
"Ehhh....calon menantu mami udah dateng rupanya," sapa mami Bayu begitu sampai di hadapan Nayna
"Tante.....," Nayna berdiri sambil mencium tangan tante Ratih, sementara tante Ratih langsung memeluk anak sahabatnya itu.
"Jangan panggil tante dong, panggil aja mami sama seperti Bayu. Karena kamu sudah mami anggap seperti anak mami sendiri," ujar tante Ratih lembut sambil tersenyum.
Nayna cuma bisa tersenyum menanggapi tante Ratih. Biar bagaimanapun beliau sahabat tercinta mamanya. Nayna akan selalu bersikap baik dan hormat.
"Oh iya bundamu sehat kan nak," tanya tante lagi
"Iya tante, alhamdulillah bunda dalam keadaan sehat, semoga tante juga selalu sehat yah," balas Nayna tulus.
"Loh kok panggil tante lagi, mami dong," kembali tante Ratih protes.
"Udah Nay, ikutin aja maunya mami. Mami itu nggak akan berhenti kalau keinginannya tidak terpenuhi," sela Bayu sebelum Nayna sempat menjawab.
Nayna cuma tersenyum akhirnya.
"Ayookk sini ikut sini mami," tante Ratih membawa Nayna ke meja makan
"Mami sengaja bikinin kamu kue banyak nih," ujarnya lagi penuh semangat ketika sampai di meja makan.
__ADS_1
Nayna membelalakkan matanya menata menatap begitu banyak kue-kue dan hidangan lezat tersaji di sana.
"Banyak banget tante masaknya....eeehh mami maksudnya," ujar Nayna begitu tante Ratih melotot dipanggilnya dengan sebutan tante kembali.
"Mami sengaja masak banyak, nanti mau mami bungkus biar kamu bawa pulang Nay. Mama kamu itu sangat menyukai masakan mami, karena mami ini memang pinter masak," ujar tante Ratih menjelaskan.
"Ayo dicicipin sayang," tante Ratih sudah mendekatkan semua makanan lezat itu dipiringku. Mau tidak mau aku harus memcicipinya. Dan benar saja semua masakan tante Ratih memang lezat. Tante Ratih tidak salah jika memuji dirinya pandai memasak
"Semua masakan mami benar-benar lezat," kali ini Nayna tidak kaku lagi memyebut mami Bayu dengan panggilan mami.
"Cobain ini Nay, puding ini sengaja mami bikin buat Nay,"
"Jangan manja deh nak, itu di meja makanan banyak masih tersaji, tinggal ambil aja mana yang mau kamu makan," balas tante Ratih cuek.
Sementara Bayu udah menikmati hidangan yang ada dengan muka cemberut
"Belum jadi menantu aja aku udah tersingkir, apalagi kalau udah jadi menantu," Nayna dan tante Ratih tersenyum mendengar gumaman Bayu.
"Oh iya Bay, nanti bawak rantangan untuk abangmu yah nak. Kamu antarkan ke rumahnya, mami masih tetap tidak tenang memikirkan abangmu itu," tante Ratih kembali berujar.
"Iya mi.....," ujar Bayu agak enggan
__ADS_1
Nayna cuma memandang bingung ke arah ibu dan anak tersebut.
"Nay belum kenal yah." tante Ratih menatap Nayna "Mami itu punya tiga putra, abngnya Bayu dan adiknya Bayu. Nanti Nay pasti tante kenalin sama abang dan adiknya Bayu." senyum tante Ratih.
"Kalau gitu Nayna pamit ya Mi, udah malem," ujar Nayna karena merasa dia sudah cukup merepotkan tante Ratih hari ini.
"Bentar Nay, mami suruh bibik siapin bungkusan untuk bundamu dulu yah," bales tante Ratih
"Nggak usah mi, jadinya ngerepotin," hindar Nayna
"Ngerepotin gimana Nay sayang, kamu bukan orang lain lagi bagi mami. Kamu itu sudah seperti putri mami sendiri," ucap tante Ratih tulus sambil membelai rambut Nayna
"Lagipula mami dan bundamu itu bukan setahun dua tahun bersahabat. Kami sahabat yang sudah seperti saudara saja," kembali tante Ratih menjelaskan.
Sementara Nayna cuma bisa tersenyum sambil menganggung menyetujui permintaan tante Ratih.
"Bik, tolong bungkusin rantangan untuk Nayna, semua jenis kue dan makanan ini ya bik," tante Ratih memberi perintah pada bik Ijah
"Sekalian bungkus juga buat abang, nanti biar Bayu anter sekalian sesudah mengangantar Nayna pulang," kembali tante Ratih memberi perintah dengan lembut.
Bik ijah mengangguk dan mengerjakan semua perintah nyonya majikannya itu.
__ADS_1