
"Assalamualaikum Nay," sapa Rendi begitu pintu dibuka Nayna dari dalam.
Nay kaget. Seketika terbengong di depan pintu, menatap sosok laki-laki yang tidak di duganya sama sekali.
"Ba....bang Re...bang Rendi??" ucap Nayna kebingungan.
"Ngapain pagi-pagi udah ke rumah," ketus Nay kembali ketika kesadaran sudah menghinggapinya.
"Nganterin titipan mami untuk tante Meli " jawab Rendi mengangkat bungkusan besar yang di bawanya.
Ketika kemarin hadir di resepsi Bayu dan Winda, sepertinya mami Rendi dan bunda Nayna sudah berbaikan. Melupakan semua kisah lalu, dan melanjutkan kembali persahabatan mereka yang sempat retak itu. Bahkan tanpa sepengetahuan Rendi maupun Nayna, kedua ibu mereka itu, telah sepakat untuk tidak lagi melarang hubungan Rendi dan Nayna. Mereka malah yakin dan sangat percaya kalau kedua anak mereka itu berjodoh. Lihat saja, walaupun berulang kali terpisah, walaupun banyak masalah yang mereka alami. Tuhan selalu punya cara untuk mempertemukan mereka kembali. Dan yang sangat mereka fahami dan mengerti akhirnya, ternyata cinta tidak pernah hilang di hati keduanya. Kedua sahabat karib itu memutuskan, biarkah Tuhan saja yang nantinya akan kemana membawa hubungan Nayna dan Rendi. Kalau ternyata mereka memang berjodoh, itu sudah garisnya. Kalaupun Nay tetap akan bersama dokter Rizki, keduanya juga akan legowo, menerima takdir Nayna dan Rendi kemudian.
Bunda juga sudah menjelaskan hubungan Nayna dan dokter Rizki panjang lebar. Mami tidak berniat mendorong Rendi untuk merebut Nayna dari dokter Rizki. Mami cuma meminta satu kesempatan, untuk Rendi membuktikan cinta dan ketulusannya, walau hanya sebagai bayangan. Persis seperti yang sudah Rendi jelaskan pada Nayna sebelumnya.
Titipan tante Ratih untuk bunda. Apa dua sahabat itu sudah benar-benar berbaikan, tanya hati Nayna.
"Nggak di suruh masuk nih abang, dari tadi berdiri aja di depan pintu," ucap Rendi akhirnya.
Nayna membukakan pintu lebar, dan membiarkan saja Rendi masuk, tanpa sedikitpun berucap.
"Duduk Bang, Nay panggil bunda dulu," ujar Nayna hendak berlalu.
"Eeee....pagi-pagi udah ada tamu," sapa bunda riang menghampiri Nayna dan Rendi.
Nay yang berniat mencari bundanya langsung mengurungkan niatnya. Kok bunda udah di sini aja, fikir Nayna kembali.
Rendi bergegas berdiri. Menghampiri bunda Nay, dan mencium punggung tangannya dengan hormat.
__ADS_1
"Apa kabar tan....," tanya Rendi.
"Baik Ren. Kamu kayak orang lain aja, panggil bunda ajalah," balas bunda.
Seketika Nayna menatap bingung bundanya. Ini bunda nggak salah makan obat kan yah. Kok jadi ikutan ketularan maminya bang Rendi, pake nyuruh ikutan panggil bunda segala, gumamnya dalam hati.
"Baik bun.....," balas Rendi ramah.
Nayna yang berada diantara keduanya cuma bisa terdiam. Menyaksikan dua orang di hadapannya ini, bundanya dan bang Rendi, yang terlihat sangat akrab sekali. Layaknya mertua dan menantu saja.
"Oh iya, Rendi diminta mami nganterin ke bunda," ujar Rendi menyerahkan bingkisan besar di tangannya pada bunda.
"Waduh repot-repot Ren, pagi-pagi udah nganterin bunda segini banyak," jawab bunda sumringah.
Bunda sangat tahu, jika sahabatnya itu membawakannya makanan pasti dalam jumlah yang tidak sedikit. Secara pemilik catering besar, gumam bunda tersenyum sendiri.
"Nggak ngerepotin kok bun. Kebetulan Rendi lagi cuti dua minggu ini. Jadi Rendi lagi santai nggak ada kesibukan," jawab Rendi kembali dengan sopan.
"Tumben banget bunda. Kayaknya udah damai deh sama mami," ujar Nay ketika sudah meletakkàn bokongnya di sofa menemani Rendi.
"Persahabatan itu seperti sebuah hubungan Nay. Ada bertengkarnya, ada ributnya, tapi pasti akan kembali ke perasaan semula, saling mencintai.....," ucap Rendi menatap Nayna, menekan pada kata kembali ke perasaan semula, saling mencintainya.
"Saling mencintai sebagai seorang sahabat...," lanjut Rendi kembali, tetap menatap lekat netra indah dihadapannya itu.
Nayna diam saja. Tidak menolak atau mengiyakan pernyataan Rendi. Karena jika membantah, Nay berarti menolak kebenaran. Tapi jika mengiyakan, itu sama halnya dengan menyetujui perasaan mereka berdua saat ini. Toh intinya sama saja, ujar Nayna dalam hati.
"Abang serius dengan yang abang katakan kemarin. Abang sengaja mengambil cuti, agar bisa menemani dan menjaga Nay selama dua minggu ini," ucap Rendi to do point.
__ADS_1
"Nay boleh bersikap egois. Nay boleh tidak menjadi diri Nay. Abang akan menerimanya. Seperti yang kemarin abang katakan. Nay jalani aja kehidupan Nay seperti biasanya, abang tidak akan mengganggu.
Anggap saja abang seperti bayangan, walaupun tidak terlihat wujudnya, tapi akan selalu ada di samping Nay," Rendi kembali menyakinkan.
Nay masih diam. Rendi seakan mendengarkan semua yang Nay katakan pada dirinya sendiri tadi malam. Rendi seolah mendengarkan semua keluhannya, dan merealisasikannya semua keinginannya hari ini.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Hiiii🖐🖐
Views tercintaahh🤩😍😘
Mohon Vote Author🙏🏻
Like 👍
☆☆☆☆☆
Comentnya💬
Baca dan dukungannya juga tuk Novel Author yang lain🙏🏻
👇
☆ Cinta 90
☆ Mengejar Cinta Ustad
__ADS_1
Salam Manis😊
Author