
Malam itu setelah mengantarkan Nayna pulang, Bayu memenuhi keinginan ibunya untuk mengunjungi abangnya.
Bayu dan Rendi sebenarnya kakak adik yang akur dan saling menyayangi. Tapi semenjak menikah abangnya itu berubah jadi sosok yang kasar dan pemarah.
Bayu juga tidak mengetahui jelas sebabnya.
Bayu mengetuk pintu setelah sampai di rumah abangnya. Dia melihat mobil Rendi terparkir di garasi. Berarti abangnya itu ada di rumah.
Dari dalam knop pintu di buka, Rendi muncul di depan pintu melihat Bayu, lalu menatap adiknya itu bingung. Tumben-tumbennya ini anak berkunjung, batin Rendi.
"Ayolah bang, ngapain berdiri aja meratiin gue," Bayu ngeloyor masuk ke dalam rumah.
"Gue bawa rantangan titipan mami, untuk anak sulung tersayangnya," ujar Bayu meletakkan rantangannya di meja makan.
Rendi menutup pintu lalu berjalan mendekati adiknya ke meja makan.
"Banyak banget mami masaknya dek, emang ada acara apa di rumah," Rendi bertanya setelah membongkar rantangan yang di bawa Bayu.
"Nggak ada acara bang, ada anak sahabat mami aja tadi,"
"Mana masakan dan kue-kue mami enak-anak semua lagi dek, tahu aja mami kalo abang lagi laper," ujar Rendi sudah mencicipi hidangan yang di bawa adiknya.
__ADS_1
"Lo tu ya Bang, mending pulang aja ke rumah. Tinggal sendiri kayak nggak keurus. Di rumah masih ada mami yang bisa ngurusin keperluan abang," Bayu berucap
"Nggak enaklah dek, abang ini udah menikah, tapi masih juga ngerepotin mami," jelas Rendi sambil mengunyah makananya
"Iya nikah kalau bener nggak pisah, kan ada yang urus. Ini nikah juga udah pisah lama, itu mantan bini abang aja udah nikah juga kale," Bayu kembali menyindir abangnya.
"Biar berantakan juga judulnya abang udah pernah menikah, udah nggak pantes lagi ngerepotin orang tua," Rendi kekeuh membela diri.
"Lagian kasian mami, kepikiran abang mulu. Emang abang mau kalau mami sampai jatuh sakit terus-terusan mikiran abang," Rendi terdiam akhirnya
"Abang itu kalau memang nggak mau balik ke rumah, nggak mau juga bikin mami khawatir. Sering-seringlah dateng nengok mami," Bayu mendapat angin terus menasehati abangnya
"Nggak perlulah bang tiap hari, minimal mampir seminggu sekali ke rumah habis pulang kantor. Kalau nggak seminggu ya dua minggu sekali, yang penting abang niatin mampir,"
"Adek abang bisa dewasa juga yah sekarang," Rendi menepuk Bayu Bayu
"Iya kali Bang umur gue udah berapa, masak mau anak-anak mulu," ujarnya lagi membalas senyum abangnya.
Loe udah balik lagi ke diri lo yang dulu Bang. Abang gue yang ramah, murah senyum, baik dan santun. Nggak kayak waktu loe udah menikah, lo sempet jadi sosok yang nggak gue kenalin, lo jadi bukan diri lo bang. Kayaknya perpisahan itu lebih baik deh, bisa mengubah lo kembali ke diri lo yang dulu," gumam Bayu menatap punggung abangnya yang berjalan ke arah wastafel hendak mencuci tangan.
"Kamu nggak makan dek," tanya Rendi setelah duduk berhadapan kembali
__ADS_1
"Telat kaleee nawarinya bang, lo aja udah selesai makan," ucap Bayu ketus
"Maaf dek, lo kan tau sendiri kalau mami yang masak. Abang itu bisa lupa daratan kalau makan masakan mami," Rendi tertawa
Gue suka lo yang kayak gini bang. Jangan berubah lagi ya, pinta Bayu dalam hati.
"Ya udah gue balik ya bang, udah malem, mana gue capek dan ngantuk banget," pamit Bayu
"Nggak tidur sini aja lo dek,"
"Nggak bang lain kali aja. Lagian gue mesti lapor ke mami, kalau anak sulungnya ini baik-baik aja, udah normal seperti sedia kala,"
"Sial lo.....emang selama ini lo kira gua nggak normal," semprot Rendi
Bayu sudah melangkah ke teras diantar Rendi. Baru saja Bayu membuka pintu mobilnya, Rendi berteriak
"Salam ke mami ya dek. Bilang mami, minggu depan abang nginep,"
Rendi menghentikan gerakannya dan menoleh menatap abangnya
"Bener lo ya bang, gue bilang mami nih," ujarnya memastikan
__ADS_1
"Gue pegang janji lo ya bang" ujar Bayu begitu Rendi mengangguk.
Bayu mengemudikan mobilnya dengan bahagia. Mami pasti bahagia mendengarnya, putranya yang hilang telah kembali, batin hati Bayu.