Love Or Be Loved

Love Or Be Loved
Membuka Hati atau Merebut Kembali


__ADS_3

Rey melajukan mobilnya ke cafe yang di tuju. Dia memutuskan menerima ajakan Karin, bertemu di cafe ini sesuai janji mereka kemarin. Rey merasa tidak enak hati terus-terusan mencari alasan menolak ajakan gadis itu. Lagipula Karin gadis yang baik. Tidak ada salahnya jika mencoba menjadi teman baik, yang terjadi ke depannya, biarlah menjadi rahasia yang diatas.


Baru saja Rey masuk ke dalam cafe memutar pandangannya mencari, seorang gadis manis sudah melambaikan tangannya di kursi sudut belakang.


"Reeeyyy," teriaknya


Rey tersenyum, membalas lambaikan tangan, dan berjalan menuju meja yang di tuju.


"Haiiii....sapa gadis itu ramah,"


Rey membalas dengan tersenyum, dan mengambil posisi duduk di hadapan gadis itu.


Pelayan cafepun sudah mencatat pesanan mereka berdua.


"Maaf aku agak telat Rin, ada rapat mendadak di kantor tadi," ujar Rey memohon


"Nggak apa-apa Rey, aku ngerti kok," balas Karin ramah.


"Aku juga belum lama nyampenya kok," Karin menjelaskan.


Tidak lama pesanan mereka tiba. Sambil santai menyeruput juice dan cemilan ringan, Rey dan Karin kembali asyik mengobrol.


"Ternyata kamu orangnya bisa lucu juga ya Rey," ujar Karin sambil tergelak

__ADS_1


"Hahahahhh....memangnya kamu kira aku orangnya seperti apa," balas Rey dengan tertawa.


"Aku kenal kamu dari dulu itu serius....kaku dan......dingin," ujar Karin seolah berfikir sambil mengerjapkan kedua matanya.


Sekilas Rey terpesona. Matanya seperti bintang, terang dan bersinar. Bulu mata lentik yang membingkainya, membuat matanya tampak indah bila mengerjab. Mata itulah yang membuatnya terlihat sangat cantik, apalagi kalau sedang tersenyum.


Heii...aku baru menyadari kalau gadis ini juga sangat manis, senyum Rey dalam hati.


"Reyy...,"


"Hmmm,"


"Coba kamu bisa sering seperti ini," keluh Karin


"Kalau kamu bisa semanis ini setiap bertemu, tidak dingin dan kaku," ujar Karin sambil mengerjab


Ahhh, matanya sangat indah, kenapa jadi sering mengerjab seperti itu, batin Rey lagi sambil menyunggingkan senyum manis.


"Baiklah, aku akan bersikap semanis ini jika bersamamu," ujar Rey akhirnya membuat pipi Karin bersemu merah


"Heiiii.....kenapa pipimu jadi merah seperti tomat begitu," canda Rey


"Mana ada, pipiku memang memakai blush on," elak Karin

__ADS_1


"Hahahaha....," Rey tertawa senang berhasil menggoda gadis ini.


"Jadi aku mesti kembali dingin dan kaku lagi," pancing Rey kembali.


"Tidak, aku lebih suka kamu yang seperti ini Rey," ujar Karin kembali malu.


Matanya mulai lagi mengerjab lagi, pipinya semakin blushing saja.


"Tapi kalau kau selalu seperti ini, aku pasti semakin tidak bisa menahan hatiku Rey," gumam Karin pelan hampir tidak terdengar.


Walaupun pelan Rey mendengar semua keluhan Karin. Hati Reypun kembali meragu lagi.


Jika aku terus bersikap manis begini, itu sama saja dengan memberi gadis ini harapan.


Tapi dia juga tidak tega jika harus bersikap kembali dingin dan acuh, padahal Karin gadis yang baik. Memang tidak ada yang salah dengan mencintai seseorang bukan, seperti halnya yang Karin rasakan.


Tetapi hati Rey sendiripun belum sepenuhnya terbuka. Rey belum bisa membuang nama itu dari hatinya. Itulah kenapa selama lima tahun ini, belum ada seorang gadispun yang bisa menggantukan posisinya di hati Rey.


Sebagaimanapun hatinya tergores, sebesar apapun gadis itu telah menyakitinya. Rey tidak pernah bisa melupakannya. Wajahnya, senyumnya, semua yang ada pada dirinya begitu memabukkan bagi Rey. Dia seakan tidak pernah tersadar dari rasa mabuk itu.


Naynaku.....tolong kali ini saja, beri aku keputusan pasti, bertahan demi mengejar lg cintamu, atau membuang rasa itu kembali demi kebahagianmu, batin Rey dengan nanar.


Matanya menatap Karin kembali, lalu tersenyum. Dan Karin membalasnya dengan senyum dan mengerjapkan matanya lagi. Ahhh, kenapa dia suka sekali mengerjabkan matanya itu, apa dia tidak tahu, aku jadi menyukai matanya itu, keluh Rey kembali.

__ADS_1


__ADS_2