagus, kalian jadi bisa sering bertemu dan bersama, bukan begitu Mel," Tante Ratih meminta sekutu pada bunda.
"Bener Tih. Jadi mereka tidak perlu mencari alasan lagi ketika ingin bertemu....," bunda dan tante Ratih tertawa bahagia.
Aku dan Bayu saling melirik. Mau bersuara tidak tahu apa yang mau di bicarakan. Akhirnya terima saja jadi bulan-bulanan bunda dan tante Ratih.
"Coba lihat muka keduanya sudah merah seperti tomat. Mereka cuma bisa saling lirik aja...hahhaha,"bunda kembali tertawa.
"Iya bener Mel. Lagian Bayu tumben diem kayak gitu, padahal pingin tu ngajak Nayna ngobrol," lagi-lagi tante Ratih menggoda.
"Aih, kamu kayak nggak pernah muda ajaTih. Awalnya mah gitu, malu-malu tapi mau....hahahhaha," bunda benar-benar bahagia, seperti anak kecil yang mendapat hadiah mainan baru. Tidak berhenti bicara dan tertewa. Sama halnya dengan tante Ratih. Ciihh, pantas saja kalau mereka itu sahabat karib, aku mamaki dalam hati.
"Udah....udah, jangan diledek lagi Mel. Lihat muka mereka berdua, benar-benar menyerupai kepiting rebus.....hahhahah."
__ADS_1