
"Bang....bang Rendi," teriak Bayu begitu masuk rumah
Mami yang mendengar teriakan Bayu bergegas menghampirinya. Tumben putra keduanya itu berteriak-teriak dengan marah. Ketiga putranya itu adalah tipe laki-laki yang dingin semua, persis seperti papinya. Jangankan berteriak, mendengar mereka tertawa bercanda bertiga saja jarang-jarang, batin mami.
"Bayu.....ada apa nak? Kenapa berteriak-teriak begitu," tanya mami begitu sampai di hadapan Bayu
"Bang Rendi mana mi," dia tidak menggubris pertanyaan maminya
"Ada di kamarnya, memangnya ada apa nak?" mami bertambah bingung
Bayu segera melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa ke kamar abangnya.
"Bang....." teriaknya tanpa permisi membuka pintu kamar Rendi
Rendi yang tengah duduk menyenderkan kepalanya di sofa kamarnya tampak kaget, menatap Bayu dengan mimik heran.
"Bang.....kenapa abang nggak cerita sama Bayu kejadian yang dialami Nayna" teriak Bayu di depan muka Rendi
"Kejadian apa maksudnya Bay," sela mami langsung bertanya. Ketika menyangkut Nayna, otak wanita ini akan dengan cepat sekali merespon.
__ADS_1
Bayu menatap maminya sekilas, menundukkan wajahnya.
"Beberapa bulan yang lalu Nay nyaris diperkosa mi," ujar Bayu dengan pilu. Walau dia belum jelas mengerti hatinya. Tapi Bayu sudah begitu menyayangi Nayna, gadis itu baginya sudah seperti adiknya sendiri.
"Apaaaa....." teriak mami kaget. Badannya sudah terhuyung tiga langkah ke belakang. Kalau saja tangannya tidak cepat memegang ujung sofa, mungkin dia sudah terduduk jatuh.
Bayu bergegas memeluk maminya, kemudian membawanya duduk di sofa. Mata mami menatap Rendi dan Bayu bergantian. Dia menunggu penjelasan dari kedua putranya tersebut.
"Mi....mami minum dulu," ucap Rendi yang telah menuangkan segelas air putih pada maminya.
Mami meneguk air putih itu sampai habis sambil menetralkan kembali nafasnya yang sudah tidak beraturan karena kaget. Untung saja dia tidak mempunyai riwayat penyakit jantung, jika tidak, mungkin sudah terkapar sangking kagetnya.
"Tidak penting aku tahu dari mana bang," Bayu masih tampak marah.
"Kenapa abang menyembunyikannya dari Bayu," makinya lagi.
"Itulah kenapa aku bertanya dari mana kau mengetahuinya. Karena tante Melipun memintaku untuk merahasiakan hal ini dari siapapun. Dan Nayna juga tidak akan sembarangan bercerita," jelas Rendi dengan sabar. Mami yang duduk dekat mereka berdua, hanya mendengarkan saja.
"Winda sahabat Nay yang sudah menjelaskan semua padaku," jawab Bayu sudah mulai merendah, amarahnya sudah sedikit mereda.
__ADS_1
"Jangan lagi kau berbohong bang. Aku bahkan sudah tahu kalau Naynalah kekasih yang kau tinggalkan karena berselingkuh dengan kak Mei dulu," ucap Bayu lagi dengan sinis.
Jadi benar Naynalah gadis itu. Gadis yang membuat Rendi tidak bisa bersikap layaknya suami kepada Mei, mami membatin. Sedikitnya mami tahu cerita mengenai putra sukungnya itu, walaupun baru tahu kalau gadis itu adalah Nayna. Gadis yang sangat di cintai putranya.
Rendi menghela nafas dalam, lalu menghembuskan nafasnya dengan berat.
Kemudian dia mulai menceritakan semua kejadian yang dialami Nay hingga dia yang mengurus semua perkara yang dialami gadis itu pada Bayu dan maminya.
"Rendi tidak tahu mi, apa yang akan terjadi pada Nay andai hari itu Rendi tidak melewati lokasi kejadian," ucap Rendi lagi dengan berkaca-kaca. Ingatannya kembali melayang pada kejadian yang menimpa Nay berapa bulan lewat.
"Rendi bersyukur. Rendilah orangnya yang menyelamatkan Nay pada hari itu," ucapnya lagi sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
"Akan kutemui dua wanita itu," marah Bayu.
"Tidak usah dek. Abang sudah mengurus mereka berdua. Mereka tidak akan bisa lepas dari tanggung jawab, mereka akan meringkuk di sana lama.
Karena abang bisa pastikan, pengacara abang akan menjegĂ l langkah mereka agar bisa bebas," Rendi kembali geram.
"Alibi mereka kalau cuma ingin memperingatkan Nayna saja, tidak menyuruh penjahat itu untuk memperkosa Nay. Tapi tetap saja, penjahat itu ********, mereka harusnya memikirkan kemungkinan yang bisa saja terjadi," maki Bayu lagi geram.
__ADS_1