
"Hai.......," sapa Nayna kaku.
Sudah satu minggu ini dia tidak melihat pak dokter tampan ini, ada rasa kangen dalam hatinya. Walaupun Nay sangat tidak yakin jika Rizki juga merindukannya.
Rizki yang baru selesai mandi, menoleh ke arah sumber suara. Dia sudah terlihat tampan dengan busana santainya, oblong press body dan celana pendek yang dikenakannya tampak sangat pas membalut tubuh atletisnya. Wajahnya juga sudah tampak bersinar, tidak lagi terlihat pucat seperti ketika berada di Rumah Sakit.
"Boleh masuk......," tanya Nayna di depan pintu ragu.
Rendi makin menatap Nayna, menangkap ragu dari getar suaranya.
"Masuk aja....," jawab Rizki santai.
Nayna melangkah masuk, dibukanya pintu kamar Rizki lebar-lebar. Lalu berjalan mendekat, menghampiri Rizki yang sudah duduk di atas tempat tidurnya.
Nayna mendekat, mengambil posisi duduk di kursi meja kerja Rizki yang letaknya tidak jauh dari posisi tempat tidur. Memutar kursi menghadap Rizki.
"Bagaimana keadaan bang Ki?" tanya Nay memulai bicara.
"Alhamdulillah sudah jauh lebih baik. Kecuali ambesia itu yah," jawab Rizki terlihat lebih ramah.
Nayna menatapnya lekat. Nay bahagia melihat kondisi Rizki sudah mulai pulih. Tapi mendengar ucapan Rizki tentang amnesia yang dialaminya, membuat Nayna jadi berfikir. Apakah Rizki hendak menegaskan bahwa dia masih tidak mengingat Nayna, karena amnesianya itu. Apakah ini artinya untuk Nayna tetap menjaga jarak, Nayna jadi menebak nebak sendiri.
"Jangam berfikiran yang aneh," tebak Rizki menatap lekat netra indah di hadapannya ini.
"Aku cuma mengatakan kalau amnesiaku belum sembuh, ingatanku belum juga kembali. Bukan berarti aku menegaskan jarak denganmu," jelas Rizki seakan membaca jalan fikiran Nayna.
"Aku tidak berfikir yang aneh.......," elak Nayna begitu Rizki menyadari kegelisahannya.
"Jangan berbohong. Wajah dan matamu menyiratkan semuanya," ucap Rizki tegas.
"Kapan mau kembali bertugas," elak Nayna akan ucapan Rizki yang mengena dengan telak.
"Mungkin awal bulan depan. Dua minggu ini aku masih beristirahat, memulihkan kondisi kesehatanku terlebih dahulu," jelas Rizki.
"Kamu tidak bekerja," tanya Rizki balik.
"Masih ada sisa libur 3 hari lagi," jawab Nay.
__ADS_1
Keduanya kembali terdiam. Benar-benar terasa amat sangat kaku.
"Maaf, aku bukan bermaksud menghindar atau menjauhimu," ucap Rizki kemudian memecah keheningan diantara mereka berdua.
"Aku hanya bingung, mesti bagaimana bersikap. Mom sudah menjelaskan semua tentang hubungan kita," jelas Rizki lembut.
Nay terdiam. Menatap lekat sosok di hadapannya ini.
"Mom menyakinkan kalau Nay lah wanita yang aku cintai, sudah kulamar resmi untuk menjadi istriku. Aku juga tahu dan tidak bisa memungkiri, kalau mom sangat menyukai dan menyayangimu," lanjut Rizki kembali.
"Tapi aku menjadi tidak mengerti dan tidak tahu harus bersikap bagaimana. Karena tidak ada sedikitpun ingatan di kepalaku tentang dirimu Nay," Ucap Rizki pada akhirnya menjelaskan.
Kemudian mereka berdua kembali terdiam.
"Aku akan mencoba menerima dan menjalani hubungan kita, walau aku sama sekali belum mengingat apapun tentang dirimu," putus Rizki akhirnya.
Dia mengingat semua yang mom bicarakan. Sebaiknya mencoba menjalani, daripada menyesal di kemudian hari saat ingatannya kembali. Tapi yang memantapkan keinginan Rizki memberi kesempatan pada Nayna agar boleh selalu di sisinya. Kedekatan mom dan Nayna, serta perasaan sayang mommynya itu pada Nayna membuat sedikit celah respek di hatinya untuk Nayna. Nay pasti gadis yang baik dan pantas di mata mom sehingganya mommynya itu tetap kekeuh dan selalu mendukung Nayna.
"Nay........," tanya Rizki saat gadis ini hanya diam saja sedari tadi.
"Dari awal bang Ki kecelakaan. Bukankah Nay sudah menegaskan akan terus di samping bang Ki, hingga ingatan kembali. Bukankah Nay terus di dekat anang. Meski kadang sikap abang kasar, cuek, tidak perduli, bahkan mengusir Nay saat di Rumah Sakit, tetap Nay terima," balas Nay menjelaskan.
Rizki terdiam. Dia menyadari sikapnya belakangan ini pada Nayna.
"Tapi Nay mesti tahu bang. Tadi abang katakan ingin mencoba menerima dan menjalani hubungan kita meski abang belum mengingat Nay sama sekali," ujar Nayna.
"Lalu bagaimana Nay harua bsrsikap pada wanita-wanita lain di samping bang Ki. Dokter Melia dan Angel adalah dua diantaranya yang dengan sengaja dan terang-terangan berusaha menarik perharian abang?" Nay akhirnya mengungkapkan unek-uneknya
"Abang tidak akan terlalu mengikat Nay, hingga ingatan abang benar-benar kembali," jawab Rizki kemudian lugas.
"Maksud bang Ki apa?" tanya Nayna bingung.
"Sampai ingatan abang kembali, jalanilah kehidupan Nay bebas, bertemanlah dengan siapa aja, dekatlah dengan siapapun," ujar Rizki membuat Nay bingung.
"Kita memang bertunangan. Tapi dengan kondisi abang yang seperti ini, rasanya tidak etis saja jika abang mengikat Nay, membatasi pergaulan Nay," Rizki kembali menjelaskan.
"Sepertinya itu sinyal yang bang Ki berikan agar Nay menerima wanita-wanita yang berada di samping abang," jawab Nay ketus.
__ADS_1
"Abang cuma ingin adil pada Nay......," Rizki kembali mencoba agar Nayna memahami apa yang dikatakannya.
"Baik bang. Nay ngerti kok. Kita jalani aja semuanya apa adanya. Mungkin ujian kita memang dengan harusnya ada orang lain di sisi kita masing-masing bang," Nayna mencoba memahami.
Tapi penjelasan Nay barusan justru membuat sisi hati Rizki seakan tidak menerima. Harus ada orang lain di sisi mereka masing-masing membuat perasaan Rizki berubah menjadi tidak rela. Rizki meletakkan tangan di dadanya. Kenapa rasanya menjadi berbeda, gumamnya dalam hati.
"Nay harap, bang Ki tidak akan menyesali keputusan abang ini, jika nanti suatu saat ingatan abang kembali," ucap Nay lagi persis seperti yang pernah mom katakan pada Rizki.
Perasaan Rizki menjadi jauh lebih tidak enak.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Hiiii🖐🖐
Views tercintaahh🤩😍😘
Rendi ataukah Rizki?????🤔🤔
Mohon Vote Author🙏🏻
Like 👍
☆☆☆☆☆
Comentnya💬
Baca dan dukungannya juga tuk Novel Author yang lain🙏🏻
👇
☆ Cinta 90
☆ Mengejar Cinta Ustad
Salam Manis😊
Author
__ADS_1